Kiblat ‘Ukhuwah’ Padon-Pucangmiliran-Tulung-Klaten

Meski sudah lama, namun ini salah satu kegiatan pelatihan ilmu falak yg paling memberi kesan mendalam, karena akhirnya ummat yang semula berseteru bisa kembali bersatu. Bahkan dua ‘kubu’ yang bersikukuh dengan pendapat masing-masing; sudah tanda tangan dan siap ber’perang’….

Kisahnya berawal dari telepon Pak  Imam Mujahid (Dosen IAIN Surakarta, dulu STAIN Ska); pada 20 Agustus 2009 (29 Sya’ban 1430 H), bahwa ada rekannya (pak Muslich dan Pak RW) dari dusun Padon desa Pucangmiliran kec Tulung kab Klaten, bahwa ada ‘kekisruhan’ di kalangan jamaah masjid Baitul Abidin, soal arah kiblat.

Kiblat masjid yg selama ini sudah berjalan, suatu ketika diuji lewat bayangan matahari saat Istiwaa A’dhom di Mekkah pada 16 Juli 2009; ternyata arahnya tidak pas alias melenceng beberapa derajat. Setelah ini, setiap sholat berjamaah, sang imam mengikuti arah kiblat sesuai bangunan masjid sementara mayoritas jamaahnya sudah mengikuti arah yg sudah dikoreksi.

Persoalan meruncing mendekati masuknya bulan suci Ramadhan 1430 H, bahkan jamaah yg sudah terbagi menjadi dua ‘kubu’ pemahaman bersikeras menuntaskan dengan cara kekerasan sekalipun. “Mereka bahkan sudah tanda tangan untuk siap ber’perang’ – demi menuntaskan persoalan ini”, jelas pak Muslich; salah seorang jamaah yg didampingi Ketua RW setempat.

Awalnya pak Muslich meminta bantuan sahabatnya di STAIN (Pak Imam), namun akhirnya pak Imam mengarahkan untuk menghubungi saya di Assalaam.

Karena setiap akhir Sya’ban adalah hari dimana saya selalu mengajak tim Rukyah Hilal PPMI Assalaam ke Parangkusumo Jogja, maka sangat sulit untuk bisa hadir dan menjelaskan / menyatukan dua pendapat soal kiblat di Padon sesuai permintaan, pada tanggal 20 Agustus malam-karena posisi saya masih di Jogja.

Maka diputuskan untuk mengundang semua jamaah Masjid Baitul Abidin Padon untuk hadir pada hari Jum’at, 21 Agustus 2009 (30 Sya’ban 1430 H) jam 09:00 – 11:00 WIB. Meski mendadak, dan menjelang sehari menuju Ramadhan, jamaah bisa hadir semuanya.

Tepat jam 09:00 acara dimulai, diawali sambutan ketua RW; beliau meminta semua warganya untuk saling menahan diri dan mencoba memahami persoalan secara ilmu. Dilanjut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an mengambil ayat ke-10 surat Al-Hujurat “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dan sekitar 1,5 jam penjelasan tentang arah kiblat dilanjut praktik menentukan arah kiblat menggunaka Google Earth dan Kompas, akhirnya dua ‘kubu’ bisa saling menemukan jalan tengah untuk bersatu kembali. Saya hanya menjelaskan caranya, namun yg melakukan pengukuran arah kiblat semua jamaah. Dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka.

Sekitar jam 11:00, acara diakhir, dan persiapan untuk sholat Jum’at. Do’a Pak RW yg sempat meneteskan air mata saat memberikan sambutan, akhirnya di-qobul-kan Alloh SWT menjadi kenyataan; akhirnya warga kembali bisa bersatu dan tidak jadi ber’perang’…al-hamdulillah….🙂

Foto2 ini menjadi saksi bisu….:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: