Purnama Ramadhan 1433 H

Kapan Purnama Ramadhan 1433 H ?

Bulan Purnama

Bulan saat Purnama secara tradisional sering kita sebut sebagai Bulan tanggal 15. Wah, mBulane gedhe, tgl limolas iki..!. Ternyata tradisi ini pernah ‘diusulkan’ jadi salah satu metode penentuan awal bulan hijriyah. Padahal tradisi kalau masuk ranah agama itu jelas bukan ittiba’ sunnah. Sunnahnya, awal bulan itu ya hisab dan rukyat. Nah, kapan Purnama (wajah Bulan paling banyak disinari cahaya Matahari) Ramadhan 1433 H ini terjadi..? Mari kita hisab dan rukyat bersama-sama…

HISAB – Awal & Akhir Purnama:

Secara astronomis, bila saya amati dari Observatorium CASA-Assalaam di Surakarta, Purnama pada Ramadhan 1433 H ini akan terjadi mulai pada hari Rabu, 1 Agustus 2012 jam 20:29.50 WIB. Maka kalau kita saksikan Bulan pada Rabu, 1 Agustus 2012 kok kelihatan bulat, itu sebenarnya belum Purnama penuh kalau masih di bawah jam 20:29.50 WIB itu. Nah, saat kita selesai Tarawikh dan selesai Tadarusan (selepas jam 20:30 WIB ), maka itulah kira2 Bulan mulai Purnama…🙂 – di hari ke 13 Ramadhan (versi Hisab), dan hari ke 12 Ramadhan (versi Rukyat) ummat Islam di Indonesia.

Purnama ini akan mencapai puncaknya pada Kamis, 2 Agustus 2012 (puasa ke 14-hisab, ke 13-rukyat) jam 10:27 WIB (pagi hari), saat posisi Bulan di bawah ufuk orang Indonesia, sehingga Bulan tidak bisa kita saksikan. Bulan kembali akan saksikan mulai terbit di ufuk Timur pada Kamis selepas maghrib (mulai hari ke 15-hisab, mulai hari ke-14-rukyat), dan bentuk bulan benar sudah bulat, karena prosentase illuminasi Bulan masih 100%, sampai menjelang jam 10 malam, tepatnya jam 21:56.55 WIB. Nah, bila kita lihat bentuk Bulan setelah jam 10 malam, maka itu secara hisab sudah bukan lagi Purnama, meski mata kita tetap melihatnya bulat penuh..!

Berikut hasil Hisab Purnama Ramadhan 1433 H akan dimulai pada Rabu 1 Agustus 2012, tepat sekitar jam 20:30 Waktu kota Solo.

Awal Purnama Ramadhan 1433 H

Awal Purnama Ramadhan 1433 H

Berikut hasil Hisab Purnama Ramadhan 1433 H akan berakhir pada Kamis 2 Agustus 2012, tepat sekitar jam 21:56 Waktu kota Solo.

Akhir Purnama Ramadhan 1433 H

Akhir Purnama Ramadhan 1433 H

RUKYAT – Purnama Ramadhan 1433 H:
Melihat uraian di atas, ternyata Purnama Ramadhan 1433 H ini terjadi secara hisab – astronomis, di hari ke-13 (memuat sekitar 21 jam), ke-14 (memuat sekitar 4,5 jam). Bila digambar akan tampak ilustrasinya sebagai berikut:
Posisi Purnama Ramadhan 1433 H

Posisi Purnama Ramadhan 1433 H

Bagi penganut Rukyat, maka posisi Bulan Purnama Ramadhan 1433 H ini lebih banyak jatuh di hari ke-12 ramadhan.
Dari ilustrasi di atas juga dapat kita pahami, ternyata Bulan akan Purnama dan dapat kita saksikan dari Bumi Indonesia adalah justru sebelum dan setelah 100%. Fase 100% hanya sempat kita saksikan Rabu malam selepas jam 20:30 sampai Shubuh dimana peluang melihat seringnya hanya maksimal kuat sampai sekitar jam 22-an (jadi hanya 1.5 jam-an) atau kalau sampai moonset sekitar shubuh maka waktu melihat sekitar 8 jam-an. Dan akan bisa kita saksikan lagi setelah terbit diufuk timur pada Kamis sekitar maghrib sampai jam 21:56 (sekitar 4,5 jam). Jadi total fase 100% Purnama hanya biasa kita sempat melihatnya sekitar 1,5 + 4,5 = 5 jam saja atau sekitar 5 jam alias 4,8 % dari total waktu Purnama, atau kalau mau begadang nonton Purnama sampai Shubuh menjadi 8 + 4,5 = 12,5 jam  atau 55 % dari total waktu Purnama. Total waktu selama fase Purnama 100% sesuai data di atas terjadi selama sekitar 24 jam.
Kebanyakan kita akan melihat Bulan sebagai Purnama adalah pada Kamis 2 Agustus 2012, selepas Maghrib sampai Shubuh (Jum’atnya). Padahal fase 100% Purnama hanya terjadi pada Kamis selepas maghrib sampai jam 10 malam saja. Jadi hanya sekitar 4,5 jam dari sekitar 12 jam malam itu. Lihat gambar di bawah:
Fase Purnama Ramadhan 1433 H

Fase Purnama Ramadhan 1433 H

Dari data di atas juga dapat kita pahami, ternyata fase Bulan Purnama tidak mesti terjadi pada tanggal 15, karena pendangan mata kita sangat tidak mungkin membedakan bulatnya Purnama yang secara hisab terjadi pada tanggal 12, 13 dan 14 di atas. Untuk membuktikan, silakan saksikan dan potret Purnama pada ke-3 tanggal tersebut…
Kapan Purnama terjadi?
Untuk mengetahui kapan sih Bulan akan benar2 Purnama atau terang cahanya tampak penuh 100% secara astronomis, selain menggunakan SNPP karya ilmuwan luar, maka ada pula cara simpel menggunakan MS Excel-karya muslim Jowo-, silakan unduh file Gus Moeid dari RHI Gresik di link ini: http://bit.ly/oXEtGC
Purnama Heboh..!
Fenomena Bulan Purnama sebenarnya terjadi setiap bulan, karena memang demikianlah siklus bulanan sang Bulan telah ditaqdirkan Allah SWT untuk mengelilingi Bumi (Berevolusi). Namun Tahun 2011 atau tepatnya setelah terjadi perbedaan memasuki awal Syawwal 1432 H, fenomena yang biasa dan lumrah terjadi setiap pertengahan bulan Islam ini tiba2 menjadi tenar dan sampai menghebohkan dunia falak Indonesia.
Mengapa bisa heboh? Karena wajah remBulan yang tampak penuh kedamaian itu tiba-tiba digunakan untuk mencoba melakukan uji-kebenaran tentang penentuan 1 Syawwal 1432 H, mana sih sebenarnya yang shahih/benar dan mana yang khoto’/salah, antara Hisab-WH dan Rukyat-IM? Purnama Syawwal 1432 H ini akan menjadi saksi..!
Padahal, akar perbedaan sebenarnya bukan pada Purnama atau tidak, namun pada definisi Hilal yg belum ada kesekapatan…
Kebetulan, memang Syawwal 1432 H yang lalu, Purnama terjadi pada 15 Syawwal meski detailnya tidak saya urai di sini.
Meminjam istilah Pak Ma’rufin:

Bulan Purnama tidak dapat dijadikan sebagai indikator tanggal 15 Hijriyyah. Jika dibalik, tanggal 15 Hijriyyah selalu bertepatan dengan Bulan Purnama adalah mitos.

6 Tanggapan

  1. Assalamualaikum wwb
    Kepada Yth para Ahli Astronomi & Fisikawan Muslim serta Ahli Falakiyah
    Baik yang tergabung dalam Badan Hisab dan Rukiyah maupun yang tidak.

    Mohon maaf, saya – Mulyana, wiraswasta, SMA jurasan IPA dan pernah kuliah di FKIP jurusan Dunia Usaha, pada waktu SMA mendapat mata pelajaran Ilmu Bumi dan Antaraiksa. Saat ini mengaji Tafsir AlQuran dengan Ustd M.Shollahudin di Wisata Hati Semarang dan Kajian dan Pendalaman AlQuran Tauhid dengan Ustd Abdullah Masykur di Masjid At Tauhid. Ustd Abdullah Masykur cukup mumpuni dalam ilmu Nahwu dan Shorof Bahasa Arab AlQuran. Saya bermaksud membagi pengetahuan yang saya peroleh dengan para Ahli tentang pengembangan istilah-istilah yang ada dalam AlQuran dimuncul Ust Abdullah Masykur. Tujuannya agar para Ahli menganalisa dan mengevaluasi, sehingga saya tidak takhlid pada satu orang saja.

    1. QS.10:5
    “DIA-lah yang menjadikan (ja’ala) Surya DHIAAN (sumber menerangi) dan Bulan (qomar) bercahaya serta menentukan MANAAZILA (tempat turunnya) agar kamu mengetahui bilangan SINIINA (sunatu/tahun qomariah) dan perhitungan (sasi/syahro). ALLAH tidak menciptakan demikian itu kecuali dengan hal HAQ (LOGIS). DIA menjelaskan Ayat2 pada kaum yang berilmu (ilmuwan)”

    2. QS.10:6
    “Sesungguhnya pertentangan (ikhtilaf) malam dan siang dan apa yang ALLAH ciptakan di Samawat (planet2) dan Bumi ada Ayat2 bagi kaum yang menginsafi/menyadari”

    3. QS.17:12
    “Dan KAMI jadikan malam dan siang dua Ayat, lalu KAMI hapus Ayat malam dan KAMI jadikan Ayat siang secara terang benderang agar kamu mencari karunia (berupa ilmu) TUHAN-mu dan agar kamu mengetahui bilangan SINIINA (tahun qomariyah) dan perhitungan. Setiap sesuatu KAMI jelaskan dia dengan penjelasan (Ayat dengan penjelasan Ayat dalam AlQuran)”

    4. QS 36:39
    “Dan Bulan (qomar) KAMI tentukan MANAAZILA (tempat turunnya) hingga dia berulang (‘ada) seperti (ka) kenaikan (‘urjuuni/’aroja) dahulu/awal/permulaan (qodiimu)”

    5. QS.71:16
    “DIA menjadikan Bulan (Bulan2) FIIHINNA (pada mereka – bentuk jamak) ada cahaya dan menjadikan Surya pelita (siraajan)”

    6. QS.2:189
    “Mereka bertanya padamu (Muhammad) tentang Hilal (Bulan Sabit), katakanlah: dia adalah penentuan waktu dan Hajji. Dan tiadalah kebaikan bahwa kamu mendatangi rumah (baytu/system penanggalan) dari belakangnya. Tetapi kebaikan itu adalah yang menginsafi/menyadari dan datangilah rumah2 dari pintu-pintunya (penanggalan qomariyah dimulai dengan munculnya bulan baru).insaflah pada ALLAH semoga kamu beruntung/menang (tidak mengikuti penanggalan syamsiah)”

    7. QS.2:185
    “bulan (syahro/sasi) Ramadhan adalah diturunkan padanya AlQuran petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan tentang petunjuk serta garis pemisah (furqon). Siapa yang membuktikan (syahida) dari kamu bulan (syahro) itu hendaklah mempuasakannya. Dan siapa yang sakit atau atas beban maka hitungannya pada hari-hari berikutnya. ALLAH menginginkan kemudahan bagimu, tidak menginginkan kesulitan padamu dan agar kamu menyempurnakan hitungan itu serta membesarkan ALLAH atas yang DIA tunjukkan padamu dan semoga kamu menghargai/bersyukur”

    Gagasan/pemikiran yang disampaikan Ustd Abdullah Masykur sbb:

    a. Istilah MANAAZILA berasal dari akar kata NAZALA yang berarti turun, dengan demikian MANAAZILA dapat diartikan tempat turun, yaitu tempat turunnya Qomar ketika bentuk/fase Qomar mencapai tua/mati. Kemudian Qomar ‘URJUNI/’AROJA yang artinya naik menjadi bentuk/fase Qomar yang baru. Qomar itu beredar sudah seperti sistem dan kontinu
    b. Istilah SYAHIDA, syahada= mengakui (QS.3/52, QS.3/70), syahida=buktikan (QS.2/185, QS.3/18), syaahidu=penyaksi (QS.3/53,QS.9/17), syuhadaau (jamak)=pemberi-pemberi bukti (QS.22/78), syahaadatu=persaksian (QS.6/19), syuhuwdu=yang menjadi penyaksi (QS.85/3, QS.85/7, QS.10/61), syahiidu=pemberi bukti (QS.2/143, QS 28/75). SYAHIDA dapat diartikan membukti, membuktikan itu berkaitan dengan HISAAB (perhitungan secara matematis), membuktikan juga dapat mencocokkan fakta/bukti yang ada. Secara jelas pada QS.2/185 memang ALLAH tidak menyuruh melihat (ra a).
    c. QS.2/189 ada istilah HILAL/AHILLAH (Qomar/Bulan Sabit) dan HAJJI, menurut beliau mungkin ada kaitannya dengan QS.2/185. Gagasan beliau mungkinkah 1 Ramadhan dan 10 Zulhijah jatuh pada nama hari yang sama jika umur Ramadhan 30 hari.
    d. Menurut beliau dalam penanggalan Qomariyah yang diteliti lebih lanjut untuk dibuktikan :
    – Apakah setiap 1 Muharram pada siklus/periode tertentu ditandai dari gerak Surya atau Qomar, misalnya apa mungkin ditandai gerhana matahari
    – Katanya 18/19 Maret 1969 terjadi gerhana Matahari tidak penuh didaerah equator pada saat itu tepat 1 Muharram, ini yang perlu dilakukan penyelidikan dan pembuktian
    – Untuk pembuktian 1 Ramadhan apakah bisa dengan pembuktian dari bulan sya’ban tepatnya nisfu sya’ban atau pertengahan bulan sya’ban, menurut sejarah bahwa umur bulan sya’ban pasti/selalu 30 hari
    – Juga perlu pembuktian adalah bahwa umur Ramadhan itu berpola 29 hari, 29 hari kemudian 30 hari, dimana tahun ke 3 umurnya 30 hari atau juga yang disebut tahun kabisatnya penanggalan Qomariyah. Hal ini sesuai QS.2/184, hari-hari berbilang.
    – Dibuktikan juga yaitu jika umur Ramadhan 30 hari maka 10 Zulhijah jatuh pada nama hari yang sama, misal tahun 1433 jika yang mengikuti 1 Ramadhan tgl 20 juli yang bertepatan hari Jum’at apakah juga nanti 10 Zulhijah juga hari Jum’at
    – Jadi menurut beliau kuncinya 1 Ramadhan, nisfu sya’ban, 1 Ramadhan, dan 10 Zulhijah dalam penanggalan Qomariyah

    Demikianlah gagasan Ustd Abdullah Masykur yang catat dan saya bermaksud minta bantuan para Ahli untuk menganalisa, agar saya mendapat keilmuan dan saya tidak taklid hanya pada seseorang saja. Sesuai Firman ALLAH:

    QS.6/67 “Bagi setiap kabar (nabaa) ada fakta yang ditentukan (mustaqorrun) dan akan kamu ketahui nantinya/kelak

    QS.38/87 “Bahwa dia (AlQuran) melainkan pemikiran/peringatan bagi seluruh manusia”
    QS.38/88 “Dan akan kamu ketahui perkabarannya (pembuktiannya) sesudah waktunya”

    Waalaikummusalam wwb
    Mulyana – wiraswasta
    Tinggal di Puspanjolo Tengah 3/9 RT 07/02 Cabean – Semarang
    KTP 33.7413.040765.0002, Hp 08112715835

    Suka

  2. kasian umat islam karena para pemuka agamanya tidak serius mendalami masalah kalender hijriah padahal udah empat belas abad agama ini. mau sampai kapan umat islam berpecah belah. mudah2an Allah SWT memberi hidayah kepada pemuka agama untuk segera duduk satu meja membahas tuntas masalah umut ini dan menjauhi kepentingan pribadi dan golongannya yg busuk itu.

    Suka

  3. kalo tentang wacana rukyat global gimana ya pak? selama ini yang jadi dasar sidang itsbat Indonesia hanya rukyat di wilayah Indonesia, klo say perhatikan di situs moonlighting kadang2 hilal di Indo mmg belum terlihat tapi di belahan bumi yg lebih barat hilal sdh terlihat. kaya’nya yg jadi maslah ungkin kriteria derajatnya… ato mungkinkah bisa satu dunia dunia dg satu rukyat global untuk seluruh umat Islam di bumi?

    yang pasti, bumi itu bulat; dan kalau satu muka siang, pastimuka bumi lainnya malam. Hitungan hari juga pasti berbeda…🙂

    Suka

  4. Assalamualaikum wwb
    Mohon maaf Pak AR sy, Moelyana – wiraswasta kuliner di Semarang, punya sedikit Gagasan yang mungkin dapat menjadi bahan pemikiran untuk Penanggalan Qomariyah. Mohon maaf pendidikan formal sy tdk ada kaitannya Astronomi dan Falak, Cuma sewaktu SMA dpt pelajaran Ilmu Bumi dan Antariksa dan sekarang suka bacaan astronomi dan falak.

    GAGASAN
    Data di Buku Hisab Mutlak pak Henk (hlm.15) (dan sumber lain yang pernah saya baca) menyebutkan: …..waktu yang diperlukan adalah 29 hari, 12 jam, 44 menit, 03 detik. Inilah yang disebut umur bulan Qomariyah. Kalau hal ini dikonversi menjadi ± 331o15’ atau dalam sehari sejauh 11o12’. Kalau benar demikian orbit Qomar keliling Bumi juga dapat dikatakan oval/eklips bukan lingkaran penuh 360o, sehingga 360o – 331o15’ = 28o45’ dalam satu bulan. Itu artinya Bumi mengorbit keliling Surya yang berdasarkan orbit Qomar keliling Bumi adalah 28o45’ dalam satu bulan. Jika hal itu dikalikan 12 bulan (sesuai QS.9/36) : 28o45’ x 12 = 345o. Kemudian jika dikonversikan menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik ? Ini untuk sementara memberi bukti Ayat mutasyabihat QS.53/14.

    Kemudian jika 360o – 345o= 15o sebelum mencapai titik lingkaran penuh 360o atau terlambat 15o setiap tahunnya ? Kalau logika itu benar Bumi akan kembali ke posisi semula ke titik lingkaran penuh memerlukan waktu 15o x 24 tahun = 360o ?

    Yang perlu dibuktikan adalah titik awal Bumi mulai mengorbit keliling Surya dititik terdekat dengan Surya dalam periode itu, apakah bertepatan dengan 1 Muharram ? Bagaimana cara memberi bukti ? Bukankah siklus 24 tahun itu tetap/berulang/rutin ? Kalau logika itu benar maka Kalender Hijriyah bisa berlaku 24 tahun dengan mengontrol Hilal tiap bulan ?

    Saya mengambil data Gerhana Solar, apakah peristiwa Gerhana Solar yang terekam dengan penanggalan Masehi, apakah bisa ditelusuri hari dan tanggal Qomariyah nya mohon pak Henk kirannya menyelidiki, kira2 apa ada pola/pengulangan periodenya ? Apakah mungkin Gerhana Surya yang bertepatan Posisi Bumi terletak di titik terdekat dengan Surya dan juga bertepatan Surya berada di atas daerah equator Bumi (equinox) ? Misal peristiwa Gerhana Surya tidak penuh di sebagian Indonesia 18/19 Maret 1969

    Suka

  5. […] sih sebenarnya yang shahih/benar dan mana yang khoto’/salah, antara Hisab-WH atau Hisab-IR? Purnama Syawwal 1433 H  telah menjadi saksi..! Padahal, akar perbedaan sebenarnya bukan pada Purnama atau tidak, namun […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: