Andalan

Bumi Bulat vs Bumi Datar

Bumi Bulat Bumi Datar
Bumi Bulat Bumi Datar

Bumi itu Bulat atau Bumi itu Datar. Ramai juga ya bahasan tentang bentuk Bumi belakangan ini… 🙂 Hemat saya sih, kita buktiin sendiri dan ndak perlu nyalahkan sana-sini. Saya pikir ndak ada efeknya apa2 deh, tuk kita. Emang kalau yakin Bumi Bulat jadi pinter lalu yg yakin Datar jadi bodoh, atau sebaliknya? Sama sekali ndak bikin efek tuk kita. Maka mari kita tetap enjoy saja….(y) . Nah ini salah satu hasil observasi saya. Lainnya kapan2 saya publish.

Lanjutkan membaca “Bumi Bulat vs Bumi Datar”

Iklan

Qurban Perspektif Sains

Menyembelih cara Islam
Menyembelih cara Islam

Kala itu Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia setelah beredar video kekejaman terhadap sapi Australia. Industri sapi ternak Australia menginginkan RPH (Rumah Pemotongan Hewan) di Indonesia memberlakukan standard World Organisation for Animal Health (OIE) salah satu isinya yaitu sapi dibuat pingsan dulu (stunning) sebelum disembelih. Lebih ‘berprikehewanankah’ cara itu dibandingkan sapi disembelih dalam keadaan sadar? Sains membuktikan bahwa cara Islam lebih ‘berprikehewanan’ lho (y)

Lanjutkan membaca “Qurban Perspektif Sains”

Gelombang Suara

Gelombang Suara
Gelombang Suara

Diantara materi yang cukup sulit dipahamkan ke anak didik adalah tentang Gelombang, mekanik dan elektromagnetik. Pada materi gelombang suara (mekanik),  saya pastikan mereka melakukan praktikum menentukan kecepatan suara di udara dengan bantuan alat peraga. Alat tersebut adalah: Kabel seperlunya, Speaker, PSA, AFG, Pipa Organa, Sumber listrik (PLN), serta penggaris dan alat tulis.

Lanjutkan membaca “Gelombang Suara”

Google Earth 2009: Semakin ‘kaya’

GE 5.0, kereen
GE 5.0, kereen

GE or Google Earth adalah virtual globe sebuah program yang awalnya dikenal dengan Earth Viewer, dan dibuat oleh Keyhole, Inc, sebuah perusahaan yang diakuisi Google tahun 2004. GE memetakan bumi lewat gambar-gambar superimposition yang diambil dari satellite imagery, aerial photography dan globe GIS 3D. Pokoknya semkian ‘kaya’ dan semakin membuat kita penasaran.

Lanjutkan membaca “Google Earth 2009: Semakin ‘kaya’”

Josroyo menuju Kiblat

Kiblat Josroyo
Kiblat Josroyo

Perumahan Josroyo Indah adalah satu komplek perumahan di kawasan Jaten kabupaten Karanganyar. Perumahan ini memiliki tiga buah masjid, masing-masing dari barat ke timur dan dari yang paling tua ke yang muda; Muhajirin, Bani Saud, dan Istiqomah. Dari ketiga masjid ini, maka Masjid Muhajirin dan masjid Bani Saud secara resmi terhitung mulai sholat Shubuh pada hari Ahad, 7 Desember 2008 bertepatan dengan hari arofah 1429 H telah menghadap Kiblat sesuai kaidah Falakiyah Komtemporer.

Lanjutkan membaca “Josroyo menuju Kiblat”

Ceramah Ramadhan: Syukur Menambah Nikmat

Allah menegaskan dalam salah satu ayat-Nya “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7)”. Ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih. Bersyukur, selain menyehatkan jiwa-raga,  juga mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. 

Lanjutkan membaca “Ceramah Ramadhan: Syukur Menambah Nikmat”

Diskusi Ahli di Tremas

Kamis, 3 April 2008 saya mendapat undangan untuk menjadi salah satu nara sumber pada Diskusi Ahli di Pondok Pesantren Tremas di Pacitan. Rabu sore, saya sudah tiba di Pacitan di Hotel Permata 1 jl Gatot Subroto. Awalnya saya agak buta dengan kota Pacitan, apalagi jalan apa gitu…Tetapi dengan bantuan Google Earth sebelum saya berangkat saya melihat bahwa hotel Permata 1 di jalan Gatot Subroto, arahnya sedikit ke timur laut dari Terminal kota Pacitan.

Lanjutkan membaca “Diskusi Ahli di Tremas”

Atlantis siap diluncur

atlantis_pakarfisika.jpg

 Atlantis, saat landing pada misi terakhir

Badan Ruang Antariksa Amerika Serikat (NASA) tetap bertahan dengan rencananya untuk meluncurkan pesawat ulang-alik ruang angkasa Atlantis.
Menurut para prakirawan cuaca, terdapat kemungkinan hingga 70 persen peluang cuaca hujan, berawan disertai petir pada jadwal peluncuran Atlantis. Perjalanan Atlantis yang bermisikan pengiriman lab ilmiah Eropa Columbus ke stasiun ruang angkasa internasional telah 2 bulan ditunda.

Kerusakan pada sensor bahan bakar mengakibatkan Atlantis dilarang untuk diluncurkan pada Desember 2007. Para teknisi telah bekerja siang-malam dan selama masa liburan untuk memperbaiki kerusakan sensor yang diakibatkan oleh gangguan konektor pada tangki eksternal bahan bakar Atlantis.
Walaupun yakin terhadap hasil perbaikannya, NASA mengakui akan memonitor lebih seksama sensor bahan bakar pada saat proses pengisian bahan bakar Atlantis berlangsung. NASA menjelaskan sedikitnya 3 dari 4 sensor bahan bakar harus beroperasi dengan normal saat tangki Atlantis terisi bahan bakar sehingga pesawat ulang-alik ini dapat diluncurkan. Sensor bahan bakar merupakan sistem keamanan penting untuk menjamin agar mesin utama tidak beroperasi di saat tangki bahan bakar secara tidak diduga kosong selama Atlantis meluncur ke orbit dalam waktu delapan setengah menit.
Columbus yang bernilai 2 miliar dolar AS merupakan lab berteknologi tinggi dan kontribusi utama Badan Ruang Angkasa Eropa bagi stasiun ruang antariksa internasional. Dalam proses produksinya yang memakan waktu 23 tahun, lab Columbus telah mengalami beberapa kali desain ulang serta sejumlah penundaan peluncuran.
Selain mengantarkan Columbus dalam misinya, Atlantis juga akan mengirim seorang penghuni baru stasiun ruang antariksa internasional, yaitu seorang jenderal Angkatan Udara Prancis yang akan menggantikan misi astronot NASA Daniel Tani serta mengoperasikan Colombus. Daniel Tani akan kembali ke Bumi dengan menumpangi Atlantis untuk mengakhiri misinya selama hampir empat setengah bulan di stasiun ruang antariksa internasional.
NASA berupaya keras untuk meluncurkan Atlantis secepat mungkin untuk mempertahankan rencana meluncurkan 6 pesawat ulang-alik pada tahun 2008. Pada tahun 2010, NASA dihadapkan pada tenggat waktu untuk menyelesaikan misi di stasiun ruang angka internasional dan memensiunkan misi pesawat ulang- aliknya.

kompas dot com

Ilmuwan NASA temukan jalan ke pusat Bumi

Humans have yet to see Earth’s center, as did the characters in Jules Verne’s science fiction classic, ‘Journey to the Center of the Earth.’ But a new NASA study proposes a novel technique to pinpoint more precisely the location of Earth’s center of mass and how it moves through space.

Knowing the location of the center of mass, determined using measurements from sites on Earth’s surface, is important because it provides the reference frame through which scientists determine the relative motions of positions on Earth’s surface, in its atmosphere and in space. This information is vital to the study of global sea level change, earthquakes, volcanoes and Earth’s response to the retreat of ice sheets after the last ice age.

The accuracy of estimates of the motion of Earth’s center of mass is uncertain, but likely ranges from 2 to 5 millimeters (.08 to .20 inches) a year. Donald Argus of NASA’s Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif., developed the new technique, which estimates Earth’s center of mass to within 1 millimeter (.04 inches) a year by precisely positioning sites on Earth’s surface using a combination of four space-based techniques. The four techniques were developed and/or operated by NASA in partnership with other national and international agencies. Results of the new study appear in the June issue of Geophysical Journal International.

Scientists currently define Earth’s center in two ways: as the mass center of solid Earth or as the mass center of Earth’s entire system, which combines solid Earth, ice sheets, oceans and atmosphere. Argus says there is room for improvement in these estimates.

‘The past two international estimates of the motion of the Earth system’s mass center, made in 2000 and 2005, differ by 1.8 millimeters (.07 inches) a year,’ he said. ‘This discrepancy suggests the motion of Earth’s mass center is not as well known as we’d like.’

Argus argues that movements in the mass of Earth’s atmosphere and oceans are seasonal and do not accumulate enough to change Earth’s mass center. He therefore believes the mass center of solid Earth provides a more accurate reference frame.

‘By its very nature, Earth’s reference frame is moderately uncertain no matter how it is defined,’ Argus said. ‘The problem is very much akin to measuring the center of mass of a glob of Jell-O, because Earth is constantly changing shape due to tectonic and climatic forces. This new reference frame takes us a step closer to pinpointing Earth’s exact center.’

Argus says this new reference frame could make important contributions to understanding global climate change. The inference that Earth is warming comes partly from observations of global sea level rise, believed to be due to ice sheets melting in Greenland, Antarctica and elsewhere. In recent years, global sea level has been rising faster, with the current rate at about 3 millimeters (.12 inches) a year. Uncertainties in the accuracy of the motion of Earth’s center of mass result in significant uncertainties in measuring this rate of change.

‘Knowing the relative motions of the mass center of Earth’s system and the mass center of the solid Earth can help scientists better determine the rate at which ice in Greenland and Antarctica is melting into the ocean,’ Argus explained. He said the new frame of reference will improve estimates of sea level rise from satellite altimeters like the NASA/French Space Agency Jason satellite, which rely on measurements of the location and motion of the mass center of Earth’s system.

‘For scientists studying post-glacial rebound, this new reference frame helps them better understand how viscous [gooey or sticky] Earth’s solid mantle is, which affects how fast Earth’s crust rises in response to the retreat of the massive ice sheets that covered areas such as Canada 20,000 years ago,’ he said. ‘As a result, they’ll be able to make more accurate estimates of these vertical motions and can improve model predictions.’

Scientists can also use the new information to more accurately determine plate motions along fault zones, improving our understanding of earthquake and volcanic processes.

The new technique combines data from a high-precision network of global positioning system receivers; a network of laser stations that track high-orbiting geodetic satellites called Laser Geodynamics Satellites, or Lageos; a network of radio telescopes that measure the position of Earth with respect to quasars at the edge of the universe, known as very long baseline interferometry; and a French network of precise satellite tracking instruments called Doppler Orbit and Radiopositioning Integrated by Satellite, or DORIS.

Original News.