Ceramah Ramadhan: Berimankah kita?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2] : 183)”.

Sudah menjadi tradisi, bahwa ketika kita memasuki bulan Ramadhan, maka ayat yang paling sering kita dengar adalah surat Al-Baqoroh ayat 183 di atas. Persoalan berikutnya, apakah ayat di atas sudah benar-benar kita hayati maknanya, sehingga hakikat puasa yang diperintahkan Alloh sang Pencipta semesta ini mampu memberikan makna bagi kehidupan kita?

Dari ayat di atas terlihat sangat jelas, bahwa Alloh menyatakan puasa itu hanya wajib bagi orang yang beriman. Di akhir ayat, Alloh SWT menyatakan bahwa hasil yang digapai pasca melaksanakan puasa ramadhan adalah status ideal seorang yang beriman, yakni taqwa. Insya Alloh hakikat ketaqwaan akan kita kupas di kesempatan berikutnya.

Dalam sebuah hadits Rasululloh SAW telah bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy). Hadits ini semakin mudah kita hayati manakala bulan Ramadhan sudah memasuki pertengahan dan akhir menjelang bulan Syawwal. Betapa ketika awal bulan, semua masjid begitu makmur dan penuh sesak dengan jamaah untuk mendirikan sholat Isya dan Tarawikh. Begitu juga saat tadarus al-Qur’an. Bahkan saat sholat Shubuh, jamaah pun sangat berbeda dari 11 bulan sebelumnya. Apakah ini yang dimaksud Rasululloh SAW dalam hadits di atas? Dan mengapa hal ini bisa terjadi?

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah, ayat 183 surat al-Baqoroh di atas. Alloh SWT hanya memerintahkan puasa selama bulan Ramadhan hanyalah kepada orang-orang yang beriman. Kalau orang sudah benar-benar beriman, maka amalan selama bulan Ramadhan serasa tidak beda beratnya dengan bulan-bulan sebelumnya dan pada bulan-bulan sesudahnya, kualitas amalan seorang yang beriman menjadi sangat meningkat.

Manusia adalah makhluk yang selalu diserang Iblis dari berbagai sudut, maka kualitas iman akan menjadi fluktuatif. Suatu saat kualitas iman tinggi; saat lain rendah. moment bulan Ramadhan adalah wahana untuk menjadikan kualitas iman stabil, dan nilai atau hikmah puasa berbekas di bulan selanjutnya. Namun, sekali lagi dengan satu syarat bagi orang yang beriman.

CIRI ORANG BERIMAN

Tersebut dalam surat Al-Anfaal ayat 2 – 4, setidaknya ada 5 ciri utama orang beriman itu, masing adalah :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal [8] :2-4)

Dari ayat di atas, maka ciri utama orang beriman adalah pertama, bila disebut asma ‘Alloh’, maka hati mereka tergetar. Maksud orang beriman pada ayat ini adalah orang yang sempurna imannya. Dan yang dimaksud dengan disebut nama Allah yakni disebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

Selama bulan Ramadhan, bila terdengar oleh telinga kita, adzan berkumandang, maka hati ini mestinya bergetar dan kaki kita segera melangkah mengambil air wudlu lalu bersegera mendirikan sholat. Namun bila adzan hanya melintas telingan kanan menuju kiri dan lepas tanpa bekas, maka hakikatnya kita belum beriman. Idealnya, ketika adzan berkumandang, semua aktifitas kita hentikan dan beralih menuju ritual paling sakral yakni berkomunikasi dengan Alloh Sang Pencipta kita. Selama Ramadhan, kita akan lebih sering mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, juga banyak kajian yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Alloh. Media baik cetak maupun elektronik secara khusus mengemas acara khusus untuk memeberi warna pada bulan Ramadhan ini. Semuanya ingin memberi warna agar asma Alloh menjadi semakin mudah terdengar di telinga para mukminin.

Pengalaman di lapangan, sering terbalik. Ketika mendengar adzan-panggilan Alloh SWT, hati ini serasa biasa saja dan tidak ada respon dari anggota badan kita. Namun ketika mendengar panggilan atasan, maka seluruh tenaga kita kerahkan untuk memenuhi perintahnya. Semoga moment Ramadhan mengingatkan kita agar kita berpuasa untuk meningkatkan kualitas iman, dengan hati senantiasa bergetar saat asma Alloh disebut.

Kedua, istiqomah mendirikan sholat. Dalam Al-Qur’an Alloh SWT telah memerintahkan kita untuk sholat 5 waktu: ”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Israa’[17]:78]

Orang beriman adalah paling rajin mendirikan sholat yang lima waktu dan ditambah dengan sholat sunnah lainya. Ketika bulan Ramadhan, orang beriman akan lebih rajin termasuk ketika mendirikan sholat Tarawikh. Orang beriman sadar bahwa mendirikan sholat adalah kebutuhan yang harus ia penuhi agar tidak ada yang hilang dalam hidup ini. Dampak dari amalan sholat adalah bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

Bila hanya selama Ramadhan kita rajin sholat, dan selepas Ramadhan kembali biasa saja bahkan meninggalkan sholat tidak merasa berdosa, maka kita sebenarnya belum beriman dengan sempurna. Dan bila belum sempurna iman kita, maka kita berpuasa hanyalah akan membuat badan ini lapar dan dahaga saja. Sebab syarat berpuasa belum kita penuhi, yakni beriman.

Orang beriman sadar dengan sepenuh hati bahwa sholat adalah sangat penting, karena dengan selalu mendirikan sholat berarti ia telah mengokohkan tiang agama. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, berarti dia telah meruntuhkan agamanya. “Sholat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi). Bahkan yang lebih kontras lagi adalah, sholat juga berfungsi sebagai pembeda antara orang muslim dengan kafir. Barang siapa tidak sholat berarti dia kafir. “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)

Orang beriman juga sangat sadar bahwa kelak amal yang pertama akan dihisab di akhirat adalah sholat. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, maka meskipun selama Ramadhan berpuasa sebulan penuh, orang semacam ini kelak di akhirat akan langsung dimasukkan ke dalam neraka. ”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah sholat, maka apabila sholatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika sholatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (Thabrani)

Orang yang beriman sadar bahwa penyebab orang akan disikasa di neraka Saqar adalah karena selama hidupnya tidak mendirikan sholat kelak akan disiksa di neraka. “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat….” (QS. Al-Muddatstsir[74]: 42-43)

Ketiga, apabila dibacakan ayat-ayat Alloh bertambahlah kualitas imannya. Ayat Alloh yang tertulis barangkali mudah membuat hati sedikit tersentuh dan menjadikan kadar keimanan naik kualitasnya. Namun, yang jauh lebih banyak dan senantiasa kita lihat dan dengarkan adalah ayat-ayat-Nya yang justru tidak tertulis di dalam kitab suci Al-Quran, yakni ayat atau tanda-tanda kebesaran Alloh yang tersebar di seantera jagat ini. Pernahkah kita menyadari, bahwa selama ini kita belum pernah melihat Matahari? Kita menganggap bahwa setiap pagi hingga sore saat udara cerah kita bisa melihat sang Surya itu dengan mata kita… Sungguh, kita telah tertipu. Kita selama ini hanyalah melihat sejarah Matahari, karena Matahari yang sebenarnya adalah Matahari yang kita saksikan sekitar 8,3 menit silam. Bintang Al-Nilan yang kita saksikan malam-malam ini, sebenarnya adalah sejarah Al-Nilal yangtelah dipancarkan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dengan melihat kemudian mengkaji dan menghayati ayat-ayat-Nya di semesta ini, sungguh iman kita bisa bertambah kualitasnya.

Keempat, bertawakkal kepada Alloh, kapan dan dimana pun. Orang beriman tidak akan berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Hidupnya selalu dinamis dan proaktif serta optimis dalam kondisi seperti apapun, karena Alloh SWT adalah Dzat tempat mengembalikan semua persoalan hidup. Dan ciri utama orang yang pandai bertawakkal adalah selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Alloh SWT.

Kelima, menafkahkan sebagian harta. Ciri ini melekat dalam diri orang yang beriman dan membawa kerberkahan bagi ummat di sekelilingnya. Salah satu bukti kalau seseorang beriman, maka tetangganya akan mendapatkan manfaat dari keberadaannya. Dengan rajin sedekah, berarti orang beriman telah menjadi salah satu unsur rohmatan lil’alamin sebagaimana fungsi diturunkannya Rasululloh SAW.

Rasullulloh SAW adalah teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasululloh SAW dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasululloh SAW sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasululloh SAW memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, orang yang beriman dan mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Pertanyaan terakhir, apakah kita layak menjalankan puasa? Tergantung dari keimanan kita, tergantung pada 5 ciri di atas pada diri kita…..[]

sumber:  Harian Joglo Semar, edisi Jum’at 05 Agustus 2011

http://harianjoglosemar.com/berita/berimankah-kita-50826.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: