Kapan ‘Idul Adha 1431 H..?

'Idul Hajji

'Idul Hajji

Hari Raya ‘Idul Adha 1431 H bakal berbeda. Muhammadiyah sudah memastikan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1431 H) akan jatuh pada Selasa, 16 Nopember 2010, karena awal Dzul-Hijjah 1431 H menurut Muhammadiyah jatuh pada 6 Nop 2010 berdasar kriteria wujudul hilal. Sementara Pemerintah dan NU memastikan Hilal belum nampak pada 6 Nop 2010.

‘Idul Adha 1431 H menurut…

1. Muhammadiyah (Hisab-Wujudul Hilal):

Berdasar maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 05/MLM/I.0/E/2010 dijelaskan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Ahad (Minggu), 7 November 2010. Karena pada saat ijtimak 29 Dzulqo’dah jatuh pada hari Sabtu 6 November pukul 11:53:04 WIB dengan tinggi hilal (bulan) pada saat matahari terbenam di Jogjakarta 01 derajat 34 menit 23 detik.

Maklumat yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin dan Sekretaris Agung Danarto tersebut sebenarnya bukan hal baru. Maklumat itu sudah diterbitkan PP Muhammadiyah tertanggal 16 Juli 2010 lalu. Isinya satu paket dengan penetapan awal Ramadan dan penetapan Lebaran Idul Fitri (10 September).

2. Nahdlotul Ulama (Rukyah Hakiki):

Berdasarkan kitab Sullamul Nayiren, ada tiga ahli hisab, ternyata ada satu yang berbeda. Maksudnya, dua memutuskan ‘Idul Adha 1431 H jatuh pada 17 Nopember 2010 M, karena 1 Dzul-Hijjah 1431 H jatuh pada 8 Nopember 2010 M. Sementara yang satu menyatakan ‘Idul Adha 1431 H jatuh pada 16 Nopember 2010 M, karena 1 Dzul-Hijjah 1431 H jatuh pada 7 Nopember 2010 M.

Demikian juga dengan sistem Muwakkib, sistem modern, kitab Qowaidul Falakiah dan kitab Muntahal Aqwal, yang menjelaskan bahwa awal bulan Dzul-Hijjah 1431 H juga jatuh pada 7 Nopember 2010 M.

Sementara dalam kitab empiris Hisab Rukyah, dari tujuh ahli rukyah yang melakukan penghitungan, tiga orang menyatakan 1 Dzul-Hijjah 1431 H jatuh pada 7 Nopember 2010 M, sedangkan empat orang sisanya pada 8 Nopember 2010 M. Dan berdasar kitab Almanak Nautika, dari tiga ahli hisab, satu menegaskan 1 Dzul-Hijjah 1431 H jatuh pada 7 Nopember 2010 M, sedangkan dua lainnya pada 8 Nopember 2010 M.

Untuk memastikan Hari Raya ‘Idul Adha 1431 H, PWNU pada 6 Nopember 2010 akan menerjunkan tim rukyatul hilal di delapan lokasi.  Berdasar hasil rukyat itulah, baru dapat dipastikan apakah ‘Idul Adha 1431 H, tanggal 16 atau 17 Nopember.

Bila NU konsisten, insya Alloh 1 Dzul-Hijjah 1431 H akan jatuh pada 8 Nopember 2010 M. Tetapi bila ada klaim, seperti kasus awal Ramadhan 1431 H lalu, maka NU bisa jadi akan sama dengan Muhammadiyah, ‘Idul Adha = 16 Nop.

3. Pemerintah RI (ImkanurRukyah):

Pemerintah bisa menetapkan Hari Raya ‘Idul Adha 1431 H setelah mengetahui hasil sidang Itsbath Kementerian Agama  pada 6 Nopember 2010. Dalam sidang ini, seluruh ormas Islam dan perwakilan negara-negara Islam di Indonesia akan diundang.

Bersama Prof. Dr. Nazaruddin, MA

Bersama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA

Menurut Dirjen Bimas Islam Prof Dr Nasaruddin Umar, sudah empat tahun ini umat Islam di Indonesia selalu memulai puasa Ramadhan dan merayakan hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha secara bersamaan, kecuali ada sekelompok kecil pengikut tarekat. “Selama 4 tahun ini tidak ada lebaran ganda. Namun pada penetapan ‘Idul Adha 1431 H, bisa saja terjadi perbedaan diantara ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah. Karena metode yang dipergunakan kedua ormas ini tidak sama” .

Dalam salah satu surat resminya, Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI telah menuangkan data hisab Dzul-Hijjah 1431 H sbb…

4. Pemerintah Saudi (Rukyah):

Karena sistem yang dipakai pemerintah Saudi Arabia untuk menentukan awal bulan adalah Rukyah, maka bila konsisten dengan hisab kontemporer; awal Dzul-Hijjah 1431 H menurut kriteria astronomi modern, di Saudi juga insya Alloh akan jatuh pada Senin, 8 Nopember 2010 M, ini artinya ‘Idul Adha 1431 H di Saudi juga akan jatuh pada 17 Nopember 2010 M.

Kecuali kalau ada klaim, dan ‘tragedi’ 1428 H sangat mungkin terulang. Semoga pemerintah Saudi konsisten pada kriterianya.

Kapan ‘Idul Adha 1431 H…?:

  1. Muhammadiyah  : Selasa, 16 Nopember 2010 M – sudah
  2. Nahdlotul Ulama : Rabu, 17 Nopember 2010 M – menunggu hasil rukyah
  3. Pemerintah            : Rabu, 17 Nopember 2010 M – menunggu hasil rukyah
  4. Saudi Arabia          : Rabu, 17 Nopember 2010 M – menunggu hasil rukyah

Menyikapi Perbedaan itu….

Saya pernah bertanya kepada Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA;  soal perbedaan menentukan awal bulan ini. Dan berikut jawaban beliau…

Bagi yang tidak bisa melihat videonya, berikut resumenya:

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA (...- detik ke 4:40).

1. Sebenarnya sudah ada usul-usul, pandangan2 yg kalau bisa diterima: Selesai persoalan, tapi tidak mau.

Misal: Hukmul Hakim Daf’ul Khilaf = Kalau Hakim sudah memutuskan, maka tidak boleh ada perbedaan. Surat resmi Badilag (…red)

Tetapi usul ini tidak diterima. Buktinya Ormas tidak masuk dalam tujuan surat Badilag (…red)

2. Kalau sudah sudah dilihat Hilal di suatu wilayah, maka seluruh wilayah lain sudah masuk waktu, selama belum ada beda hari. Misal di Saudi maghrib, maka di Indonesia bisa ikut.

Tapi usul ini juga tidak mau diikuti. Kita masing-masing beragama “Saya yang paling BENAR”.

Contoh kalau kita mau toleransi, madzhab Syafi’i mengatakan: Tidak shah sholat tanpa al-fatihah, tidak shah fatihah tanpa basmalah. Kalau kita sholat sendiri harus baca basmalah. Tapi apakah kalau kita sholat di Saudi yang imamnya tidak pakai basamalah lalu sholat kita tidak shah…? Tetap shah kan…

Contoh yang beliau berikan di atas, soal sholat kita bisa sepakat, tapi kenapa di soal awal bulan tidak mau; sebabnya menurut Pak Quraish, adalah karena ada Ta’ashub = Fanatisme == Kebanggan atas golongan atau madzhab. []

==update: 7/11/2010==

KLAIM HILAL:
Ternyata dugaan saya terbukti, Saudi melanggar aturan baku ilmu pengetahuan…. Ketinggian Hilal yang sangat mustahil bisa dilihat, ternyata oleh salah satu orang Saudi, Hilal awal Dzulhijjah 1431 H kelihatan dengan mata telanjangnya….

Sementara Team Rukyah resmi yang terdiri para ahli astronomi, lebih 6 orang tidak melihat hilal awal Dzul Hijjah 1431 H meski dengan alat bantu modern.

Pemerintah Arab Saudi sudah memutuskan bahwa Wukuf di Arofah jatuh pada 15 Nop 2010 dan Iedul Adha 1431 H = 16 Nopember 2010.

Tgl 1 Dzulhijah 1431 di Saudi jatuh = 7 Nop 2010, karena 6 Nop 2010 ada seseorang yang melaporkan melihat hilal. (http://www.spa.gov.sa/details.php?id=833 836)

Enam ahli rukyah di sana tidak satupun yang melihat meski mengunakan teleskop dan sudah dikonfirm oleh mr. QomarUddin dari London. (http://www.moonsighting.com/1431zhj.html)

Pemerintah Indonesia, insya Alloh akan sidang itsbat pada Senin, 8 Nop 2010 sekitar jam 10:00 pagi. Kita tunggu hasilnya. (info: K. Thobary)

–update, 8/11/2010—

Pemerintah Indonesia akhirnya menetapkan 1 Dzul Hijjah 1431 H = Senin 8 Nopember 2010. Jadi Iedul Adha 1431 H = Rabu, 17 Nopember 2010.

Keputusan Menteri Agama RI

===

Akhirnya …  ‘Idul Adha 1431 H:

  1. Muhammadiyah  : Selasa, 16 Nopember 2010 M
  2. Nahdlotul Ulama : Rabu, 17 Nopember 2010 M
  3. Pemerintah RI      : Rabu, 17 Nopember 2010 M
  4. Saudi Arabia          : Selasa, 16 Nopember 2010 M

Saya ikut Pemerintah RI, karena harga ukhuwwah sangat mahal…[]


Iklan

12 Tanggapan

  1. Syukron atas infonya, ijin share pak ustadz

    Suka

  2. Soal basmalah di al-fatihah juga belum semua bisa menerima (sebagian besar mungkin menerima). Slogan ‘saya yang paling benar’ memang masih menjadi ‘batu karang’ yang sangat kokoh untuk menyatukan umat Islam, tidak saja di Indonesia, tapi juga di dunia.
    Kalau melihat bagian tulisan di atas, Hukmul Hakim Daf’ul Khilaf = Kalau Hakim sudah memutuskan, maka tidak boleh ada perbedaan, apakah tidak berarti bahwa kita tidak perlu melakukan rukyah, cukup menungggu salah satu negara lain (arab saudi) melakukannya dan kita tinggal mengikuti saja…??
    Terima kasih informasinya…

    asal sepakat pada satu kriteria saja, it’s ok…salam

    Suka

  3. Contoh kalau kita mau toleransi, madzhab Syafi’i mengatakan: Tidak shah sholat tanpa al-fatihah, tidak shah fatihah tanpa basmalah. Kalau kita sholat sendiri harus baca basmalah. Tapi apakah kalau kita sholat di Saudi yang imamnya tidak pakai basamalah lalu sholat kita tidak shah…? Tetap shah kan…

    Wallaahu a’lam, apakah di Saudi imamnya tidak pakai basmalah ataukah basmalah dibaca sirr? Setahuku kedua hal tersebut berbeda.

    Mengenai awal bulan, kenapa awal bulan yang dipermasalahkan hanya bulan-bulan tertentu (ramadhan, syawwal, dan dzulhijjah), bagaimana dengan bulan-bulan lainnya? Kenapa awal bulan dzulqa’dah (dan beberapa bulan lain) tidak dipermasalahkan (mengikuti hisab?) dan adakah yang melakukan ru’yatul-hilal utk bulan2 tsb?

    Misalkan di awal bulan dzulqa’dah terjadi mendung, apakah dilakukan istikmal jg? Lalu bagaimana jika tjd bulan yg 28 hari karena kesalahan istikmal (utk lebih dari 30 hari sptnya tdk mungkin, cmiiw)?

    Jazaakallaahu khayran.

    – basmalah siir atau tidak; yg pasti ada pemahaman tanpa jahr dak shah.
    – saya rukyah setiap bulan 2x, bisa dicek lapnya di ICOP dan MCW
    -pernah terjadi 31 hari lho, baca link di atas..salam

    Suka

    • Assalamu’alaykum,

      Soal pembacaan basmalah di dalam surat Al-Fathihah di dalam sholat, setahu saya imam Masjid Saudi membacanya, cuma dibacanya tsir (tidak dizaharkan), jadi jangan ragu ketika kita sholat di Masjidil Haram yang tidak mendengar bacaan basmalah di surat Al Fathihahnya, karena setahu saya dibaca, cuma dibacanya ditsir (pelan), dan baru membaca keras ketika membaca alhamdulillahirobbil’alamin. Hal ini karena bacaan tsir basmalah ini telah pula dicontohkan oleh Rosululloh SAW, selain bacaan basmalah yang dizaharkan.

      Tentang pernahnya penanggalan Saudi sampai 31 Dzulhijjah, sekali lagi di sini perlu difahami, bahwa di Saudi sana, terdapat 2 sistem kalender, yaitu : Kalender Ummul Quro yang digunakan untuk kepentingan umum dan pemerintahan di luar ibadah, dan berikutnya kalender khusus yang acuannya pada rukyatul hilal, digunakan khusus untuk ibadah. Kalender tersebt (kalender syar’i) yang khusus digunakan untuk ibadah (Shaum Ramadahn, Idul Fitri, dan Idul Adha), jadikemungkinan bisa terjadi perbedaan antara kalender Ummul Quro dan kalender khusus, termasuk yang dipermasalahkan dengan adanya tgl 31 Dzulhijjah, dan kita seharusnya tidak mempermasahkannya, karena yang penting untuk kalender khusus untuk ibadah sudah dilakukan rukyat sesuai dengan contoh Nabi SAW.

      Wassalam, Hormat kami.
      Deni Sutandi

      Suka

  4. Pak Ustaz AR, ternyata Idul Idha di Saudi akan jatuh pada tanggal 16 November 2010. Silakan simak:
    http://www.aljazeera.net/NR/exeres/EEEBDB09-0447-4FA0-80CC-450A52E39B63.htm?GoogleStatID=30

    syukron Syaikh….

    Suka

  5. Baru akan menginformasikan hal yang sama dengan Pak Kamalie. http://m.eramuslim.com/berita/dunia/arab-saudi-tetapkan-idul-adha-jatuh-pada-selasa-16-november.htm

    syukron. Yg perlu kita pahami, ukhuwwah ummat Islam di negeri ini taruhannya….
    Ikut Saudi atas dasar ilmu, it’s OK…ittiba’ namanya. Namun ketika yg diikuti ndak menerapkan ilmu justru memandulkan, mungkin jadi taqlid… salam.

    Suka

  6. wah… seep..
    dari sini saya dapat info kapan idul adha 🙂
    coba kalau ga ada post ini pasti masih muter mutar ga karuan hehehe

    Suka

  7. Maaf urun rembuk, di Arab Saudi justru tidak dibaca, basmalah ketika membaca surat Al-Fatehah, Karena Nabi pun tidak membaca ( maaf kalau masalah ini terjadi khilafiah) Tapi yakinlah baik dibaca apa tidak kalau kita yakin dan dasarnya insya Allah tidak ada masalah .mengenai penanggalan Nabi SAW mengatakan hari itu tiap bulannya 29 hari atau 30 hari, tidak tuh kata Nabi SAW yang mengatakan hari-hari dalam satu bulannya 28 atau 31 inilah anehnya Bapak AR.

    Suka

  8. Mhn ijin utk share di facebook….terima kasih…

    Suka

  9. Sy kira yang penting bagi masing2 kita kembali pada dasar amal, yaitu ilmu..dan referensi setiap orang besar kemungkinan akan berbeda, asal hati betul2 ikhlas insya Allah akan menemukan yang paling benar…Ternyta ada positifnya juga ya… dengan perbedaan ini akhirnya banyak piyayi yang ingin tahu, karena penasaran. kita ambil sisi positifnya sajalah….

    Suka

  10. Jazakalloh infonya, jadi tambah mantap Idhul Adha Tgl 17 Nov 10, Bulan tidaak bisa berbohong, karena yg menggeraakaan Alloh SWT. Tapi kerajaan Manusia bisa berbohong, karena manusia masih punya nafsu + godaan syaethon. Wassalam

    Suka

  11. Assalamu’alaikum.
    “basmalah siir atau tidak; yg pasti ada pemahaman tanpa jahr dak shah” …

    Boleh saya bertanya, siapakah di antara para ulama yang menyatakan pendapat demikian?

    Telah sampai kepada kita riwayat Imam Muslim berikut :
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي الْأَحْمَرَ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لَهُ قَالَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْمُعَلِّمُ عَنْ بُدَيْلِ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ
    { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
    وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
    وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِي خَالِدٍ وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عَقِبِ الشَّيْطَانِ

    (MUSLIM – 768) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, yaitu al-Ahmar dari Husain al-Mu’allim dia berkata, –Lewat jalur periwayatan lain– dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan lafazh tersebut miliknya, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Husain al-Mu’allim dari Budail bin Maisarah dari Abu al-Jauza’ dari Aisyah radhiyallahu’anha dia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membuka shalat dengan takbir dan membaca, ‘Al-Hamdulillah Rabb al-Alamin’. Dan beliau apabila rukuk niscaya tidak mengangkat kepalanya dan tidak menundukkannya, akan tetapi melakukan antara kedua hal tersebut. Dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari rukuk, niscaya tidak bersujud hingga beliau lurus berdiri, dan beliau apabila mengangkat kepalanya dari sujud niscaya tidak akan sujud kembali hingga lurus duduk, dan beliau membaca tahiyyat pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan memasang tegak lurus kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduknya setan, dan beliau melarang seorang laki-laki menghamparkan kedua siku kakinya sebagaimana binatang buas menghampar. Dan beliau menutup shalat dengan salam.” Dan dalam riwayat Ibnu Numair dari Abu Khalid, “Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan.” HR. Imam Muslim dalam bab:
    ما يجمع صفة الصلاة وما يفتتح به ويختم به وصفة الركوع
    No. hadits 768.

    Menurut hadits ini, bacaan Nabi tanpa basmalah, tapi langsung “Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin ” tanpa didahului bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Pak, AR bisakah dijelaskan pendapat siapa yang menyatakan “basmalah siir atau tidak; yg pasti ada pemahaman tanpa jahr dak shah”.

    Saya amat menanti jawabannya. Supaya saya tidak salah membaca hadits riwayat Imam Muslim di atas.
    Wassalam

    PR baru, semoga saya bisa menemukan jawabannya. Atau ada pembaca lain yg sudah tahu?..salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: