MUI bicara Kiblat

Kiblat itu ke sini

Kiblat itu ke sini

Ayat pertama kali turun di dalam Al-Qur’an adalah “Bacalah”, dan bukan “Sholatlah”. Ini berarti kita harus berilmu dahulu sebelum beribadah. Kita harus mengetahui terlebih dahulu sebelum berbuat. Kata orang Jawa, jangan “Jarkoni”, sukanya mengajarkan tetapi tidak pernah nglakoni / mempraktekkan.

Kiblat versi MUI:

Sebelumnya, MUI pernah menyatakan lewat RCTI tentang Kiblat. Versi MUI, Kiblat itu cukup menghadap ke BARAT…

Tulisan saya seputar ini ada di halaman ini.

MUI bicara Kiblat:

Terahir, di TVOne, MUI menyatakan bahwa kiblat kita melenceng sebesar 30 centimeter.

Sejak kapan, satuan sudut berubah menjadi satuan panjang. Sejak kapan besaran sudut sama dengan besaran panjang. Saya mengajarkan ilmu mendasar ini di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah, bukan di S3 ITB.

Kiblat kita menyimpang dikarenakan pergeseran lempeng Bumi.

Sejak kapan kita merasakan kota atau desa berubah jaraknya dengan desa atau kota lainnya. Sejak ratusan lalu, Panjang Pulau Jawa juga tetap 1.000 km. Pulau Jawa memang pernah bersatu dengan Sumatera dan Kalimantan, namun itu ribuan bahkan jutaan tahun lalu. Dan akan bergeser juga setelah ribuan tahun bahkan jutaan atau milyaran tahun ke depan.

Bagi pengguna FB, silahkan buka halaman video ini.

Di beberapa media kita dapat menjumpai berita seperti ini…

MUI Minta Masjid Menyesuaikan Arah Kiblat: (Kesra)

KESRA– 19 MARET: Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masjid di Indonesia menyesuaikan arah kiblat agar tepat mengarah Kabah di Kota Mekkah, Arab Saudi. Namun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan hal i tidak perlu, dan cukup mengarah ke Mekkah.

Alasannya, akibat pergeseran lempengan bumi, arah kiblat dari Indonesia ke Mekkah bergeser sekitar 30 centimeter lebih ke kanan.

Karena itu, arah kiblat masjid perlu disesuaikan. ‘’Jadi, harus disesuaikan dengan penemuan terbaru. Kalau melenceng 1-2 atau 5 cm tidak begitu masalah. Ini kan bergeser cukup besar sekitar 30 centimeter lebih,’’ ujar Ketua MUI, KH Amidhan, Kamis (18/3) di Jakarta.

Pandangan MUI berbeda dengan seruan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Melalui Ketua Syuriah PBNU, KH Hafid Usman, ormas ini meminta agar masjid tak perlu mengubah arah kiblat. Bagi NU, memperkirakan ke arah kiblat sudah cukup meski bisa jadi arahnya tak tepat benar.

Amidhan menambahkan, MUI menganjurkan bagi masyarakat yang tengah membangun masjid baru agar menyesuaikan arah kiblat dengan penemuan terbaru. Sedangkan, bagi masjid lama, warga sekitar diminta untuk melakukan penyesuaian arah kiblat. ‘’Harus diusahakan tepat, mungkin garis shaf-nya diubah dengan cat,’’ katanya.

Dalam hukum Islam, Amidhan mengakui shalat memang bisa menghadap ke arah bukan kiblat. Namun, hal itu boleh dilakukan dalam kondisi darurat seperti saat bepergian di dalam mobil atau pesawat terbang.

‘’Kalau normal, ya harus sesuai dengan penelitian arah kiblat yang benar,’’ katanya.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementeriaan Agama, Dr Rohadi Abdul Fatah, mengungkapkan bahwa sekitar 20 persen masjid dari 763 ribu masjid di Indonesia tidak mengarah kiblat dengan tepat.

Perubahan arah tersebut terjadi akibat gempa bumi sehingga menimbulkan pergeseran tanah. Sebelumnya, Direktur Lembaga Rukyatul Hilal Indonesia, Mutoha Arkanuddin, mengatakan ada 80 persen masjid yang tidak mengarah kiblat.

PB NU anggap perlu

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyatakan masjid di Indonesia tidak perlu mengubah arah kiblat asalkan tetap mengarah ke Kota Mekkah, Arab Saudi. Alasannya, Mekkah merupakan kota tempat Kabah berada.

Pendapat organisasi massa Islam terbesar Indonesia ini dilontarkan menyikapi polemik perubahan arah kiblat yang berkembang di masyarakat akibat pergeseran lempeng bumi (gempa bumi).

‘’Termasuk di Indonesia, cukup menghadap letak Kota Mekkah. Jadi, tidak perlu harus ragu shalat di sini,’’ kata Ketua Syuriah PBNU, KH Hafid Usman, di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis, (18/3).

Menurut Hafid, di Masjidil Haram Mekkah, Muslim menunaikan ibadah shalat dengan menghadap Kabah. Sedangkan, orang yang tinggal di luar Masjidil Haram shalat dengan memperkirakan lokasi Kabah. Sementara, bagi muslim yang berada jauh dari Mekkah, ia cukup memperkirakan letak Kota Mekkah.

‘’Orang yang jauh dari Mekkah cukup menghadap ke arah Mekkah,’’ katanya.

Hafid menyebutkan, polemik arah kiblat ini sebetulnya telah lama terjadi. Beberapa waktu lalu, ia yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat bersama Kanwil Kementerian Agama Jabar mengukur arah kiblat salah satu mesjid kesultanan Cirebon. Setelah diukur, ternyata arah kiblat masjid tidak begitu tepat menghadap Kabah.

‘’Kata masyarakat saat itu, mana mungkin wali dulu salah. Tidak mugkin. Jadi, masalah ini kembalikan saja kepada fikih,’’ katanya.  (roh)

Terkahir, saya hanya berdo’a, semoga MUI tidak lagi menampilkan hal-hal yang membuat saya sebagai ummat Islam di kampung-malu. Saya bangga kalau MUI menyampaikan pesan kepada generasi mudah untuk rajin sholat, rajin tadarus, rajin menghafal al-Qur’an…dan bagi yang rajin ibadah lalu diuji, akan mendapat MUI Award. Ya…MUI Award.

Selanjutnya, setiap tahun dievaluasi, diuji lagi…lama2 akan muncul prestasi yang terus berkembang.

MUI kemudian mengeluarkan kejutan baru… REKOR MUI bagi pelajar dan generasi muda Islam yang mumpuni di bidang ilmu, dan agama.

Lho, ini kan tugasnya Depag….!

Depag sudah tidak ada…yg ada Kemenag. Lagian, Fastabiqul khoiroot… dan tidak ada larangannya dalam Islam, kalau MUI dan siapa saja memberi support bagi anak2 didik masa depan bangsa ini….

Wa Alloh a’lam…[]

About these ads

2 Tanggapan

  1. waaa….ummat bener-bener bingung nich….
    siapa yang harus di anut, MUI katanya tempatnya Ulama….koq statmentnya bikin bingung, dasar pergeseran kiblat juga WAGU.
    MUI masih harus banyak belajar dulu ilmu falak ….

  2. Menurut saya, siaran MUI melalui RCTI yang mengatakan arah kiblat bergeser, itu salah. Arah kiblat tidak bergeser, tetap. Akan tetapi, pengetahuan tentang arah kiblat inilah yang selama ini keliru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: