Hakikat Pergerakan Matahari

Demi Matahari...

Demi Matahari…

Menurut Al-Qur’an, ternyata pergerakan Matahari itu dikatakan (cukup) beredar saja dan tidak menyebut salah satu dari jenis pergerakan yang selama ini kita kenal, yakni Heliosentris atau Geosentris, atau teori modern sekalipun. Mengapa Al-Qur’an bersikap demikian..? Inilah rahasia Allah yang menjadikan nilai-nilai dalam Al-Qur’an itu benar-benar mukjizat…

 

Inilah kelanjutan dari tulisan yang pernah saya posting di awal 2013, Pergerakan Sang Surya. Dari hasil penelusuran yang saya lakukan di perpustakaan, ternyata hasilnya seperti dalam abstrak di bawah ini:

Al-Qur’ân merupakan dasar pertama dan utama yang berisi informasi dan petunjuk yang mengarahkan manusia ke pemahaman yang benar termasuk di dalamnya pemahaman tentang pergerakan Matahari. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apa konsep pergerakan Matahari menurut Al-Qur’ân.

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan sumber utama Al-Qur’ān dan beberapa kitab tafsir yakni karya : Al-Thobarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Fakhruddin Al-Rāzî, Thanthawî Jauharî (Al-Jawāhir), Muhammad Quraish Shihāb (Al-Mishbāh), dan Kementerian Agama RI (Al-Qurān dan Tafsirnya). Metode pemahaman yang dipakai adalah metode tematik (metode mawdhû’i).

Kesimpulan yang penulis peroleh adalah sebagai berikut : (1). Konsep Pergerakan Matahari menurut Al-Qur’ân adalah Matahari bergerak atau beredar pada tempat peredarannya. Pergerakan ini serupa seperti peredaran Bulan yang akan kembali ke tempat permulaannya setelah melakukan satu kali peredaran. (2). Konsep Pergerakan Matahari menurut Al-Qur’ân adalah Matahari tidak disebutkan bergerak/beredar mengelilingi atau dikelilingi oleh Bumi. Hal ini akan memberikan jaminan kepastian kepada otentisitas kitab suci Al-Qur’an, dimana penemuan ilmiah manusia kapan dan dimana pun tentang Pergerakan Matahari tetap tidak akan mempengaruhi makna yang tertuang dari Al-Qur’ân. (3). Pergerakan Matahari menurut Al-Qur’ân memberikan manfaat bagi kehidupan manusia sehingga kehidupan ini dapat terus berlangsung. Karena bila Matahari diam, maka perubahan musim di Bumi tidak akan ada dan kehidupan di Bumi akan lebih cepat punah. (4). Pemahaman terhadap Pergerakan Matahari juga memberikan manfaat bagi ummat Islam untuk kepentingan ibadah mahdloh yakni penentuan awal waktu salat, arah kiblat, penyusunan taqwim dan kemunculan gerhana Matahari dan Bulan.

Sebagai seorang muslim, wajib beriman kepada kebenaran Al-Qur’ân yang diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi manusia.  Al-Qur’ân sebagai petunjuk manusia meskipun mengajak menusia untuk berfikir dan merenungkan tentang alam akan tetapi tidak secara real memberikan pengetahuan yang lebih rinci dan detail tentang bagaimana alam berperilaku mengikuti sunnatullah  sebagaimana disiplin ilmu sains, karena memang Al-Qur’ân bukan kitab sains.

Oleh karena itu konsep pemahaman Pergerakan Matahari harus berdasarkan keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’ân yang mutlak sifatnya. Dalam konteks ini, pemahaman bahwa Matahari mengelilingi Bumi berdasarkan fakta dan realita pengalaman manusia sehari-hari dimana saat pagi hari matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat saat senja hari tetap tidak sesuai dengan pernyataan yang sudah qath’i di dalam kitab suci Al-Qur’ân. Begitu pula menurut perspektif yang lain, dimana dengan adanya perkembangan teknologi pesawat luar angkasa yang mampu menembus atmosfer Bumi dan menempatkan teleskop di luar angkasa, kemudian dipahami bahwa  Bumi mengelilingi Matahari pun tidaklah tepat dan tidak sesuai dengan ketetapan yang sudah qath’i dari Allah.

Berdasarkan pada kajian terhadap ayat-ayat Pergerakan Matahari dan juga pembahasan kitab-kitab tafsir (ilmiah) seperti dalam abstrak di atas,  maka saya berpendapat bahwa Paradigma berfikir yang tidak mengacu kapada realita empirik dan fakta sains terkait dengan pemahaman Pergerakan Matahari adalah tidak salah; karena justru dengan mengacu kepada sumber yang paling syar’i, yakni kitab suci Al-Qur’ân, kebenaran akan tetap terjaga hingga akhir zaman. Kebenaran yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’ân sudah terbukti tidak lapuk oleh perjalanan waktu. Di saat manusia meyakini bahwa Bumi menjadi pusat pergerakan dan Matahari bergerak mengitarinya (teori geosentris), Al-Qur’ân tidak serta merta dapat disalahkan karena memang di dalam Al-Qur’ân telah termaktub bahwa Matahari melakukan pergerakan dan tidak diam di tempat.

Di saat manusia meyakini bahwa ternyata yang sesuai ilmu pengetahuan yang paling mutakhir (sains modern) adalah Bumi bergerak mengitari Matahari (teori heliosentris), Al-Qur’ân juga tidak serta merta dapat disalahkan, karena di dalam Al-Qur’ân tidak termaktub bahwa Matahari dikitari oleh Bumi.

Allah sengaja tidak mencantumkan penyebutan secara eksplisit perihal pergerakan Matahari agar keabsahan nilai-nilai yang terkadung di dalam Al-Qur’ân  tidak terpengaruh oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang sangat tentatif. Inilah kebenaran yang dibawa Al-Qur’ân, dan hanya Allah SWT yang mampu melakukan hal semacam ini. Inilah salah satu nilai kemukjizatan kitab suci Al-Qur’ân dari sisi metode penyampaian kepada ummat manusia.

 

Wa Allah a’lam … []

10 Tanggapan

  1. […] Hakikat Pergerakan Matahari […]

    Suka

  2. Terima kasih. Tulisan yang inspiratif. Mudah-mudahan bermanfaat. AMIN….

    Suka

  3. ___+
    Gambaran batang magnet
    ——————————–
    kita tau bahwa;

    MATAHARI;
    > di kutub Utara bermuatan [+], Selatan bermuatan [-]
    BUMI
    > di kutub Utara bermuatan [-], Selatan bermuatan [+]

    Dari situlah timbulnya perputaran diantara keduanya.

    Selain Planet mengitari Matahari sebagai pusat edaran di antara planet-planet yang mengitarinya, akan tetapi Matahari bersamaan planet yang mengelilinginya [matahari + planet] juga berputar mengelilingi Galaxy.

    Suka

  4. Kalau akurnya sih menggunakan konsep gerak relatif saja,Pak. Bumi mengelilingi matahari. Berarti bumi bergerak terhadap matahari, dan sebaliknya matahari bergerak terhadap bumi. Acuannya bumi.
    Ini untuk menjembatani pemikiran bahwa kebenaran Alquran bersifat mutlak, tetapi penafsirannya lah yg harus selalu berkembang.
    Kalau Alquran “dibenturkan” dengan konsep heliosentris maupun geosentris terlalu banyak yang harus “disangkal”. Terlalu banyak kebenaran yang harus “dipaksakan”.

    Suka

    • saya percaya mutlak kepada al Quran,tapi kita juga harus mencari tau bahwa matahari bumi dan benda benda langit lainnya itu masing2 beredar kemana….
      orang2 udah pada jauh pergi ke luar angkasa eh masih pada sibuk ngributin matahari mengelilingi bumi.

      Suka

  5. […] sumber : https://pakarfisika.wordpress.com/2013/04/03/hakikat-pergerakan-matahari/ […]

    Suka

  6. BAB V
    RUNTUHNYA TEORI GEOSENTRIS
    DAN TEORI HELIOSENTRIS
    [Diambil dari buku Teori Absolutivitas Edisi Revisi, Rahmat Abdullah, 2013]

    Sejak kemenangan teori Heliosentris dalam menumbangkan teori Geosentris dalam peradaban Barat masa Copernicus, Galilio, Johannes Kepler dan Newton, hingga kini hampir semua manusia di dunia memahami bahwa Bumi mengelilingi Matahari dan bukan sebaliknya bahwa Matahari yang mengelilingi Bumi. Meskipun terjadi perubahan mendasar masa berikutnya dalam ilmu astronomi bahwa ternyata Matahari tidak diam dan tidak pula berada di pusat alam semesta sebagaimana pernyataan Copernicus, Galileo dan Kepler dalam teori Heliosentris mereka.
    Akan tetapi demi mempertahankan teori Heliosentris, telah terjadi pergeseran pandangan. Ada banyak orang yang memaksakan kehendak bahwa teori Heliosentris tidak harus dipahami bahwa Matahari diam dan berada di pusat alam semesta. Mereka hendak memahamkan bahwa teori Heliosentris adalah teori yang menyatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya dimana terdapat 8 planet mengelilinginya. Matahari dikelilingi oleh Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus serta asteroid maupun komet. Mereka mengganti istilah universe (alam semesta) dengan istilah solar system (tata surya) , suatu istilah baru yang belum dikenal di masa renaissance di Eropa pada abad pertengahan.
    Maka ini adalah distrosi sejarah, manipulasi dan rekayasa sains astronomi fisika demi mempertahankan keyakinan mereka. Dalam waktu yang sama, mereka bertujuan hendak menumbangkan teori Geosentris yang sebenarnya telah sama-sama runtuhnya. Mereka tidak mau mengakui runtuhnya teori Heliosentris dengan penemuan-penemuan terbaru melalui eksplorasi luar angkasa. Hingga pada akhirnya, fitnah paham Heliosentris ini telah menyebar luas ke seluruh penjuru dunia, ikut merasuki hampir semua pemikiran manusia juga umat Islam dimanapun mereka berada.
    Betapa banyak para ulama’ kontemporer maupun ilmuwan Muslim abad modern yang terpengaruh oleh paham Heliosentris yang telah mengalami distorsi ini. Dalam waktu yang sama, mereka hendak memaksakan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk ditafsirkan berdasarkan penemuan ilmiah teraktual agar sesuai teori Heliosentris, meskipun ada peluang untuk berubah di masa yang akan datang. Ada sebagian di antara mereka yang membela paham Heliosentris secara mutlak sekaligus ikut menentang paham Geosentris secara mutlak pula, tanpa memahami hakikat akar persoalan antara teori Geosentris dan Heliosentris. Bahkan juga tidak memperhatikan akibat fatal takfirul ’am (vonis kufur secara umum) yang akan menimpa kaum Muslimin, yang telah terlanjur akut menganut paham Heliosentris selama ini.
    Bagi siapa saja yang tidak jeli memikirkan akar persoalan ini, memang tampak sangat nyata kontradiktif kedua teori ini. Apabila Geosentris mengajarkan Bumi diam menjadi pusat alam semesta berkonsekuensi Matahari mengelilingi Bumi, maka sebaliknya teori Heliosentris menyatakan bahwa Matahari yang diam berada di pusat alam semesta, akibatnya Bumi mengelilingi Matahari. Tampak sangat berlawanan dan bertentangan, bagaikan barat dan timur, seperti kegelapan dengan cahaya terang. Oleh karenanya, dalam bagian ini penulis berkehendak menunjukkan bahwa, baik teori Geosentris maupun teori Heliosentris sama-sama telah runtuh

    Sebenarnya, bagaimana pemahaman teori Heliosentris yang disandarkan kepada tokoh terkenal yang secara keliru dianggap sebagai pencetusnya, Nicolaus Copernicus?. Meskipun dalam bab 2 telah dibahas secara singkat, dalam bagian ini sangat penting untuk ditambahkan keterangan resmi dari tokoh yang dianggap sebagai pencetus Heliosentris tersebut . Setelah menjelaskan urutan posisi bintang dan planet-planet beserta masa periode revolusinya, Copernicus menyatakan dalam buku terkenalnya,“De Revolutionibus (On the Revolutions)”.

    “At rest, however, in the middle of everything is the sun. For in this most beautiful temple, who would place this lamp in another or better position than that from which it can light up the whole thing at the same time? For, the sun is not inappropriately called by some people the lantern of the universe, its mind by others, and its ruler by still others.”

    Perhatikan kata-kata yang digunakan Copernicus,”At rest, in the middle of everythings is the sun”, dalam (keadaan) diam, di pusat segala sesuatu adalah Matahari. Sangat mudah dipahami, apa yang dikehendaki Copernicus adalah bahwa Matahari dalam keadaan diam dan menjadi pusat alam semesta. Matahari menempati sebuah posisi yang indah dan istimewa di tengah-tengah jagad raya. Matahari bagaikan sebagai sebuah lampu pijar yang bersinar menerangi seluruh alam sekitar, dalam waktu yang sama. Sehingga tidak ada tempat yang lebih tepat bagi Matahari ini, selain di tengah-tengahnya alam semesta. Sepantasnyalah Matahari disebut orang-orang dengan lentera cahaya alam semesta sekaligus sebagai rajanya.
    Inilah yang sebenarnya dikatakan Copernicus dalam buku karyanya sendiri. Copernicus tidak menyebut dengan, ”At, rest, the sun in the middle of Solar System” tidak pula menulis dengan kalimat,”the lantern of the Solar System”, yaitu mengganti istilah universe (alam semesta) dengan solar system (tata surya), sebagaimana yang banyak dikatakan para penganut teori Heliosentris masa sekarang ini, yang membela Copernicus serta menyandarkan paham tersebut kepadanya dengan apa-apa yang Copernicus sendiri tidak mengatakan dan tidak pula menuliskannya. Demikian pula para penulis buku pelajaran di sekolahan, yang bisa jadi belum pernah langsung membaca buku ”The revolution of the heavenly spheres” karya Copernicus, mengganti istilah alam semesta dengan tata surya agar sesuai dengan hasil obeservasi astronomi modern.
    Tentang ketidak sesuaian antara fakta ilmiah astronomi modern dengan gambar model Copernicus, Wolfie dalam tulisan “Galileo’s Theory of Relativity” menjelaskan,“Revolusi terkenal tentang ide Heliosentris adalah oleh Nicolas Copernicus dengan sedikit tambahan rumus matematis. Meskipun demikian, Copernicus merasa bahagia, padahal tercatat bahwa gambar model Heliosentrisnya hanyalah sebuah gambar belaka, bukan fakta dan realita”

    Suka

  7. BAB VI
    STUDI KRITIS ATAS BUKU:
    ”MATAHARI MENGELILINGI BUMI” MODEL GEOSENTRIS
    Sesungguhnya kebenaran Islam yang wajib diikuti adalah wasathiyah, yaitu berada di tengah-tengah diantara sikap yang berlebihan lagi melampaui batas pada satu sisi, dan pengabaian serta keterlaluan peremehannya pada sisi yang lain. Apa yang telah tampak nyata di kalangan orang-orang yang berada dalam polemik antara teori Heliosentris dan Geosentris ini adalah mereka yang berlebihan mengatasnamakan Islam dengan mengingkari hukum-hukum fisika yang telah pasti diterima manusia -dimana ia juga merupakan representasi aturan dan hukum Allah atas semesta alam- pada satu sisi, dan mereka yang mendukung teori Heliosentris dengan mengingkari atau memalingkan makna sebagian ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabawy yang telah disepakati ulama Islam pada sisi yang lain.
    Maka kedua sikap ini adalah tercela dan tertolak dari aturan hukum Allah baik berdasarkan ayat-ayat kauniyahNya maupun kalamNya. Oleh karena sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta beserta segala apa yang ada di dalamnya dengan disertai aturan hukum yang wajib atas mereka untuk tunduk dan taat kepada aturan alam yang merupakan sunnatullah tersebut, baik makhluk Allah itu adalah Bumi, Matahari, bulan, planet-planet, bintang, galaksi, langit serta makhluk Allah lainnya yang ada di dalamnya, baik mereka dalam keadaan rela maupun terpaksa.
    Pada sisi lain, Allah juga telah menciptakan manusia dengan disertai petunjuk hidup yang wajib pula atas mereka untuk tunduk dan taat kepada aturan hukum syari’at tersebut. Maka tidaklah mungkin antara aturan hukum Allah yang berlaku atas alam semesta dalam sunnahNya ini bertentangan dan berlawanan dengan aturan hukumNya yang diberlakukan atas manusia. Ini adalah suatu kebenaran aksioma yang dapat diterima oleh setiap orang kecuali mereka yang telah buta penglihatannya, telah hilang akalnya dan telah sakit pula jiwanya.
    Oleh karenanya, jika ternyata terdapat pertentangan antara keduanya, pastilah ada dari keduanya yang keliru. Boleh jadi penemuan sains fisika yang belum terbukti final secara eksperimental dan hanya bersifat hipotesa belaka, atau sudah terbukti secara eksperimental tetapi memilki batasan tertentu atau kemungkinan lainnya adalah keliru dalam penafsiran nash-nash syari’i atau keliru kedua-duanya sekaligus.
    Oleh karena sebagaimana yang telah diketahui secara pasti, bahwa dalam sains fisika hukum-hukum yang berlaku tidaklah selamanya tetap dan tidak akan berubah , kecuali apa yang telah pasti terbukti dengan eksperimental dan berlaku secara mutlak sehingga menjadi sebuah aksioma yang diterima secara luas.
    Di sisi lain, Al-Qur’an yang mulia, adalah kalamulloh (perkataan Allah) yang kebenarannya bersifat mutlak. Sedangkan sunnah Rasulullah saw adalah juga kebenaran mutlak selama riwayat yang disandarkan kepadanya adalah benar-benar sah dari beliau. Dan As-Sunnah sendiri adalah pentafsir Al-Qur’an, ia menjelaskannya dan mengungkap di dalamnya apa yang tidak mampu diungkap oleh selainnya. Di samping itu di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat dan mutsyabihat, dimana banyak para mufassirin dalam karya mereka dengan berbagai metode telah menjelaskan secara rinci maupun secara global atau menyerahkan maknanya kepada Allah.
    Dan sesungguhnya dari sekian banyak tafsir Al-Qur’an, berada dalam dua kemungkinan, yaitu mereka telah bersepakat (ijma’) dalam mentafsirkan suatu ayat Al-Qur’an sehingga dapat dikatakan sebagai representasi Al-Qur’an. Sedangkan kemungkinan kedua adalah terdapat perbedaan pendapat tentang tafsirnya, baik perbedaan itu saling mengkuatkan maupun melemahkan. Oleh karena itu diperlukan tindakan tarjih, mengambil pendapat yang paling kuat dan lebih dekat kepada kebenaran.
    Oleh karenanya, ketika didapati ayat-ayat Al-Qur’an yang multi tafsir dari kalangan ulama’ mufassir yang berkaitan dengan penemuan sains modern, tidaklah dibenarkan mengambil sebagian pendapat mereka dengan mengatasnamakan Islam lalu menolak penemuan sains modern tersebut tanpa memperhatikan dan mentelaah pendapat ulama’ mufassirin lainnya yang boleh jadi sangat sesuai dengan penemuan sains modern tersebut.
    Sehingga berakibat pada penolakan terhadap sunnatullah kauniyah yang ada pada ilmu pengetahuan alam serta sekaligus berdusta atas nama Allah karena keliru dalam memahami nash-nash sayar’i. Akibatnya, mengkesankan bahwa Islam seakan bertentangan dengan sains modern.
    Demikian pula sebaliknya, ketika orang-orang yang terpedaya oleh sains modern dan menganggap suatu hukum fisika telah terbukti dan tidak akan mungkin direvisi pada penemuan di masa setalahnya, tidaklah dibenarkan meyakini kebenaran hukum-hukum fisika secara mutlak tanpa mau menerima revisi perubahan terhadapnya pada satu sisi, dan menolak aya-ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengannya meskipun ayat-ayat tersebut adalah kebenaran yang pasti dan disepakati oleh para mufassirin dan kaum muslimin pada sisi yang lain.
    Demikianlah beberapa hal penting yang haruslah dimengerti oleh setiap orang yang berada dalam polemik dan perdebatan sengit antara teori Heliosentris dan Geosentris sehingga tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang tajam dan perseteruan yang keras lagi kasar dalam menghadapi berbagai kerancuan paham yang ada.
    Oleh karenanya, berdasarkan apa yang telah dibahas sebelumnya, dalam bab ini penulis berkehendak untuk memberikan tanggapan dan bantahan secara khusus terhadap buku Best Seller”Matahari Mengelilingi Bumi, sebuah kepastian berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah serta bantahan terhadap teori Bumi mengelilingi Matahari” karya ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf –semoga Allah meluruskan kekeliruannya- yang telah memahamkan kepada para pembaca bahwa Islam menganut Geosentris, yaitu Matahari mengelilingi Bumi. Sama saja apakah dilihat oleh manusia dari permukaan Bumi ataukah dari langit, yaitu keluar dari atmosfir Bumi untuk melihat gerakan Matahari dan Bumi secara utuh sebagaimana tampak dalam halaman depan cover bukunya.
    Buku Matahari Mengelilingi Bumi tulisan Ustadz Ahmad Sabiq tersebut telah terbit untuk pertama kalinya pada bulan Rabi’ul Awwal 1927 H/2006 M di bawah penerbitan Pustaka Al-Furqan, Srowo Sedayu Jawa Timur. Cetakan Kedua terbit pada bulan Jumada Ats-Tsaniyyah 1427 H. Cetakan Ketiga terbit lagi pada bulan Sya’ban masih dalam tahun yang sama, 1427 H. Buku yang telah menjadi Best Seller ini, pada cetakan Keempat harus mengalami edisi revisi yang kemudian terbit pada bulan Dzul Hijjah dalam tahun yang masih sama, 1427 H. Cetakan Kelima diterbitkan kembali pada bulan Rojab tahun 1429 H.
    Judul buku Matahari mengelilingi Bumi, dibahas pada bab 5 ”Matahari Mengelilingi Bumi sebuah kepastian Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kesepakatan para ulama”. Sedangkan inti penjelasannya ada pada point 5.3.2. Matahari berputar Mengelilingi Bumi, yang ada pada halaman 130-151, yaitu hanya 12 halaman saja dari total seluruh halaman mencapai 220 halaman, jadi hanya 5,45% saja dari keseluruhan. Hujjah-hujjah yang dikemukakan sebagai acuan dasar pembenaran teori Geosentris adalah 8 ayat Al-Qur’an, 3 buah hadits, 11 nukilan perkataan para ulama dan penjelasan fakta kenyataan yang terpampang di hadapan kita serta mendebat pengetahuan sains fisika, tanpa ada analisis hampir sama sekali menggunakan disiplin ilmu fisika, karena memang bukan seorang pengajar fisika .
    Buku tersebut diberi kata pengantar oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc. dalam 8 halaman. Dari sejak pertama kali terbit hingga edisi revisi Kelima hampir tidak ada perubahan. Didalamnya tidak banyak membahas tentang Matahari mengelilingi Bumi, akan tetapi lebih menegaskan kewajiban akal dan hati yang harus tunduk kepada kalamullah, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berasal dari Rasulullah saw, serta mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama’ Sunnah masa lalu maupun sekarang. Ini adalah pemahaman yang benar.
    Didalamnya pula terdapat nasehat kepada sebagian kaum Muslimin yang masih mengikuti pendapat para ahli filsafat dan orang-orang kafir Barat, agar meninggalkan pemikiran mereka yang berpaham bahwa Bumi mengelilingi Matahari. Meskipun mendukung pemahaman Matahari Mengelilingi Bumi, namun Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc. dalam kata pengantar yang ditulis pada 9 Shafar 1427 H, tidak pernah menggunakan istilah Geosentris. Meskipun demikian, apakah Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc. memahami bahwa Matahari Mengelilingi Bumi, sama saja dilihat dari Bumi atau dari luar Bumi seperti buku gambar cover buku , ataukah memahaminya bila dilihat dari pengamat di Bumi saja, seperti tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin atau yang lainnya yang di dalam kitabnya tanpa menyertakan gambar?. Wallahu a’lam bishshawab.
    Berbeda dengan Ustadz Ahmad Sabiq yang menggunakan istilah Geosentris. Ini tampak pada tulisannya setelah menjelaskan teori Heliosentris yang selama ini diyakini sebagai sebuah kepastian ilmiah yang diajarkan di seluruh jenjang pendidikan mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi,” Apakah Teori ini memang sebuah kepastian ilmiah yang tidak terbantahkan? Ataukah yang benar malah teori kebalikannya yaitu teori ”Geosentris” yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Iskandar Ptolemeus pada sekitar tahun 150-300 SM yang menyatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya dan matahari, bulan, serta bintang itu bergerak mengelilingi Bumi? ”. Oleh karenanya, berikut ini adalah studi kritis terhadap tulisan dalam buku ”Matahari Mengelilingi Bumi” dengan model Geosentris tersebut.
    A. Kesalahan fatal cover depan buku
    Sebenarnya, awalnya penulis tidak begitu mempermasalahkan isi buku tersebut lantaran hujjah syari’i yang mendasarkan pada Al-Qur’an suci, hadist shahih, perkataan sahabat maupun penjelasan para ‘Ulama’ yang telah pasti kebenarannya selama pentafsirannya tepat sebagaimana mestinya. Akan tetapi persoalan muncul ketika penjelasan isi buku tersebut dibuatkan ilustrasi gambar seperti pada cover buku di samping sehingga bisa berbeda dengan yang dimaksudkan oleh hujjah syar’i. Terlebih lagi adanya sebagian pihak yang menyebarkan takfirul ‘am (mengkafirkan secara umum) atas penganut teori bumi mengelilingi matahari, sebagaimana teori Heliosentris . Oleh karenanya, penulis dengan memohon pertolongan Allah, berkehendak menunjukkan letak beberapa kekeliruan gambar cover depan buku yang disetting oleh Rizaqu Abu Abdirrahman al-Qadiry tersebut, paling tidak adalah sebagai berikut:

    1) Menunjukkan bahwa Matahari mengelilingi Bumi dengan dilihat oleh mata pengamat di luar Bumi sebagai kerangka acuan geraknya, sebagaimana persis dengan teori Geosentris Ptolemues adalah tidak valid. Ini hanyalah didasarkan pada perkiraan, dugaan, anggapan, prediksi dan hipotesa berdasarkan pemahaman dan persepsi terhadap nash-nash syar’i. Oleh karena ilustrasi model gambar pada cover depan buku tersebut adalah apabila dilihat dari langit dan menembus batas atmosfer Bumi, sedangkan ustadz Ahmad Sabiq –sebagaimana hampir semua manusia- belum pernah keluar dari atmosfer Bumi untuk melihat Bumi secara utuh bulat dari luar Bumi. Maka untuk membuktikan hal tersebut, agar tidak bertentangan antara dalil naqli (nash-nashy syar’i) dan dalil hissi wal ‘ilmy (indera penglihatan dan sains), haruslah dibuktikan dalam observasi dan eksperimental dengan terbang ke langit menembus atmosfer Bumi, kemudian melihat Bumi secara utuh dan Matahari: Apakah benar gerakan Matahari seperti gambar pada cover depan buku tersebut?, baru kemudian dapat disimpulkan.

    2) Kedua, ukuran volume Matahari yang lebih kecil daripada ukuran volume Bumi padahal dari gambar tersebut tampak bahwa Matahari lebih dekat dengan kerangka acuan “pengambil gambar” daripada Bumi. Seandainya Matahari berada di belakang Bumi akan lebih baik dan dapat dibenarkan karena jarak Matahari lebih jauh daripada Bumi. Ini seperti seorang pengamat melihat orang lain dari jarak jauh akan terlihat lebih kecil dibandingkan ibu jari tangan pengamat yang berada di depan penglihatannya karena jaraknya lebih dekat, meskipun sesungguhnya ukuran ibu jari tangan jauh lebih kecil daripada orang yang terlihat. Selain itu, gambar cover depan buku yang menunjukkan ukuran Matahari lebih kecil daripada Bumi adalah bertentangan dengan pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin yang berkata,“Sesungguhnya yang menjadikan benda yang besar (Matahari) mengelilingi yang kecil (Bumi) adalah Allah Ta’ala, dan Dia mampu mengerjakan segala sesuatu. Inilah yang kami yakini seputar masalah ini ”.

    3) Ketiga, gambar ilustrasi garis edar “orbit” gerak Matahari yang mengelilingi Bumi dengan bentuk lintasan melingkar (atau elips?). Meskipun gambar cover buku tersebut hanyalah sekedar ilustrasi dan bukan foto asli, akan tetapi sesungguhnya gambaran itulah yang hendak ditunjukkan sebagai penguat dan pendukung isi buku yang menyatakan bahwa Matahari mengelilingi Bumi dengan model Geosentris Ptolemeus.

    4) Keempat, dalam edisi revisi yang berganti cover akan tetapi hakikat substansinya sama saja, bahkan tampak lebih ganjil dan aneh lagi. Setting Lay-Out sampul atau cover edisi revisi dibuat oleh Abu Abdillah Rizqulloh bin Abdul Kholiq. Ketika membuat ilustrasi gambar, tampak matahari jauh lebih kecil daripada ukuran bumi dan terdapat semacam garis sinar orbit lintasan gerak matahari mengelilingi bumi. Matahari berada di sebelah kanan pengamat, akan tetapi bagian bumi yang menghadap matahari justru gelap seperti malam. Sedangkan bagian bumi di sebelah kiri yang tidak terkena cahaya matahari malah terang benderang seperti siang. Tampaknya Rizaqu Abu Abdirrahman al-Qadiry maupun Abu Abdillah Rizqulloh bin Abdul Kholiq tidak teliti, tidak begitu memahami kesalahan fatal akibat gambar sampul. Juga tidak memahami bahwa,”sebuah gambar memuat lebih dari seribu kata”.
    Setelah jelas kekeliruan desain sampul atau cover buku di atas, maka berikut ini penjelasan tentang pemahaman terhadap Al-Qur’an, Hadits Shahih, dan penjelasan ‘ulama masa lalu maupun masa sekarang yang, yang menurut hemat penulis tidak sesuai dengan gambar cover depan buku tersebut. Akan tetapi, sebagai amanah ilmiah, justru penulis kutipkan dari isi buku tersebut. Tujuannya hanya untuk menunjukkan bahwa isi buku bisa berbeda paham dengan cover depan buku yang sama, titik.

    B. Memahami Maksud Kandungan Ayat-ayat Al-Qur’an
    Pada halaman 131, point 5.3.2 Matahari berputar Mengelilingi Bumi, Ustadz Ahmad Sabiq mengambil dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan paham Geosentrisnya. Seluruhnya terdapat 8 ayat sebagai berikut: (1) Al-Baqarah:258, (2) Al-An’am:78, (3) Al-Kahfi:17, (4) Al-Anbiya’:33, (5) Al-A’raf:54, (6) Az-Zumar:5, (7) Asy-Syams:1-2, (8) Yasin:38-40.
    1. Surat Al-Baqarah: 258


    “…Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari dari barat…”.(QS. Al-Baqarah: 258)
    Ustadz Ahmad menuliskan,”Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menerbitkan matahari, maka sangat jelas menunjukkan bahwa matahari-lah yang bergerak mengilingi Bumi. Seandainya bumi yang berotasi, niscaya Allah Ta’ala tidak mengatakan bahwa mataharilah yang terbit” .
    Untuk menanggapai pernyataan tersebut, penulis hendak menyatakan: Ayat yang disebutkan di atas merupakan potongan bagian ayat yang secara lengkapnya adalah,

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah: 258)

    Siapakah yang dimaksud orang yang mendebat Ibrahim bin Tarih Adh-Dhaifan as. tentang Tuhannya dalam ayat di atas?. Jawabnya adalah Namrudz bin Kan’an , raja Babilonia . Dalam tafsir Al-Qur’an, “Jami’ul Bayan”, Imam Ath-Thabary berkata“Ibrahim –semoga salam dan sholawat terlimpah kepada beliau- mengatakan: Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkalah matahari dari barat jika kamu memang benar sebagai ilah!. Allah menyebutkan: maka terdiamlah orang kafir itu (Namrudz), yaitu terputus dan menjadi batil hujjahnya” .
    Dimanakah keberadaan Ibrahim dan Namrudz yang dimaksudkan dalam ayat di atas?. Ibrahim as dan Namrudz saat itu berada di Babilonia , bagian dari permukaan Bumi. Ibrahim as dan Namrudz melihat matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat berdasarkan panca indera mata yang mengamatinya dari Bumi, bukan dari luar Bumi, sebagaimana gambar cover depan buku.
    Memang benar bahwa Matahari yang bergerak sedangkan Bumi diam. Oleh karena fi’il (kata kerja) yang digunakan dinisbatkan kepada Matahari, bukan kepada Bumi. Akan tetapi, haruslah dipahami pula bahwa Matahari bergerak mengelilingi Bumi adalah benar jika dilihat dari Bumi, bukan dari luar Bumi. Adapun rotasi Bumi terjadi menurut kerangka acuan di luar Bumi, bukan menurut kerangka acuan gerak pengamat yang merasakannya di permukaan Bumi. Tentang hal ini telah dibahas dalam bab gerak dan kerangka acuan.
    2. Surat Al-An’am:78

    “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. (QS. Al-An’am:78)

    Ayat ini dijadikan salah satu dalil yang mendukung pemahaman Matahari mengelilingi Bumi. Akan tetapi tidak membedakan apakah Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat dilihat oleh manusia dari permukaan Bumi ataukah dari langit seperti gambar ilustrasi cover depan buku. Ustadz Ahmad Sabiq menuliskan,”Di sini Alloh menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh Matahari, seandainya bumi bergerak rotasi maka seharusnya ayat itu bukan dengan lafadz: Aafalat (Matahari terbenam), akan tetapi dengan lafadz yang artinya : Maka tatkala ada sesuatu yang membuat matahari bergerak hilang)”.
    Ayat di atas merupakan bagian ayat yang mengkisahkan khalilullah, yaitu Nabi Ibrahim as. ketika Allah memperlihatkan diantara tanda-tanda kekuasaanNya di langit yang berupa Matahari, bulan dan bintang-bintang. Ketika malam telah gelap, Ibrahim as. melihat sebuah bintang, maka menganggapnya sebagai tuhan. Akan tetapi tatkala bintang itu tenggelam, beliau tidak menganggap bintang sebagai tuhan, karena tidak suka yang tenggelam. Ketika melihat bulan terbit, menganggapnya juga sebagai tuhan. Akan tetapi setelah bulan itu terbenam, beliau tidak menganggap lagi bulan sebagai tuhan. Ketika di pagi hari Nabi Ibrahim as. melihat matahari terbit dari timur, beliau berkata, “Inilah tuhanku, karena ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, berkatalah ia: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan mengikuti agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.
    Dalam tafsir “Taisir Al-Karim Arrahman fi tafsiri Kalamil Manan”, Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’dy menjelaskan.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar, yaitu lebih besar daripada bintang dan bulan. Akan tetapi ketika matahari terbenam, saat itulah Ibrahim mendapatkan petunjuk lalu menyampaikan hujjah dan membantah kaumnya seperti dalam perkataan Ibrahim,”Wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. Ini merupakan peneggakkan hujjah yang benar lagi jelas atas kebatilan penyembahan kaumnya” .
    Perhatikan kisah yang penuh hikmah tentang Nabi Ibrahim as. yang berdakwah kepada kaumnya di Banilonia agar mentauhidkan Allah dan agar meninggalkan kesyirikan karena menyembah berhala patung maupun berupa bintang dan benda-benda langit lainnya. Metode dakwah yang diserukan adalah dengan mengajak kaumnya berfikir akan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit yang salah satunya agar menyaksikan matahari terbit dari timur saat pagi hari dan tenggelam di barat saat senja hari. Dari sini tampak jelas bahwa baik Nabi Ibrahim as. maupun kaumnya yang masih musyrik menyaksikan matahari terbit dan tenggelam dari atas permukaan Bumi Babilonia, bukan menyaksikan Matahari dan Bumi secara utuh dari langit seperti pada gambar ilustrasi cover depan buku.
    3. Surat Al-Kahfi:17
    • • ….
    ”Dan kamu melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri .. “.(QS. Al-Kahfi:17)

    Telah berkata Ibnu Katsir tentang surat Al-Kahfi ayat 17,” Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa pintu gua menghadap ke arah utara. Oleh karena Allah Ta’ala mengkabarkan bahwa matahari ketika terbit tampak condong dari gua mereka ke sebelah kanan, yaitu sedikit demi sedikit beranjak naik dari sebelah kanan. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Sa’id bin Jabir dan Qatadah (tazawaru), yaitu condong. Hal itu dikarenakan bahwa ketika matahari terbit naik saat diufuk timur, cahayanya sedikit demi sedikit tampak ikut naik mengikuti naiknya matahari, sampai tidak menyisakan sesuatu ketika bergeser naik pada tempat seperti itu. Oleh karena itu, juga dikatakan,” dan matahari itu terbenam menjauhi mereka di sebelah kiri”. Maksudnya ketika terbenam, cahayanya masuk ke dalam gua mereka dari pintu sebelah kiri, yaitu dari arah timur, menunjukkan benarnya apa yang kami katakan.” .
    Ustadz Ahmad Sabiq menjelaskan,”Alloh Ta’ala menjadikan bahwa yang terbit, condong, tenggelam, dan menjauhi itu semuanya dilakukan oleh matahari, seandainya bukan matahari yang bergerak, niscaya tidak akan disandarkan semua perbuatan tersebut kepada matahari”. Memang benar bahwa telah nyata matahari terbit, naik, turun, tenggelam dan melakukan semua gerakan tersebut yang sekaligus menunjukkan diam dan tenangnya gua yang berada di bagian daratan bumi. Akan tetapi dilihat dari manakah fenomena terbit dan tenggelamnya matahari tersebut?.
    Ayat di atas menjelaskah kisah ashabul kahfi, yaitu para pemuda ahli tauhid yang diburu oleh penguasa penyembah berhala. Mereka berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi ke dalam gua dan tertidur di dalamnya sampai selama 309 tahun. Ketika mereka bangun dari tidur panjangnya, terjadi perbedaan pendapat dengan saling bertanya tentang berapa lama mereka tidur di dalam gua. Lalu sebagian dari mereka keluar menuju kota yang sebelumnya mereka keluar darinya. Pada mulanya, jiwa mereka sangat guncang dan akal fikirannya terasa kebingungan karena telah terjadi perubahan besar-besaran di kota itu. Bahkan mereka bertemu dengan orang-orang yang seusia dengan cucu-cucu mereka. Mereka telah masuk ke dalam masa depan yang telah lewat selama 309 tahun sejak mereka keluar darinya. Hingga pada akhirnya, mereka merasa sadar dan takjub akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
    Telah berkata Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- tentang ayat ini,”Dalam ayat tersebut Allah mengkabarkan kisah untuk difahami dan direnungi. Akan tetapi tidak menyebutkan keberadaan letak gua ini, di negeri bagian Bumi manakah gua ini berada. Oleh karena tidak ada faedah dan tujuan syar’inya bagi kita di dalamnya. Dan telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan mufassirin tentang keberadaan letak gua ini. Mereka menyebutkan perkataan yang disandarkan kepada Ibnu Abbas bahwa beliau berkata,” gua ini berada di dekat Ailah”. Ibnu Ishaq mengatakan,” Gua itu berada di daerah Ninawa”. Ada yang mengatakan di Romawi, ada juga yang mengatakan di Balqa’. Dan Allah yang lebih mengetahui di bagian bumi Allah mana gua itu berada ”.
    Perhatikanlah bagaimana Imam Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat tentang keberadaan gua ini. Apakah itu di dekat Ailah, Ninawa, Romawi dan Balqa’ ataukah ditempat lainnya, adalah tidak penting, tidak ada faedah dan tujuan syar’inya. Dan tentu saja yang pasti berada di bagian belahan Bumi tertentu, di permukaan Bumi dan bukan di langit. Ini sangat jelas menunjukkan bahwa matahari terbit dan tenggelam adalah dilihat dari permukaan Bumi, bukan dari luar Bumi sebagaimana ilustrasi gambar cover depan buku ustadz Ahmad Sabiq!.
    4. Surat Al-Anbiya’:33

    “Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”.(Q.S. Al-Anbiya’:33)

    Allah telah menciptakan malam sebagai waktu untuk istirahat dan menciptakan siang untuk beaktivitas mencari penghidupan dengan kesibukannya bekerja. Allah juga menciptakan matahari yang bersinar terang serta bulan yang memantulkan cahaya. Matahari dan bulan keduanya berjalan pada garis edarnya. Semuanya itu agar manusia memperhatikan makhluk ciptaan Allah yang menunjukkan keagungan, keesaan dan kekuasaan Allah atas segala sesuatu.
    Telah bekata Imam Al-Baghawi tentang ayat tersebut,” Maksudnya matahari dan bulan berjalan dan beredar dengan cepat seperti berenang di air. Adapun makna falak adalah tempat-tempat peredaran bagi bintang-bintang yang berkumpul. Apa yang dimaksud falak dalam perkataan orang arab adalah adalah bergerak berputar. Jama’nya adalah aflak, diantaranya seperti berputarnya alat pemintal benang. Al-Hasan berkata,”Falak seperti alat penggiling tepung, bentuknya juga seperti alat pemintal, yang di dalam falak itu bintang-bintang berjalan seperti bergeraknya alat penggiling tepung. Sebagian mereka berkata: falak di langit, merupakan tempat bagi bintang-bintang di langit. Bintang-bintang bergerak di langit yang ditetapkan atasnya. Begitulah maksud perkataan Qatadah. Sebagian lagi mengatakan bahwa falak itu adalah gelombang yang berbentuk bulat dan tidak berada di langit, di dalamnya matahari, bulan dan bintang-bintang beredar.” . Disebutkan pada catatan kaki,

    “Disebutkan sebagian perkataan ini dan juga selainnya oleh Al-Qurthuby: 17/23. Kemudian berkata: Dan yang benar diantara perkataan tentangnya bahwa dikatakan: sebagaimana firman Allah,”Masing-masing beredar di dalam garis edarnya”, boleh dikatakan bahwa falak itu sebagaimana yang dikatakan Mujahid seperti besi alat tenun dan sebagaimana yang disebutkan Al-Hasan, yaitu seperti alat penggiling tepung, dan boleh pula mengartikannya dengan semacam gelombang berbentuk bulat, demikian pula kutub langit dan demikian juga seperti perkataan orang Arab, yaitu segala sesuatu yang beredar dimana jamaknya adalah aflak. Jika itu semua adalah apa yang berkisar dalam perkataan tersebut, maka itu semua tidak disebutkan di dalam kitab Allah (Al-Qur’an), tidak ada pula pada pemberitaan dari Rasulullah saw, dan tidak juga mengambil alasan dari perkataannya, yaitu dalil yang menunjukkan atas sesuatu itu. Oleh karena itu, wajib atas kita mengatakan tentangnya apa yang difirmankan Alla apa adanya, dan kita diam terhadap apa yang tidak kita ketahui tentangnya. Apabila itu benar sebagaimana yang telah kami sebutkan, perkataan tersebut dita’wilkan: Matahari dan bulan, masing-masing itu berada dalam tempat peredarannya ”.
    Ustadz Ahmad Sabiq mengatakan,”Telah lewat riwayat dari Ibnu Abbas ra. Saat mentafsirkan ayat ini beliau berkata: Maksudnya adalah berputar seperti alat tenun yang berbentuk bulat” . Telah terjadi perbedaan pendapat tentang makna falak di kalangan ahli tafsir Al-Qur’an. Oleh karenanya, ini bukanlah ijma’, bahkan sebagaimana perkataan Imam Al-Qurthuby, bahwa kita mestinya diam terhadap apa yang kita tidak mengetahui tentangnya. Tidak ada ilmu pada kita kecuali apa yang Allah telah ajarkan kepada kita. Maka Maha Suci Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

    5. Surat Al-A’raf:54
    … • …
    “… Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat… ”. (QS. Al-A’raf:54)

    Ustadz Ahmad Sabiq menukil perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin,”Di ayat ini Alloh menjadikan malam mengikuti siang, sedangkan yang mencari dan mengikuti pasti menyusul di belakangnya, dan sudah diketahui bersama bahwa malam dan siang itu mengikuti peredaran matahari.” . Tidak diragukan lagi bahwa terjadinya siang dan malam adalah karena gerakan matahari mengelilingi bumi, bukan karena rotasi bumi. Hanya persoalannya, matahari mengelilingi bumi yang denganny terjadi siang dan malam, apakah disaksikan semua manusia di permukaan bumi ataukah di langit?. Oleh karena sesungguhnya tidak sama, ketika matahari mengelilingi bumi dilihat dari permukaan bumi dengan dilihat dari luar bumi.
    Untuk lebih jelasnya, perhatikan perkataan Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’dy -rahimahullah- tentang ayat ini,”Allah menutupkan malam yang gelap kepada siang yang terang, maka jadilah gelap pada bagian bumi yang tadinya terang. Manusia kembali ke rumah mereka demikian pula makhluk lain pulang ke tempat tinggal. Mereka beristirahat dari kelelahan dan baru kembali beraktivitas ketika terangnya siang menyelimuti mereka. “mengikuti dengan cepat” yaitu setiap kali datang malam, hilanglah siang dan setiap kali datang siang, hilanglah malam. Demikianlah silih berganti terus menerus dan selama-lamanya sampai Allah menggulung alam semesta ini lalu memindahkan para hamba dari negeri ini (dunia) menuju negeri lain (akhirat).”
    Syaikh As-Sa’dy memberikan gambaran yang nyata bahwa saat malam yang gelap, manusia maupun makhluk lainnya secara umum kembali ke tempat tinggal. Ini jelas terjadi ketika matahari terbenam, hari mulai malam. Ketika datang siang malam pun hilang, manusia kembali beraktivitas karena matahari terbit, hari mulai siang. Matahari terbit hingga tenggelam tampak dalam pandangan mata manusia bahwa matahari mengelilingi bumi, terlihat dari permukaan bumi manapun, baik di Gresik atau di Solo, baik di Australia, Asia, Afrika, Eropa maupun di Amerika atau bahkan di kutub utara maupun kutub selatan sekalipun. Akan tetapi yan pasti, bukan dilihat manusia jauh dari luar bumi seperti ilustrasi gambar cover depan buku ustadz Ahmad Sabiq!
    6. Surat Az-Zumar:5
    • •
    “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”. (Q.S. Az-Zumar:5)

    Ustadz Ahmad Sabiq berkata,”Firman Allah: Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam, maksudnya adalah Allah menjadikan malam berputar atas siang. Dan ini sebagai dalil bahwa peredaran malam dan siang itu terjadi pada bumi, seandainya bumi yang berputar maka semestinya bumilah yang menjadikan pergantian malam dengan siang.”
    Disebutkan dalam tafsir al-Qur’an,”Aisarut Tafasir li Aljazairy” tentang surat Az-Zumar ayat 5 ini,”Menutupkan malam atas siang, maksudnya adalah salah satu masuk kepada yang lain. Apabila telah datang malam, maka siangpun hilang dan sebaliknya. Adapun ditundukkanya matahari dan bulan, yaitu keduanya masih saja bergerak beredar di tempat peredarannya sampai akhir kehidupan ini (hari kiamat). Dan dengan gerakan keduanya, maka sempurnalah maslahat penghuni bumi, demikian pula para hamba dapat mengetahui perhitungan tahun dan bulan ”.
    Dengan demikian bahwa matahari dan bulan tampak bergerak mengelilingi bumi adalah dilihat dari permukaan bumi, dimana manusia dengan pergerakan tersebut dapat mengetahui perhitungan tahun dan bulan. Jadi perlu ditegaskan lagi bahwa semua itu tidak dilihat dari langit seperti desain sampul buku ustadz Ahmad Sabiq.
    7. Surat Asy-Syams:1-2

    “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya”. (Q.S. Asy-Syams:1-2)

    Untuk mendukung pemahaman Geosentris, ustadz Ahmad Sabiq menukil perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin,”Makna firman Allah (mengiringi) adalah datang setelahnya. Dan ini adalah dalil atas peredaran matahari dan bulan serta keduanya mengelilingi bumi. Seandainya bumi bumilah yang beredar mengelilingi keduanya, maka bulan itu tidak akan datang setelah matahari selamanya. Akan tetapi terkadang matahari yang datang setelah bulan dan terkadang bulan yang datang setelah matahari, karena matahari itu lebih tinggi daripada bulan, namun berhujjah dengan ayat ini butuh penalaran yang tajam ”
    Bumi berbentuk bulat pepat, di atas permukaannya terjadi siang dan malam. Siang terjadi pada bagian bumi tertentu karena cahaya matahari mengenai permukaan bumi tersebut. Dan malam pada belahan bumi lainnya terjadi karena cahaya matahari tidak mengenai permukaan bumi tersebut. Benar bahwa menurut seluruh manusia yang hidup di atas permukaan bumi, setiap hari menyaksikan matahari bergerak saat terbit dari timur dengan memancarkan cahayanya yang sangat terang. Sedangkan di saat malam hari, bulan sangat tampak terang ketika bulan purnama, karena cahaya matahari yang mengenai permukaan bulan terlihat oleh manusia di bumi secara utuh berbentuk lingkaran. Bulan mengikuti matahari dan terkadang matahari yang mengiringi bulan. Sedangkan matahari tampak lebih tinggi daripada bulan karena terlihat dari bumi memang demikian.
    Disebutkan di dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat tersebut bahwa Mujahid berkata,” “ yaitu cahayanya. Qatadah berkata,” ” yaitu siang seluruhnya. Ibnu Jarir berkata,”Adapun yang benar adalah bahwa Allah bersumpah dengan matahari dan cahayanya, karena cahaya matahari yang tampak nyata adalah di siang hari”. Jadi, cahaya matahari yang tampak nyata menyinari bumi sehingga terang benderang dan menjadikannya siang, karena dilihat oleh mata dan dirasakan oleh indera perasa seluruh manusia yang mengalami waktu siang, berada di permukaan bumi dan bukan berada di langit.
    8. Surat Yasin:38-40.

    “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir, kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (Q.S. Yasin: 38-40)
    Disebutkan di dalam tafsir Imam Al-Baghawi tentang surat Yasin ayat 40. Dikatakan bahwa tempat beredarnya matahari adalah di bawah ’arsy . Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dzar ra. Diriwayatkan dari ’Umar bin Dinar dari Ibnu ’Abbas,” والشمس تجري لا مستقر لها” ini merupakan bacaan Ibnu Mas’ud, yaitu: memiliki tempat peredaran dan tidak berhenti karena ia (matahari) bergerak selama-lamanya” .

    C. Memahami Maksud Kandungan Hadits-hadits Shahih
    Diantara hujjah syar’i yang dijadikan dalil bahwa matahari mengelilingi bumi adalah dalil-dalil dari As-sunnah. Terdapat 3 hadits yang dicantumkan, yaitu (1) Hadits Abu Dzar, (2) Hadits Abu Hurairah tentang berhentinya matahari dan (3) Hadits yang juga diriwayatkan Abu Hurairah tentang shodaqah di setiap kali terbit matahari.

    1. Hadits Abu Dzar ra.
    Dari Abu Dzar ra., bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa-sallam pernah bersabda “Tahukah kalian ke manakah matahari itu pergi?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, Beliau bersabda “Sesungguhnya matahari itu berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah ‘Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: “Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang”, Maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang.’Maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan kepadanya: Bangunlah Terbitlah dari barat.’maka dia pun terbit dari barat. ‘Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang dia belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa keimanannya.” (H.R. Bukhori: 4802, 3199, 7424, 7433, Muslim: 159, ath-Thoyalisi: 460, Ahmad 5/145, Abu Dawud: 4002, Tirmidzi: 3227, Nasa’i: 11430, dan lainnya; lihat tafsir Ibnu Katsir Surat Yasin (36): 38 dan silsilah ash-shohihah oleh Imam al-Albani: 2403)
    Ustadz Ahmad Sabiq menuliskan,”Segi pengambilan dalil dari hadits ini sangat jelas, bahwa Rosulullah menyandarkan pergi, terbit, beredar kepada matahari dan bukan kepada bumi, sedangkan kita semua mengetahui bahwa Alloh Pencipta langit dan Bumi lebih mengetahui tentang makhlukNya daripada makhlukNya siapa pun dia (Lihat Fathul Bari 6/360) ”.
    Hadits di atas menunjukkan kejadian antara Rasulullah saw dengan para sahabat yang sedang mengajarkan suatu ilmu dengan memberi pertanyaan tentang kemanakah matahari pergi?. Dari sini dapat dengan mudah dipahami bahwa matahari berjalan dari tempat terbitnya, yaitu dari timur hingga menuju ke tempat peredarannya di bawah ‘arsy adalah dilihat oleh Rasulullah saw, para sahabat dan semua manusia dipermukaan bumi, bukan dilihat dari langit.

    2. Hadits Abu Hurairah ra.
    “Dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bersabda,” Ada seorang nabi dari Bani Israil yang berperang maka dia berkata kepada kaumnya,” Jangan ada yang mengikutiku seseorang yang sudah memiliki istri dan dia ingin berkumpul dengannya namun belum sempat berkumpul, dan jangan pula seseorang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, juga jangan seseorang yang telah membeli kambing sedangkan dia sedang menunggu kelahiran anaknya’. Maka Nabi itu pun berperang, dan dia mendekat pada desa yang dituju saat sholat ashar, maka dia berkata kepada matahari;”Engkau adalah makhluk yang diperintah dan saya pun diperintah, Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku sebentar’. Maka matahari itu pun ditahan sampai Allah Ta’ala memberikan kemenangan baginya.” (HR. Bukhari: 3124, Muslim: 1747)
    Nabi yang dimaksud dalam hadits di atas adalah Nabi Yusya’, salah seorang Nabi Bani Israil yang diangkat Musa as. sebagai pelanjut kepemimpinannya . Nabi Yusya’ telah mempersiapkan kekuatan angkatan perangnya untuk mengepung kekuatan musuh di pusat kota yang merupakan tanah suci. Nabi Yusya’ menyeleksi pasukan perangnya dengan memprioritaskan kualitas tentaranya, yaitu mereka yang telah siap untuk meninggalkan segala kesibukan dunia yang masih membelenggu hati dan fikiran mereka. Mereka yang baru saja menikah dan belum sempat menyentuh istrinya, orang-orang yang sedang membangun rumah dan belum selesai bangunannya serta mereka yang dalam masa penantian akan kelahiran hewan ternaknya. Berbeda dengan panglima musuh yang telah mengumpulkan bala tentara sebanyak yang mereka mampu karena mementingkan kuantitas jumlah dan mengabaikan kualitas.
    Ketika perang telah berkecamuk, kekuatan musuh belum dapat dilumpuhkan hingga waktu sampai Ashar. Maka Nabi Yusya’ memohon kepada Allah agar matahari berhenti sejenak hingga pasukan perang Nabi Yusya’ meraih kemenangan sebelum matahari terbenam di ufuk barat. Ustadz Ahmad Sabiq menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil matahari mengelilingi bumi model Geosentris,”Sisi pengambilan dalil dari hadits ini juga sangat jelas bahwa sang nabi tersebut tatkala mengetahui bahwa matahari akan tenggelam, padahal aturan perang pada zaman dahulu kalau sudah tenggelam matahari, maka tidak boleh meneruskan serangan, maka dia berdo’a kepada Alloh untuk menahan matahari. Seandainya yang bergerak itu bumi, maka dia akan berdo’a kepada Alloh agar menahan gerakan rotasi bumi, padahal kenyataannya?!! ”
    Kenyataannya adalah matahari sejenak berhenti bergerak, memang bukan Bumi yang berotasi sehingga nabi Yusya’ pun juga tidak mungkin memohon agar gerakan rotasi Bumi dihentikan sejenak. Akan tetapi yang harus dijawab adalah pertanyaan: Dimanakah keberadaan Nabi Yusya’ bersama pasukan perangnya? Apakah berada di atas permukaan Bumi ataukah di langit?. Berada di atas tanah suci ataukah berada jauh di atas tanah hingga keluar dari Bumi, seperti ilustrasi gambar cover depan buku?.
    Menanggapi persoalan penyebab siang dan malam, tampak terjadi perbedaan pendapat di kalangan masyayikh, meskipun sebenarnya dapat dicarikan titik temu. Syaikh ‘Umar Sulaiman Asyqar, Guru Besar Universitas Islam Yordania, berkata tentang hadits tersebut,“Iman Yusya’ begitu besar. Dia yakin kodrat Allah atas segala sesuatu. Dia mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamya matahari. Urusan seperti ini tidaklah sulit bagi Allah, dan kita mengetahui pada hari ini bahwa siang dan malam terjadi karena berputarnya bumi mengelilingi dirinya . Dan seperti ini – ilmu yang sebenarnya berada di sisi Allah- perputaran bumi berjalan lebih lambat dengan kodrat Allah sehingga kemenangan terwujud ”.
    3. Hadits Abu Hurairah ra.
    Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda,” Setiap persendian manusia itu harus dishodaqohi setiap hari setiap kali terbit matahari…” (HR. Bukhari:2707, Muslim: 1009).
    Ustadz Ahmad Sabiq berkata,”Sisi pengambilan dalil dari hadits ini dan yang semisalnya, bahwa Rosulullah saw menyandarkan terbit pada matahari, seandainya munculnya matahari itu bukan karena gerakan matahari, niscaya Rosulullah saw akan menyandarkan munculnya matahari itu dengan gerakan rotasi bumi”.
    Setiap hari Matahari terbit dari timur dan terbenam ke arah barat, adalah fakta dan realita yang tak terbantahkan. Oleh karena memang demikianlah seluruh manusia menyaksikan matahari terbit dari timur karena mereka seluruhnya berada di atas permukaan Bumi, bukan berada di langit lalu melihat bentuk bulat Bumi dan matahari bergerak mnelilingi Bumi seperti tampak pada ilustrasi gambar cover depan bukunya.

    D. Memahami Maksud Kandungan perkataaan Ulama’
    Berikut ini pembahasan tentang maksud perkataan para ‘ulama yang dijadikan pegangan oleh ustadz Ahmad Sabiq dalam bukunya, “Matahari Mengelilingi Bumi”. Terdapat 11 ulama’ masa lalu maupun sekarang yang disebutkan pada halaman 140-148, mereka itu adalah: Ibnu Hazm, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, Al Hafidz Ibnu Hajar, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Solih Al’Utsaimin, Syaikh Hamud at-Tuwaijiri, Syaikh Abdullah Duwaisy –rahimahumullah- dan Syaikh Abdul Karim bin Sholih al-Humaid –hafidzahullah-.
    Sedangkan pada halaman 139, dua ulama’ yang disebutkan di dalamnya adalah Imam Abdul Qohir al-Baghdadi al-Isfiroyini dan Imam Qurthubi –rahimahumallah-. Pendapat kedua ulama tersebut tidak dibahas di sini, karena keduanya menyatakan secara singkat tentang diamnya Bumi, bukan tentang gerak Matahari mengelilingi Bumi. Sedangkan telah diketahui dengan pasti bahwa Bumi menurut yang dirasakan oleh semua manusia yang ada di Bumi adalah bahwa Bumi diam dan tenang. Bumi hanya akan bergerak bila ada sesuatu seperti gempa Bumi. Ini suatu pemahaman yang shahih dan sangat mudah diterima kebenarannya.

    1. Ibnu Hazm
    Diantara perkataan ‘ulama masa lalu yang dijadikan pegangan dalam buku tersebut adalah Ibnu Hazm –rahimahullah-. Perhatikanlah perkataan Ibnu Hazm,” Terdapat sebuah dalil yang paten dan bisa langsung disaksikan dengan panca indra bahwa Matahari mengelilingi Bumi dari timur ke barat kemudian dari barat ke timur ”.
    Lengkapnya apa yang dikatakan ibnu Hazm dalam kitab,”Al Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal” (2/80) sebagai berikut,”Maka Allah mengkabarkan dan tidak menolaknya kecuali kafir: bahwa bulan berada di langit, dan matahari juga berada di langit. Kemudian terdapat sebuah dalil paten yang bisa langsung disaksikan dengan panca indra bahwa Matahari mengelilingi Bumi dari timur ke barat kemudian dari barat ke timur”.
    Pernyataan Ibnu Hazm, “bisa langsung disaksikan dengan panca indra”, memiliki makna bahwa panca indra yang dimaksud tentunya panca indra manusia, yang secara umum diketahui ada lima, yaitu mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Sedangkan yang digunakan untuk menyaksikan bahwa Matahari mengelilingi Bumi dari timur ke barat kemudian dari barat ke timur adalah indra penglihatan, yaitu mata manusia. Maka ini jelas menunjukkan bahwa panca indra manusia yang langsung bisa menyaksikan bahwa Matahari mengelilingi Bumi, karena seluruh manusia melihat Matahari dari Bumi, bukan dari langit, yaitu keluar dari Bumi dahulu lalu melihat Bumi dan Matahari secara utuh dari langit seperti tampak pada gambar cover bukunya!.

    2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
    Selain Ibnu Hazm, yang disebutkan dalam buku tersebut untuk mendukung pemahaman Geosentris adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Perhatikanlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
    ” Siapa saja yang berada di bumi lalu melihat keadaan matahari saat terbit, ketika berada di tengah-tengah, dan di waktu terbenam, di tiga waktu ini matahari berada pada kejauhan (jarak) yang sama dan juga dalam satu bentuk, maka dia akan mengetahui bahwa matahari itu beredar dalam sebuah garis edar yang berbentuk bulat ”.
    Diawal perkataan beliau sangatlah jelas siapa saja yang berada di Bumi dan bukan berada di luar Bumi, sebagaimana dalam gambar cover depan buku tersebut yang semuanya menunjukkan melihat Matahari bergerak oleh pengamat yang berada di Bumi. Oleh karena memang semua manusia berada di Bumi, bukan melihat dari luar Bumi.

    Suka

  8. Saya bertanya kepada Mandalajati Niskala mengenai Matahari.
    Beliau menjelaskan hal-hal yang penting mengenai Matahari sbb:

    ♥1)Para akhli kurang memahami pergerakan Matahari. Menurut Mandalajati Niskala PERGERAKAN MATAHARI TIDAK LIAR, TETAPI SEPERTI SPIRAL. Ya seperti orang bermain Hulahup. Bergerak ke Utara selama 6 bulan, kemudian bergerak ke Selatan selama 6 bulan, demikian seterusnya dalam lintasan yang tetap. Pergerakan ini dilantarankan ADANYA DUA KATUP UTARA & SELATAN YANG BERFUNGSI UNTUK MEMBUANG TAKANAN GAS YANG BERLEBIH. Pembuangan Gas pada KATUP SELATAN MENGAKIBATKAN SEMBURAN API YANG SANGAT DAHSYAT, YANG MENDORONG MATAHARI BERGERAK KE UTARA, demikian sebaliknya.
    ♥2)Para akhli mengatakan Panas Inti Matahari15 Juta derajat celcius. Menurut Mandalajati NIskala panas inti Matahari SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN.
    ♥3)Filsuf Sunda Mandalajati Niskala sangat logis menjelaskan kepada banyak pihak bahwa TADINYA MATAHARI ADALAH GUMPALAN BOLA AIR RAKSASA YANG BERADA PADA RUANG HAMPA, BERSUHU MINUS & BERTEKANAN MINUS, SEHINGGA DI BAGIAN SELURUH SISI BOLA AIR RAKSASA TERSEBUT IKATAN H2O PUTUS MENJADI GAS HIDROGEN DAN GAS OKSIGEN, YANG SERTA MERTA AKAN TERBAKAR DISAAT TERJADI PEMUTUSAN IKATAN TERSEBUT. Suhu kulit Matahari menjadi sangat panas karena Oksigen dan Hidrogen terbakar, tapi suhu Inti Matahari TETAP SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN.
    Mandalajati Niskala menegaskan: “CATAT YA SEMUA BINTANG TERBUAT DARI AIR DAN SUHU PANAS INTI BINTANG SEDINGIN AIR PEGUNUNGAN. TITIK”.
    ♥4)Para akhli mengatakan GAYA GRAVITASI MATAHARI SANGAT BESAR. Menurut Mandalajati Niskala MATAHARI TIDAK MEMILIKI GAYA GRAVITASI, tapi sebaliknya MATAHARI MEMILIKI GAYA ANTI GRAVITASI.
    ♥5) Pernyataan yang paling menarik dari Filsuf Sunda Mandalajati Niskala yaitu:
    “SEMUA ORANG TERMASUK PARA AKHLI DI SELURUH DUNIA TIDAK ADA YANG TAHU JUMLAH BINTANG & JUMLAH GALAKSI DI JAGAT RAYA, MAKA AKU BERI TAHU”:
    a) Jumlah Bintang di Alam Semesta adalah 1.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
    b) Jumlah Galaksi di Alam Semesta adalah 80.000.000.000.000.
    c) Jumlah Bintang di setiap Galaksi adalah sekitar 13.000.000.000.000.
    ♥6) Filsuf Sunda Mandalajati Niskala membuat pertanyaan di bawah ini yang cukup menantang bagi orang-orang yang mau berpikir:
    a) BAGAIMANA TERJADINYA GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    b) BAGAIMANA MENGHILANGKAN GAYA GRAVITASI DI PLANET BUMI?
    c) BAGAIMANA MEMBUAT GAYA GRAVITASI DI PLANET LAIN YG TIDAK MEMILIKI GAYA GRAVITASI?

    Selamat berpikir
    ════════════════════════════
    Filsuf MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

    Klik di google Mandalajati Niskala
    BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

    Suka

  9. […] Hakikat-Pergerakan-Matahari […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: