Andai Tak Ada Hujan

Hujan, Air Jadi Tawar

Hujan, Air Jadi Tawar

Hujan adalah karunia-Nya. Andai tak ada hujan, maka kehidupan ini akan punah. Manusia perlu air bersih dan tawar untuk melangsungkan hidupnya. Betapa kini air mineral menjadi barang yang mahal…? Padahal doeloe kita anggap tidak berharga. Karena kita memang tergantung oleh air bersih dan tawar untuk bisa menjadi sehat jasmani. Sehat jasmani akan menopang kesehatan rohani. So, mari bersyukur dan berdoa’ ketika hujan turun, “Allahumma Shoiban Naafi’an” …

Seperti telah kita ketahui, air hujan berasal dari penguapan air dan 97% merupakan penguapan air laut yang asin. Namun, air hujan adalah tawar. Air Hujan bersifat tawar karena adanya proses fisika yang telah ditetapkan Allah.

Berdasarkan sunnatullah ini, darimanapun asalnya penguapan air ini, baik dari air laut yang asin, atau dari danau yang mengandung banyak mineral, atau dari dalam lumpur, airnya yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain apapun dari asalnya.

Allah SWT berfirman:

Maka terangkanlah kepadaKu tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami hendaki , niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS Al-Waaqiah [56]:68-70)

…dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar?” (QS. Al-Mursalat [77]:27)

Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu” (QS. An-Nahl [16]:10)

Air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai dengan ketentuan Allah :

“ ….Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS. Al-Furqan [25]:48)

HUJAN dalam AL-QUR’AN:

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan..

Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan,

Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (QS. Ar-Ruum [30]:48)


Gambar di atas memperlihatkan butiran-butiran air yang lepas ke udara. Ini adalah tahap pertama dalam proses pembentukan hujan. Setelah itu, butiran-butiran air dalam awan yang baru saja terbentuk akan melayang di udara untuk kemudian menebal, menjadi jenuh, dan turun sebagai hujan. Seluruh tahapan ini disebutkan dalam Al Qur’an.

Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan:

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan” (QS. An-Nuur [24]:43)

Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula.

Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut:

TAHAP – 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

TAHAP – 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

TAHAP – 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; and Jack C. Thompson, 1975, Elements of Meteorology, s. 141-142)

Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.

AIR HUJAN menurut ISLAM dan FISIKA:

Hujan merupakan anugerah yang diberikan Allah SWT bagi semua makhluk di alam semesta. Tetesan air yang turun dari langit menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup. Setiap tahun 3-4 miliar liter air dibawa dari lautan menuju daratan untuk dapat dinikmati dan dimanfaatkan manusia. Allah berfirman:
Dan (Dialah) yang menurunkan hujan dari langit menurut kadar tertentu, lalu Kami hidupkan dengan hujan itu negeri yang kering tandus. (QS. Az-Zukhruf [43]: 11)
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa hujan yang turun ke bumi itu berdasarkan kadar/takaran yang tepat. Takaran yang tepat tersebut mempunyai dua makna, yaitu Jumlah air hujan yang turun sesuai peruntukannya, dan kecepatan turunnya hujan. Disini saya akan membahas kecepatan turunnya air hujan. karena ada sebuah keajaiban pada kecepatan turunnya air hujan.
Selama bertahun tahun para ilmuan bingung menjelaskan kenapa rata-rata kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam. Karena menurut TEORI GERAK JATUH BEBAS, dengan mengabaikan gaya gesek kecepatan minimal hujan + 552,96 km/jam. Mengapa bisa segitu?
Ketinggian minimum awan hujan adalah 1200 meter, jadi kecepatan turunnya air hujan adalah (gaya gesek diabaikan)

Coba bayangkan ketika kalian ditabrak oleh sebuah benda dengan kecepatan segitu. apa yang akan terjadi?? dengan kecepatan seperti itu, mobil sekelas F1 atau moto GP pun tidak bisa menandingi hujan. Efek yang ditimbulkan SATU TETES AIR HUJAN yang jatuh dari ketinggian 1200 m sama dengan benda seberat 1 kg dijatuhkan dari ketinggian 15 cm.
Dengan melihat Volume air hujan yang sebesar itu maka satu tetes air hujan dapat menembus ke dalam tubuh kita atau minimal membuat memar. Tidak hanya itu, ketinggian maksimal awan hujan adalah 10.000. dengan ketinggian segitu kecepatan air hujan adalah (gaya gesek diabaikan)
Efek yang ditimbulkan SATU TETES AIR HUJAN yang jatuh dari ketinggian 10.000 m sama dengan benda seberat 1 kg dijatuhkan dari ketinggian 110 cm. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana efeknya. Tetapi faktanya air hujan begitu lembut ketika jatuh ke bumi.
Bagaimana bila gaya gesek diperhitungkan (ketinggian 1200 meter)

Dengan memperhitungkan gaya gesek, juga belum bisa menjawab kenapa kecepatan turun hujan hanya 8 km/jam. Para ilmuan saat ini sepakat bahwa, air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer, kemudian air hujan terurai unsurnya sehingga menjadikan air hujan lebih ringan dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, andaikan hujan tidak terurai atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan). Namun yang masih menjadi pertanyaan, hingga kini para ilmuwan belum menemukan apa yg menyebabkan tetesan air hujan bisa memiliki bentuk khusus dan terurai unsurnya.

Subhanallah, ketika Allah sudah berkehendak maka apapun bisa terjadi. Bagaimana bila nikmat ini dicabut? dengan hujan saja Bumi dan manusia bisa hancur.
Sungguh, nikmat mana lagi dari Allah SWT yang kamu DUSTAKAN???
Ada banyak sekali tanda-tanda Kebesaran Allah bagi kamu yang mau BERFIKIR..!
Andai Tak Ada Hujan…
Referensi:
  • EraMuslim.Com
  • KeajaibanAlquran.Com
  • DuanggaKingdom.Blogspot.Com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: