Menjadi Guru Idola

Menjadi Guru Idola

Menjadi Guru Idola

Ternyata sejak 1937 Ki Hadjar Dewantara sudah pernah menuliskan dua dimensi seorang Guru; yakni Gu=digugu dan Ru=ditiru. Maka menjadi GuRu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani). Bukan waGU dan saRU atau setiap mingGu bisanya tuRU… hehe. Inilah tema sentral yang dibahas dalam Seminar dan Talkshow Pendidikan di Assalaam, Sabtu (23/10).

Acara yg diadakan Sabtu, 23 Okt 2010 jam 08:00 – 14:00 di lantai 2 Aula Utama PPMI Assalaam Solo, menghadirkan nara sumber seorang motivator & Inspirator ReligioSpiritual- Drs. HD. Iriyanto, MM yang juga Direktur GIM HRD Training Center Yogya, Dosen Amikom, dan Staf Ahli pembelajaran Primagama Pusat.

Guru Idola = Gurunya Manusia:

Salah satu materi yang beliau sampaikan, kalau mau jadi guru yang diGugu dan diTiru, maka harus mampu mengamalkan 5 paradigma berikut:

  1. Menjadikan 3 sasaran bidang garap pendidikan (koginitif-psikomotor-afektif) berkembang secara optimal.
  2. Mengakui dan menghargai kecerdasan anak yangberbeda
  3. Menyesuaikan gaya belajar siswa
  4. Menfokuskan pada aktifitas siswa
  5. Menfokuskan pada penguatan kemampuan BUKAN ketidakmampuan siswa

Kontrak Belajar:

Kebanyakan guru, pertama kali masuk kelas mestinya melakukan kontrak belajar, sejenis MoU antara Guru dan Murid. Guru punya komitment yang wajib diikuti murid, dan murid diminta juga punya hak yg harus dipenuhi sekaligus wajib bertanggungjawab atas kewajibannya sebagai murid. Maka akan klop antara guru dan murid, sehingga KBM bisa berjalan dengan baik. Ada saling take and give.

Dicontohkan, saat pertama tatap muka; guru minta agar murid menulis yang dimaui dari cara mengajar, sebaliknya guru boleh menuntut murid disiplin; sehingga ada timbal balik. Selanjutnya pihak sekolah di akhir semester melakukan angket tentang cara mengajar seorang guru pada seluruh murid, yang sukses diberi reeward. Jadi jangan hanya murid yang diuji, guru juga wajib diuji.

Sebaliknya, kalau kontrakbelajar ndak dilakukan, maka yg terjadi seperti kebanyak yang selama ini guru lakukan; yakni guru hanya mengira2 saja cara yang baik dalam mengajar. Cara yang tidak logis, cara yang hanya membathin; sebab seolah guru menguasai ilmu kebatinan. Dunia KBM memerlukan ilmu yang logis, ilmu yang terukur. Sebab yang akan dinilai adalah tiga ranah kemampuananak didik: kognitif-psikomotor-afektif.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Terima kasih atas pencerahannya pak guru :), salam kenal dari komunitas Pojok Pendidikan dan mohon izin tulisan ini dipublish di twitter kami ๐Ÿ™‚

    http://twitter.com/pojokpendidikan

    senang hati bisa sharing… salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: