Sifat Pema’af: Obat Alternatif

Forsil di Farmasi UMS

Forsil di Farmasi UMS

Sebagai seorang guru Madrasah, ternyata sebulan ini dapat kesempatan 2 kali bicara di forum mahasiswa. Pertama pada Kamis (2/9) di UII Terpadu, dan berikutnya Jum’at (24/9) di Farmasi UMS. Untuk kali pertama sudah saya posting di sini, dan berikut untuk kali kedua di kampus tetangga.

Agal, demikian panggilan seorang mahasiswa sem 5 Fakultas Farmasi UMS yang menemui saya di Ma’had. Sebagai kakak dari salah satu santri Assalaam, maka dia meminta pihak Ma’had untuk memberi materi pada Farum Silaturrahim di Fakultas Farmasi UMS, selepas sholat Ashar pada Jum’at (24/9).

Tema yang diusung cukup unik, “The Power of Forgiving”. Ketika saya tanya, ‘mengapa…?’. Mas Agal menjawab,’Suasana hati antar mahasiswa selama ini masih saling belum bersahabat, agar hub antar HiMa lebih hangat kembali, Ustadz…’

Melalui presentasi multimedia, saya paparkan materi “Kekuatan Memaafkan” kepada para peserta Forsil. Berawal dari hadits Rasul SAW:

صل من قطعك وأحسن إلى من أساء إليك وقل الحق ولو على نفسك
“Sambunglah tali silaturrahim dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berbuat baiklah kepada orang yang berlaku buruk terhadapmu dan katakan yang haq walau menyakiti dirimu”
=Ibn Najar, Jami’ al-Ahadits
Selanjutnya, pendapat Imuwan:

“Keistimewaan sikap memaafkan menjadikan orang yang mendapat perlakuan buruk mampu hidup tenang. Perasaan dendam dan benci akan mengeruhkan hidup, menyebabkan kegelisahan dan mengobarkan perasaan sakit di dalam relung hati. Adapun sikap memaafkan maka ia menghapuskan semua itu”
= Dr. Fitche Georant =
Selanjutnya dirman Alloh SWT:

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh
(QS. Al Qur’an, 7:199)
Ahirnya kita dapat bukti dari hasil riset di USA:

  • Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan membuktikan bahwa memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga.
  • Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka.
  • Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah.
  • Telah dibuktikan berdasarkan riset, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung.
Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh.
Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu.
Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.
=Dr. Frederic Luskin dalam Forgive for Good
Iklan

2 Tanggapan

  1. ternyata obat paling mujarab ada di dalam diri kita..
    terima kasih atas postingan yang penuh isnpirasi ini

    salam budaya

    Suka

  2. izin jadi bahan inspirasi, tulisan yang bagus

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: