Hilal 1234

Hilal 1234

Hilal 1234

Alhamdulillah, Hilal tanggal1 bulan 2 tahun 34 (1 Shafar 1434 H) dapat saya abadikan dengan kamera DSLR dari Observatorium CASA-PPMI Assalaam pada Jum’at petang selepas Maghrib. Acara yang juga diikuti sekitar 100 peserta rukyah ini ditandai dengan hujan deras siang harinya, dan gerimis sore harinya. Tetapi justru menjelang maghrib reda, udara yang minim polusiitu memberikan tantangan tersendiri untuk memburu sang bulan sabit spesial karena berinitial 1234 ini.

Secara hisab viisibiltas Hilal pada akhir Muharram 1434 H dari Indonesia adalah negatif pada hari konjungsi yakni Kamis 13 Desember 2102. Namun kegiatan rukyah tetap dilaporkan, meski tidak dilaksanakan. Pada hari berikutnya, kegiatan diikuti sekitar 25 mahasiswa Pondok Hajjah Nuriyah Shabran – Universitas Muhammadiyah Surakarta, sekitar 30 para siswa/siswi yang tergabung dalam Club Astronmi SMA Al-Islam 1 Surakarta, dan juga santriwan/wati anggota CASA|Club Astronomi Santri Assalaam.

Acara dimulai sekitar jam 17.00 dengan menyiapkan peralatan dan penjelasan secara teknis. Semua saya lakukan dengan dibantu adik2 pengurus CASA. Sampai pada saat Matahari terbenam, setting teleskop gagal membidik Matahari sebagai acuan, sehingga sampai maghrib teleskop masih blm alignment.

Selain teleskop robotic Vixen yang kita siapkan, juga aa binokuler, DSLR dengan lensa biasa, wide dan tele 200mm; juga teleskop manual Skywacther. Sampai usai anak2 melakukan sholat maghrib, awan tebal masih menyelimuti ufuk barat. Namun di sekitar posisi sunset dan Hila terbentang secuil celah diantara awan2 gelap. Saya katakan kepada para perukyah, celah itulah peluang kita.

Matahari terbenam pada Jum’at 14 Des 2012 sekitar pukul 17:48 LT. Ketinggian Hilal saat sunset sekitar 13 derajat. Seluruh peserta terus memandang ke arah posisi Hila berada. Langit timur agak cerah, namun barat gelap. Sampai sekitar 18:15belum ada tanda-tanda peserta melihatnya.

Sekitar pukul 18:20 LT, ustadz Muchtar menyatakan melihat hilal. Langsung saya minta semuanya mecoba melihat di posisi celah itu, dan seketika itu seluruh perukyah sekitar 80 orang yang masih standby dapat melihatnya sekitar 4 menit sebelum akhirnya Hilal kembali masuk ke balik awan gelap. Hilal tetap tidak muncul lagi sampai Moonset.

Alhamdulillah .. akhirnya hilal dengan initial 1234, atau hilal penanda tangggal 1 bulan shafar atau bulan kedua, tahun 1434 hijriyah dapat kita saksikan bentuknya dan kita abdikan dengan kamera DSLR.

Sungguh, serasa melihat Transit of Venus 6 Juni 2012 silam… Hilal istimewa karena terjadi setelah manusia di Bumi digemparkan dengan initial tanggal 12 12 12.

rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_icop rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_jamaah rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_pa rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_pa-icop rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_pakar rukyah_hilal_shafar_1434H-14Nop2012_pi-icop

2 Tanggapan

  1. pas bgt th 1 2 3 4
    hehehe🙂

    Suka

  2. Kaifa haluk, ya ustadz. Barokallohu fik.
    Ana ada titipan pertanyaan dari ustadz sekaligus bapak ana,
    pertanyaannya begini:
    Kalender Syamsiyah menerapkan bahwa awal penanggalan jatuh pada pukul 00.00 ketika tengah malam. Syamsiyah yang mendasarkan pada peredaran matahari memulai penanggalan justru ketika matahari sedang tidak terlihat. Ini berbeda dengan kalender Qomariyah yang mengawali tepat setelah matahari terbenam dan bulan mulai muncul.
    Semoga ustadz berkenan menjawab pertanyaan titipan ini!

    Konsep Penanggalan Masehi berdasarkan pada gerakan Matahari sebagai penentu pergantian hari, yakni pada saat transit atau kulminasi atas (siang hari). Namun karena dianggap tidak efektif dan terkesan merepotkan, lagipula saat Matahari masih terlihat di siang hari orang selalu dalam kondisi terjaga dan bekerja, maka nampaknya transisi hari itu kemudian dipindah ke jam 12 malam (00.00), dimana tradisi normal manusia adalah beristirahat. Maka, meski dalam kalender Masehi (Gregorian) perhitungan Julian Day ditetapkan pada saat Matahari transit di Meridian dengan no tertentu yakni WGS84, transisi harinya tidak berimpit dengan meridian ini, namun dipindahkan ke Meridian 180 derajat yang kemudian ditetapkan menjadi Garis Batas Penanggalan Internasional. Dan garis IDL ini memang diambil karena yang melintasi kawasan yang tak berpenghuni, jadi mudah penerapannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: