Harga Seorang Guru

Guru dan Murid

Guru dan Murid

Berapa harga seorang Guru…? Satu kali gaji pokok…? Satu lembar Sertifikat…? Satu mobil dinas…? Satu rumah dinas…? Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Inilah sya’ir yg sejak saya belum lahir hingga kini masih sering saya dengar. Saya dengar terakhir kali saat acara wisuda santri PPMI Assalaam 18 April 2010 lalu. Mengapa saya dan jutaan guru lain mendapat sebutan ‘pahlawan tanpa tanda jasa…’?

Stop Sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” sudah menjadi sebutan umum di masyarakat Indonesia untuk sosok seorang guru. Maklum, tidak ada bentuk penghargaan resmi di negara ini yang secara khusus didedikasikan untuk guru. Tidak ada bintang jasa, tidak ada gelaran tertentu yang berlaku resmi secara nasional untuk mengapresiasi peran guru dalam membangun bangsa, terutama dalam membangun karakter bangsa. Para guru pun sepertinya sudah pasrah dengan sebutan tersebut, dan tidak mengeluh.

Mengajar anak-anak bangsa merupakan satu tugas yang mulia, menurut mereka (para guru) mulia dan menurut kita tidak barangkali. Masih untung disebut “pahlawan”, daripada tidak diberi sebutan apa-apa. Masih untung tidak disamakan dengan “buruh”, meskipun dalam kenyataannya mereka menjadi buruh kasar untuk sistem yang mengusung jargon “nama baik sekolah”, atau “pendidikan berbasis kompetensi”, atau “sekolah bartara(i)f internasional” atau apapun namanya: tidak ada daya untuk melawan kesewenang-wenangan ketika gaji disunat untuk keperluan yang tidak jelas, kurikulum diutak atik seiring pergantian menteri, atau jadwal Ujian Nasional dimajukan sehingga mereka harus menyelesaikan kurikulum sesegera mungkin (tapi gaji tidak dinaikkan).

Pahlawan tanpa tanda jasa, dapat diinterpretasikan sebagai pahlawan yang “tidak akan pernah diberi tanda jasa”, atau sebagai pahlawan yang “tidak perlu diberi tanda jasa”. Keniscayaan seorang guru adalah “tidak pernah atau tidak perlu diberi tanda jasa” ? Begitu sulitkah membuat suatu kategori bintang jasa khusus untuk guru ? Apakah perlu pembahasan di parlemen sampai berhari-hari, sekedar untuk mengakui jasa guru sampai ke level negara ? Mungkin pemerintah merasa sudah cukuplah guru diberi ucapan “terima kasih” oleh murid-muridnya dalam bentuk puisi ? Atau sebutan “pahlawan” cukup sebagai alat cuci tangan pemerintah untuk tidak memperhatikan kesejahteraan guru ?

Apa yang saya suarakan di sini mungkin terkesan sepele. Mengapa hanya sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” saja diributkan ? Menurut saya, apa yang kita tanamkan di otak kita tentang suatu obyek, itu akan mempengaruhi tindakan kita ke depan yang berkaitan dengan obyek tersebut. Saya ambilkan contoh: ketika kita sudah menanamkan dalam diri kita bahwa “Semua polisi itu adalah tukang palak”, maka dalam setiap tindakan kita, kita akan selalu mewaspadai kemungkinan seorang polisi akan menodong, minta uang secara paksa, dan sebagainya. Padahal tidak demikian. Dalam kasus guru, saya khawatir bahwa sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” akan membuat citra guru di mata pemerintah dan masyarakat sebagai sosok yang tidak perlu secara khusus diberi perhatian. Sudah terbukti bukan, kesejahteraan kebanyakan guru masih di bawah standar, meskipun gaji mereka dinaikkan.

Padahal, baik buruknya bangsa ini sangat ditentukan oleh para guru. Prof. Dr. B. J. Habibie tidak akan seperti sekarang ini tanpa jasa Oemar Bakri, eh…, guru. Para pembaca tidak akan dapat membaca tulisan saya, kalau tidak pernah diajar oleh guru. Mungkin di Indonesia ini hanya AD (pentolan sebuah grup musik Indonesia) saja yang tidak mengakui besarnya jasa guru.

Saya masih percaya para guru di Indonesia bukan orang-orang pengejar harta yang membabi buta. Akan tetapi, ada sisi kemanusiaan para guru di Indonesia yang tidak dapat kita pungkiri, yaitu bahwa mereka juga membutuhkan penghasilan yang memadai untuk menghidupi keluarganya. Dan tidak dapat dibantah pula bahwa tingkat kesejahteraan mereka juga mempengaruhi kinerja mereka dalam mencerdaskan kehidupan para muridnya. Kinerja guru akan mempengaruhi pula kualitas para muridnya. Tentu saja, para guru mempunyai sisi idealisme: meskipun gaji kecil, tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa itu lebih penting.

Untuk dapat memberi perhatian pada guru, langkah pertama menurut saya adalah, perbaiki dahulu pencitraan untuk para guru. Saya mengusulkan sebutan untuk mereka diganti. Bukan “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi “pahlawan dengan jasa paling besar (untuk pembentukan karakter bangsa)”. Logikanya, dengan pencitraan yang saya usulkan, ketika kita memberi tanda jasa untuk seorang pahlawan non-guru, kita seharusnya memberi tanda jasa yang lebih istimewa lagi kepada guru. Ketika kita menyadari begitu besarnya jasa para guru, saya yakin tindakan-tindakan kita ke depan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan guru dapat lebih tepat sasaran. Pemerintah juga harus menyadari, bagaimana karakter bangsa kita ke depan, akan sangat dipengaruhi oleh optimal atau tidaknya peran guru. Bagaimana mungkin peran guru menjadi optimal ketika setelah jam pelajaran sekolah selesai, dia harus menjadi pemulung sampah ? bagaimana mungkin guru akan berimprovisasi jika pikirannya melayang ke anaknya yang sakit dan tak terobati karena biaya pengobatan mahal ? Bagaimana mungkin guru dapat menjelaskan pertanyaan yang memusingkan dari murid-muridnya kalau perutnya keroncongan karena hanya makan sekali dalam sehari ? Guru bukan robot, dan guru masihlah manusia. Jadi, prioritaskanlah kesejahteraan guru dalam RAPBN/APBN kalau ingin membangun bangsa ini menjadi lebih baik !!

Sebagai penutup, saya tuliskan lirik sebuah lagu yang menurut saya lebih cocok sebagai lagu untuk menghormati para guru, tanpa menghilangkan respek saya pada lagu “Hymne Guru” yang sering dinyanyikan pada setiap Hari Pendidikan Nasional dan Hari Guru. Lagi ini populer sekali di TVRI belasan tahun yang lalu:

Kita jadi pandai menulis dan membaca
dari siapa…
Kita jadi pintar beraneka bidang ilmu
dari siapa…
Kita jadi pintar dibimbing pak guru
Kita jadi pandai dibimbing bu guru
Gurulah pelita
Penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…

dan saya ingin berterima kasih untuk para guru saya, atas bimbingan dan arahan mereka kepada saya, di:
1. MI Candirejo, Tuntang-Semarang
2. MI Jombor, Tuntang-Semarang
3. MTs PPMI Assalaam, Sukoharjo
4. MA PPMI Assalaam, Sukoharjo
4. FPMIPA IKIP Yk, Yogyakarta
5. Para Kyai dan Asatidz yang telah memberi bimbingan, di manapun…

Selamat Hari Pendidikan Nasional !

Selamat Hari / Tanggal Lahir anak ku yg pertama…!

Terkait nasib Guru:

  1. Guruku Pahlawanku
  2. Gaji Guru vs Gaji DPR
  3. Kebanggaan Guru
  4. Siapa itu Guru

terima kasih Abang penaku Anugrah Kusumo:

Iklan

14 Tanggapan

  1. kita memang perlu mempertanyakan kembali apa maksud dari hal-hal yang sudah biasa kita lakukan/dengar, seperti yang ada di tulisan ini (atau mempertanyakan kenapa kartini dianggap begitu berjasa hingga ada hari kartini di tulisan lain yang pernah saya baca). dengan melakukan ini, kita tidak akan kehilangan makna.

    makna dari atribut pahlawan tanda jasa untuk guru tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. jadi, terima kasih buat pakar atas tulisannya yang membuat saya berpikir ulang secara kritis.

    oya, tambahan tentang orak-arik pendidikan kita.

    dulu sebelum saya sekolah di slta (sepertinya istilah ini sudah tidak pernah terdengar lagi), sekolahnya disebut dengan sma. ketika saya masuk berganti jadi smu. kini sudah sma lagi.

    dulu waktu belajar dibuat per semester, jaman saya per cawu, sekarang semester lagi.

    dulu penjurusan dilakukan mulai kelas 2 sma, jaman saya mulai kelas 3, sekarang kelas 2 lagi.

    tidak terhitung berapa kali kurikulum berubah, mungkin hanya untuk memberikan pekerjaan kepada penerbit dan pencetak buku (mungkin lagi, yang dimiliki oleh pejabat teman dekat para petinggi negara ini)?

    hhh…

    Suka

  2. Selamat hari pendidikan nasional juga Pak. Menarik tulsannya. 🙂

    Suka

  3. setuju pak..saya juga heran, kenapa dulu dikasih gelar itu sampe sekarang…kepedulian menghargai pendidikan di tanah air masih cukup rendah

    Suka

  4. Mas, saya sempat menitikkan air mata membaca tulisan ini. Saya semakin miris melihat ‘apresiasi’ terhadap profesi guru sedemikian rendah, bahkan julukan ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ juga akan dihapus. Para pengusung penghapusan ini, beranggapan bahwa dengan adanya tunjangan profesi, berarti guru sudah cukup mendapat tanda jasa.
    Menurut saya, yang disebut penghargaan bukan tunjangan itu. Saya sependapat dengan Mas AR, tanda jasa yang dimaksud adalah semacam bintang jasa, atau sebutan lainnya.
    Rendahnya kualitas pendidikan kita juga disebabkan oleh rendahnya penghargaan bagi guru-guru kita. Guru bahkan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, pendidikan anak-anaknya, shg guru sangat kesulitan untuk meningkatkan profesionalismenya melalui pendidikan formal akibat kekurangan biaya….

    Suka

  5. menarik sekali pak, itulah realitanya sekarang setuju untuk perbaikan kesejahteraan guru di masa yang akan datang… mohon ijin menyebarluaskan tulisan ini pak ..

    Suka

  6. Sepakat…kita semua bisa jadi orang hanya dengan jasa para Guru, karena guru selalu dituntut orang yang bisa “digugu lan ditiru”. Hargailah guru, karena guru sebenarnya mengajarkan ilmunya dengan ikhlas.
    Guru selalu mengajarkan bahwa A itu adalah A, B adalah B dst. Peningkatan kesejahteraan Guru melalui sertifikai PORTOFOLIO adalah kesejahteraan yang bertele-tele, harus ini…itu…dst. mengapa tidak diberikan secara otomatis saja…
    Sepakat sekali…TINGKATKAN KESEJAHTERAAN GURU… karena mereka adalah gudang ilmu

    Suka

  7. murid yang pintar hampir-hampir gak ada yang ingin jadi guru, mereka pasti bercita-cita jadi dokter. karena mereka tahu, jadi guru berarti harus siap tidak sejahtera

    Suka

  8. Yang gak dibayar tapi rela menyebarluaskan ilmunya itu para BLOGGER,,betul gak,,??

    Suka

  9. sekalipun guru adalah seorang pahlawan yang menyelamatakan banyak orang menjadi sukses dan mencapaia keinginannya dengana jalan mulus tapi kesejahteraan guru masih di bawah standar kasiaan nasib seorang guru……… betul-betul pahlawan tanpa jasa………………….

    Suka

  10. oraganisasi guru di tiadakan saja biar semua masyarakat indonesia jadi gblok semua………………….

    Suka

  11. kLo boLeh jujur aQ trharu bgt ma tLisan bapak n aQ stuju kLo gr i2 prLu pnghrgaan …..g cukup dngn sbutan tnp tnda jasa,, klo g ad gr gk akn ad polisi,dokter,mentri,bhkn presideN,
    jd gruLah yg mmLiki jbtn profesi yg pLing tinggi d’dunia ……jd Gak brLbiihaN kLo Q br pNghrgaaN buat saNg gru….kLo prLu gJi gru d’smkan aja ma gji anGgoTa dpr…..heheheheh

    Suka

  12. setuju pak!
    pemerintah kurang memberikan perhatian pada guru padahal mereka2 bisa menjadi pejabat karena dididik oleh para guru
    http://duniasithole.wordpress.com/

    Suka

  13. bagus artikelnya

    Suka

  14. menyongsong datangnya bulan Romadhon, mari kita mempersiapkan diri untuk hati yang lebih bersih dan rasa saling menghormati. mohon maaf kalau komentar ini sekedar menyapa, tidak sesuai dengan isi postingan 22:15

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: