Kliping 2013

Kumpulan Liputan oleh Media massa selama tahun 2013:

1. Viva News : Peluncuran 1000 Roket

Alamat URL:

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/394320-peringati-hari-tanpa-bayangan–1-000-roket-air-diluncurkan

2. Merdeka dot Com: Hari Tanpa Bayangan

Alamat URL:

http://m.merdeka.com/peristiwa/hari-tanpa-bayangan-santri-di-solo-luncurkan-1000-roket-air.html

3. Viva News: CASA, Klub Astronomi yang Raih Sertifikat NASA

Alamat URL:

http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/427480-casa–klub-astronomi-santri-yang-raih-sertifikat-nasa

3. JogloSemar: Satu Hilal Banyak Tafsir

Alamat URL:

http://joglosemar.co/2013/07/satu-hilal-banyak-tafsir.html

Satu Hilal Banyak Tafsir

Rabu, 10/07/2013 | Pilihan: Tauladan | Editor: 

AR Sugeng Riyadi

AR Sugeng Riyadi

Awal puasa tahun 1434 H atau 2013 ini unik khususnya bagi umat Islam di Indonesia. Taroqah Naqsabandiyah mulai pada 7 Juli, Jamaah An-Nadzir 8 Juli, Muhammadiyah 9 Juli, dan Pemerintah pada 10 Juli. Perbedaan paling signifikan adalah 9 dan 10 Juli antara Muhammadiyah dan Pemerintah. Mengapa bisa terjadi perbedaan, padahal hilalnya hanya satu?

Akar perbedaan adalah pada tafsir atas definisi hilal yang melahirkan kriteria bermacam-macam. Tahun 2012 silam kasusnya sama dan akan terjadi lagi tahun 2014 nanti, di mana 1 Ramadan akan berbeda khususnya antara kriteria hisab Wujudul Hilal (WH) yang dipegang Muhammadiyah dengan hisab Imkan Rukyat (IR) yang dipegangi Pemerintah RI dan diacu jumhur Ormas di Indonesia.

WH mematok batas tinggi hilal minimal nol derajat (asal positif) sementara menurut IR minimal dua derajat. Tinggi hilal nol derajat adalah ketika matahari terbenam di ufuk barat, posisi bulan masih ada bagian yang di atas ufuk. Sedang tinggi dua derajat, ketika matahari terbenam, posisi bulan perlu waktu 8 menit untuk terbenam di ufuk barat. Kedua kriteria ini sama-sama hanya berdasar perhitungan semata alias hisab.

Nah, hilal yang satu yakni bulan yang merupakan satelit bumi itu telah diciptakan Allah SWT untuk berevolusi mengelilingi bumi selama satu bulan sekali. Pada saat tertentu posisi bulan menempel di atas ufuk barat saat matahari terbenam, kadang agak tinggi dan kadang sangat tinggi. Kasus Ramadan 1434 H ini, posisi bulan berada di antara dua kriteria itu, yakni 0,65 derajat di koordinat pelabuhan Ratu atau sekitar 0,44 derajat di koordinat Yogyakarta.

Itulah keunikan tahun 2013 ini. WH dan IR hanya berbeda pada bulan Ramadan saja namun bersama pada selain Ramadan. Secara astronomis, kedua kriteria ini selalu memasuki awal bulan sejak Muharram sampai Dzulhijjah 1434 H selalu bersama-sama. Namun karena tidak ada maklumat WH dan Sidang Isbat IR di setiap mengawali bulan sebelum Ramadan ini, maka serasa seolah Ramadan ini menjadi ajang menumpahkan perbedaan. Semoga ke depannya, WH selalu mengeluarkan maklumat dan IR melakukan Sidang Isbat untuk seluruh bulan dalam kalender hijriyah. Adapun teknis bila dilakukan di awal atau akhir tahun. Dengan ini umat diharapkan mafhum, bahwa ada banyak kesamaan ketimbang perbedaan yang mestinya kita kembangkan dan bukan sebaliknya.

Ukuwah

Hakikat alam antara akhir Sya’ban dan awal Ramadan adalah sama, karena akhir Sya’ban dan/atau awal Ramadan ditentukan dengan terjadinya fenomena alam yakni ijtimak atau konjungsi. Konjungsi adalah peristiwa dimana Matahari dan Bulan berada dalam satu bujur ekliptika. Secara astronomis, konjungsi geosentris/ijtimak hakiki akhir Sya’ban 1434 H akan terjadi pada Senin Pon tanggal 8 Juli pukul 14:15.32 WIB. Fenomena konjungsi ini tidak nampak secara visual karena posisi Matahari dan Bulan berada pada lintang ekliptika yang berbeda. Fenomena konjungsi secara visual hanya dapat dilihat dari Bumi bila bujur dan lintang ekliptika antara Bulan dan Matahari berimpit, yakni saat terjadinya Gerhana Matahari.

Sebenarnya ada hikmah agung di balik perbedaan 1 Ramadan 1434 H yang akhirnya berujung perbedaan ini, yakni  esensi berpuasa yang bermakna menahan diri. Kita umat Islam diminta Allah agar mampu menahan diri dari mengedepankan nafsu, namun sebaliknya mengutamakan kedamaian dan keikhlasan beribadah dan bermuamalah demi menjalin ukhuwah islamiyah. Hal ini tercermin dari hanya 1 bulan saja WH dan IR berbeda, namun 11 bulan lainnya sama dan serempak.

Bagi saudara yang meyakini hisab WH sebagai patokan permulaan Ramadan, janganlah merasa keyakinannya paling benar dan lainnya salah; sebaliknya yang meyakini hisab IR atau bahkan rukyat sebagai patokan juga bersikap serupa. Biarlah awal puasa berbeda, namun semuanya tetap pada satu tujuan yakni ridha Allah SWT, satu panutan yakni Rasulullah Muhammad SAW, satu pedoman yakni Alquran dan As-Sunnah. Wa Allah a’lam.

AR Sugeng Riyadi | Pengasuh Ponpes Assalaam Sukoharjo

4. SoloPos dot Com : Gagasan: Parsel dari Allah

Alamat URL:

http://www.solopos.com/2013/07/26/gagasan-parsel-dari-allah-431053

Detail berita:

GAGASAN : Parsel dari Allah

Jumat, 26 Juli 2013 08:07 WIB | | Dilihat: 223 Kali

 

AR Sugeng Riyadi  pakarfisika@gmail.com   Pengasuh Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Sukoharjo

AR Sugeng Riyadi
pakarfisika@gmail.com
Pengasuh Pondok Pesantren
Modern Islam Assalaam
Sukoharjo

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Q.S. Al-Qadr [97]:1-5).

Malam kemuliaan yang dimaksud adalah lailatulkadar yang merupakan ”parsel/bingkisan” dari Allah untuk hamba-Nya yang lulus menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Bingkisan itu berupa paket usia yang mampu menembus dimensi waktu. Usia manusia dulu sampai kini akan bertemu di malam lailatulkadar ini.

Allah telah memilih Ramadan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebut di dalam Alquran. ”Beberapa hari yang ditentukan itu (ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (Q.S. Al-Baqoroh [2]:185).

Kejadian-kejadian penting terjadi pada bulan Ramadan, yaitu  diturunkannya kitab suci Alquran, diturunkannya kitab-kitab suci sebeum Alqutan, terjadinya Perang Badr, terbukanya kota Mekah (fathul Makkah), pelaksanaan puasa dan pemindahan arah kiblat, dan bulan yang dipilih Allah untuk turunnya keutamaan lailatulkadar.

Selama bulan Ramadan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yakni lailatulkadar, satu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan? Umat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1.000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan umat dahulu ada yang belum mencapai usia balig (cukup umur) hingga usia 80 tahun.

Sebuah riwayat menjelaskan ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun. Serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda. Juga diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Umat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti Nabi Nuh AS yang berusia lebih dari 1.000 tahun, Luqman bin Ka’ab berumur 400 tahun, dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.

Rasulullah SAW ketika merasakan bahwa usia umatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia umat sebelumnya kemudian memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia umat Islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk memperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari doa Nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi dan umat Islam suatu malam yang disebut lailatulkadar yang nilai kebaikannya setara dengan 1.000 bulan.

Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan roh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam=1.000 bulan=30.000 malam=300.000 jam=18.000.000 menit=1.080.000.000 detik, atau 1 malam=83 tahun 4 bulan.

Allah menjelaskan para malaikat dan roh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi karena untuk berpindah dimensi, dalam teori kuantum malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan, dan P=parity, keseimbangan) dan memperlambat kecepatannya (kecepatan cahaya) mendekati kecepatan partikel.

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/detik.

Pada malam lailatulkadar, bermiliar malaikat turun ke bumi. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Inilah rahasia mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam lailatulkadar pada bulan suci Ramadan ini.

Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertakarub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar sehingga manusia tidak akan mampu melihat apa pun kecuali dengan mata hati/batinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyuk untuk mengoptimalkan potensi rohaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain–mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya.

Semalam=1.000 Bulan

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah lailatulkadar. Kita ambil contoh, bila Fulan telah berusia 30 tahun ia telah menjalankan ibadah Ramadan semenjak usia 15 tahun, berarti ia telah menjumpai lailatulkadar 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniai lailatulkadar oleh Allah 12 kali saja (yang tiga tahun selebihnya bolong-bolong), saat ini Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan lailatulkadar sebagai berikut: U=Ui+(n x 83,4). Di mana U=usia Fulan yang mendapatkan lailatulkadar (tahun). Ui=usia Fulan mula-mula (tahun). Sedangkan n=orde lailatulkadar (tanpa satuan). Bilangan 83,4=83 tahun sisa empat bulan.

Jadi usia Fulan saat ini adalah: U=30+(12 x 83,4) tahun=30 tahun+(996 tahun+48 bulan)=30 tahun+996 tahun+4 tahun=1.030 tahun. Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet Bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara Fulan telah 1.000 tahun lebih. Dan dengan analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun. Dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan lailatulkadar, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun empat bulan.

Berapakah usia-U anda selepas Ramadan 1434 H ini? Jawabnya adalah mengetahui berapa orde lailatulkadar, yakni dua faktor berikut. Pertama, istikamah menjalankan amalan Ramadan secara imaniah-ihtisaabiahKedua, amalan selama Ramadan 1434 ini membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca-Ramadan. Sabda Rasulullah: Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya (H.R. Tirmidzi). Semoga kita mendapat parsel Lebaran  lailatulkadar tahun ini. Amin…

5. ————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: