Seminar Waktu Shubuh 2018

Kamis, 3 Mei 2018 telah digelar Seminar Nasional bertajuk “Mempertanyakan Temuan Waktu Shalat Isya’ dan Shubuh Baru”. Seminar menghadirkan 4 Narasumber: Prof. Tono Saksono (ISRN-UHAMKA), Ustadz AR Sugeng Riyadi (Assalaam Observatory), Dr. Ahmad Izzuddin dan Kyai Slamet Khambali (UIN Walisongo). Peserta masyarakat umum dan mayoritas mahasiswa Ilmu Falak UIN WS, baik yang S1, S2 maupun S3. Peserta paling jauh ada dua mahasiswa dari UIN Sunan Ampel Surabaya.

PEMBUKAAN
Panitia:

Mahfudz, tema seminar ini diangkat krn pentingnya amaliyah shalat. “Hidup Mahasiswa..!”,

Ahmad Nur Fadhullaah, Ketua Dema FSH.
Seminar ini merupakan rangkaian Pekan Raya FSH.

M. Arifin, SAg MHum, Wakil Dekan III.
Forum ini masuk “man sanna sunnatan hasanatan”, sangat perlu kita ikuti dan kita amalkan. Mari kita buka dgn “basmalah”.

PAPARAN NARASUMBER

Prof. Tono:
——–
Sudut matahari -18 : masih gelap untuk aktifitas.
Tapi kita kok shubuh pd -20?
Twilight di Ekuator lebih rendah dari lintang tinggi.
Dari riset saya dan Tim ISRN-UHAMKA, Saya mengusulkan agar awal Shubuh di posisi dip = -13°.
Saya ndak setuju kalau menentukan awal fajar pakai kira2, harus ada standar yang ilmiah.
Tapi saya sekedar menyumbang data, biarkan ulama yg memutuskan.
Hanya logika saya, kalau pakai 13 maka yg 17 sudah terakomodasi apalagi 20. Tapi bukan, jika sebaliknya.

.

Pak AR:
——-
Ini bukan hal baru, tahun 2009 pernah dikoreksi. Tahun 2010 pernah ada Seminar Nasional Waktu Shubuh di Assalaam, narasumber Prof. Thomas (Pemerintah, Astronom) dan Ustadz Agus Hasan Bashori (Qiblati).

Qiblati kala itu usulkan DIP= -15° sesuai hasil pengamatan di lapangan. Karena pengamatan masih lokal, maka Seminar sumpulkan bahwa Waktu Shubuh versi Kemenag masih berlaku dan mengusulkan Pemerintah untuk bentuk Tim Rukyat Fajar.

Sesuai observasi terkini di Labuan Bajo NTT, maka fajar shadiq sudah mampu dikesani dengan bantuan DSLR adalah pada dip = -18°. Meski ada peserta rukyat fajar yang mampu mengesani awal fajar di posisi dip = -19°. Dari datanini, maka usulan dip di bawahnya jelas tidak akurat.

Namun, karena sejauh ini blm ada data akurat yang mampu mewakili seluruh wilayah NKRI, maka patokan Waktu Shubuh yang dipedomani Pemerintah RI masih berlaku bagi ummat Islam di Indonesia.

.

Kyai Slamet Khambali:
——-
Secara fiqih, ndak ada masalah. DIP = -20° adalah ijtihad ulama falak yakni Sa’adoeddin Djambek.

Saat observasi di NTT, kita belum bisa mengenali wajah masing2. Namun setelah beberapa saat terdengar adzan, remang2 kita sudah bisa saling mengenali wajah kita. Ini artinya, fajar sudah muncul, lalu kita shalat shubuh berjamaah.

.

Dr. Ahmad Izzuddin:
——-
Ada edaran MUI yang menyatakan bahwa setiap publikasi yang berkaitan taqwim dan waktu shalat harus mengacu pada Pedoman yang dikeluarkan Deoag (Kemenag).

Perlu adanya SOP observasi Fajar supaya tidak bias.
Selama blm ada data yang konprehensif, kita pakai standar Pemerintah, DIP = -20°.

.

Selepas paparan dari keempat Narasumber, rangkaian Seminar diakhiri dengan sessi tanya-jawab dan foto bersama kemudian ditutup pada pukul 12:45 waktu setempat.

SIMPULAN

Seminar menghasilkan rangkuman beberapa point:

1. Prof. Tono Saksono, mengusulkan Awal Shubuh di Indonesia.pada dip = -13°

2. Hasil observasi fajar di Labuan Bajo NTT setelah dianalisis dengan teknik imaging, Prof. Tono Saksono menolak adanya tanda fajar pada dip -20° maupun dip -19°. Namun beliau menerima adanya fajar pada dip -16° bahkan pada dip -17°.

3. Temuan Prof. Tono Saksono, SDA = -13° blm bisa menggugurkan kriteria Pemerintah RI, karena wilayah observasinya masih bersifat lokal.

4. Awal Shubuh masih menggunakan kriteria Pemerintah RI, yakni SDA = -20°.

5. Diharapkan segera ada SOP Observasi Fajar yang dirumuskan oleh Tim Khusus yang dibentuk Pemerintah RI.

6. Disepakati adanya “Gerakan Ummat Memburu Fajar”. ISRN-UHMKA akan adakan observasi fajar bersama.

=====salamnayatlangit======

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s