Arah Kiblat vs Kaum Sufahaa

Kiblat: Fiqh dan Falak

Kiblat: Fiqh dan Falak

Menganggap remeh Arah Kiblat adalah tidak konsisten dengan pesan yang disampaikan Al-Qur’an. Rasululloh Muhammad SAW harus menunggu sekitar 16 bulan untuk mendapat jawaban atas permohonannya soal pemindahan Arah Kiblat dari Alloh SWT. Satu tahun lebih bukan waktu yang sebentar, lebih2 yang meminta kekasih-Nya sendiri. Namun, di era akhir zaman ini, banyak orang meremehkan soal Arah Kiblat,…

Fatwa atas dasar Ilmu:

Kini, banyak orang berfatwa tanpa memiliki dasar kelimuan yang difatwakan. Tidak heran bila seorang ulama bernama Abu Bakar Turthusyi setelah menyebutkan hadist:

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan dicabut dari hati-hati manusia akan tetapi Allah mencabutnya dengan meninggalnya para ulama sehingga tidak tersisa lagi seorang ulama, manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh, maka mereka akan ditanya sehingga berfatwa tanpa ilmu akhirnya sesat dan menyesatkan.

Menyatakan: “Perhatian hadits ini! hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan tertimpa musibah disebabkan ulama mereka sama sekali, akan tetapi sebabnya jika ulama mereka meninggal, akhirnya yang bukan ulama berfatwa. Dari situlah musibah. (Al-Ba’its:179 lewat Madarikun- Nadhar :160).

Syaikh Al-Banjari al-falaki, Syaikh Ahmad Dahlan al-falaki, Syaikh Djambek al-falaki, Syaikh Abdurrahim al-falaki, dll…. semua ahli dan pemegang ilmu amanah Alloh di bidang falak ini telah tiada, dan ilmu falak dengan sendirinya dicabut Alloh SWT. Bersyukur, karena beliau masih menurunkan ilmu itu melalui karya dan kepada para muridnya, dan ilmu falak masih bisa kita pelajari hingga kini.

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullâh ditanya: “Ditemui adanya sebagian orang yang berfatwa tanpa (berdasarkan) ilmu. Bagaimana hukum hal tersebut?”

Beliau rahimahullâh menjawab:

Tindakan ini termasuk perkara yang paling berbahaya dan paling besar dosanya. Allah ‘Azza wa Jalla mensejajarkan ucapan tentang Allah tanpa ilmu dengan perbuatan syirik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَا رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَجِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-A’râf: 33)

Hal ini menyangkut ucapan tentang Allah dalam masalah dzat-Nya, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan ataupun syari’at-Nya. Jadi tidak seorang pun dihalalkan memfatwakan sesuatu sampai dia tahu bahwa hal tersebut adalah syari’at Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka ia harus memiliki kelengkapan (persiapan) dan kemampuan sehingga dengan hal itu ia dapat mengetahui apa-apa yang ditunjukkan oleh berbagai dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Tatkala itulah ia (boleh) berfatwa.

Seorang mufti (orang yang berfatwa) adalah orang yang berbicara tentang Allah ‘Azza wa Jalla dan orang yang menyampaikan tentang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka jika ia mengucapkan suatu perkataan, sedangkan ia tidak mengetahui atau kurang meyakininya, setelah ia mentelaah, berusaha keras dan memikirkan dalil-dalilnya, bisa jadi orang ini telah mengucapkan tentang Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu. Ia harus bersiap-siap untuk memperoleh hukuman dari Allah.

Konsepsi Menghadap Kiblat:

Kiblat yang dimaksud adalah Ka’bah. BUKAN makam Rasul SAW, BUKAN pula Menara Masjidil Haram. Dinamakan kiblat karena manusia menghadapkan wajah mereka dan menuju kepadanya. (Al-Majmu’ 3/193, Ar-Raudhul Murbi’ Syarhu Zadil Mustaqni’, 1/119, Asy-Syarhul Mumti’ 1/501, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96)

Awalnya Rasulullah SAW sholat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian Allah SWT memerintahkan beliau menghadap ke Ka’bah, kiblat yang beliau cintai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit10, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al-Kitab (dari kalangan Yahudi dan Nasrani) memang mengetahui bahwa menghadap ke Masjidil Haram itu benar dari Rabb mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144)

Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، حَتَّى نَزَلَتِ اْلآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ {وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ} فَنَزَلَتْ بَعْدَمَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، فَحَدَّثَهُمْ فَوَلَّوْا وُجُوْهَهُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ

Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, hingga turunlah ayat dalam surah Al-Baqarah: ‘Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah (hadapkanlah) wajah kalian ke arahnya.’ Ayat ini turun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Lalu pergilah seseorang dari mereka yang hadir dalam shalat berjamaah bersama Nabi. Ia melewati orang-orang Anshar yang sedang shalat (dalam keadaan masih menghadap ke arah Baitul Maqdis), maka ia pun menyampaikan kepada mereka tentang perintah perpindahan arah kiblat. Mendengar hal tersebut orang-orang Anshar pun memalingkan/menghadapkan wajah-wajah mereka ke arah Baitullah.” (HR. Muslim no. 1176) [Al-Hawil Kabir 2/68]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit untuk shalat, beliau menghadap Ka’bah, baik dalam shalat wajib maupun shalat nafilah. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu: “Berita ini merupakan sesuatu yang pasti keberadaannya karena mutawatirnya….” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/55)

Rasul SAW berkata kepada orang yang salah shalatnya:

إِذَا قُمْتَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ…

Bila engkau bangkit untuk menegakkan shalat maka baguskanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat, setelah itu bertakbirlah….” (HR. Al-Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 884)

Ke-4 mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) telah bersepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat.

Melihat konteks ayat menggunakan kata “Syathr” bukan “Nahw”, maka  mazhab Syafi’i menambahkan tiga kaidah, yaitu:

  • Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin) Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat.
  • Menghadap kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan) Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada di luar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau perkiraan.
  • Menghadap kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad) Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat Dzannya maka ia boleh menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah Kiblat.

Wallahu a’lam.

Tidak Wajib Kiblat:

Pertama, Shalat tathawwu’ (shalat sunnah) bagi orang yang berkendaraan, baik kendaraannya berupa hewan tunggangan ataupun berupa alat transportasi modern seperti mobil, kereta api, dan kapal laut.

Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ أَنْمَارٍ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ مُتَوَجِّهًا قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُتَطَوِّعًا
Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Anmar mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya sementara hewan tersebut menghadap ke timur.” (HR. Al-Bukhari no. 4140)

Kedua, Shalat orang yang dicekam rasa takut seperti dalam keadaan perang, orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang dipaksa (di bawah tekanan).  “Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Arah Kiblat vs Kaum Sufahaa:

Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 142:

Orang-orang yang kurang akalnya (sufahaa) di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”

ayat ini berlanjut sampai berakhir di Al-Baqoroh ayat 150:

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Tujuan akhirnya, agar kita mendapat petunjuk. Hidayah atau petunjuk adalah milik orang yang mengikuti perintah Alloh dengan segala hikmah di dalamnya. Do’a atau permohonan selama 16 bulan baru dikabulkan, pasti membawa hikmah yang lebih dari sekedar do’a yang hanya sebulan atau sehari.

Sebelum perintah kiblat diturunkan, kaum Sufahaa yakni orang2 yang kurang akalnya (berpikir sempit dan subjektif dan tidak memahami ilmunya) telah siap untuk mempersoalkan. Dan Rasul SAW telah diingatkan oleh Alloh SWT.

Ternyata persoalan kiblat benar2 bukan persoalan sepele, kiblat adalah persoalan besar sejak zaman Rasululooh SAW, zamannya KH. Ahmad Dahlan, dan juga di zaman kita sekarang ini.

Siapakah kini kaum Sufahaa itu…? Semoga kita terselamatkan dari sikap dan pola pikir yang bisa membawa kita kepada dan menjadi golongan kaun Sufahaa

Kontroversi MUI terkait Arah Kiblat:

Ada ketidaksingkronan dari MUI terkait persoalan arah Kiblat.

1. MUI menyatakan bahwa Kiblat cukup ke Barat dan BUKAN ke arah Ka’bah, seperti tulisan di halaman ini.

2. MUI meminta agar Kiblat mengarah ke Ka’bah. Berita di Republika, saya kopas di bawah ini.

JAKARTA-Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masjid di Indonesia menyesuaikan arah kiblat agar tepat mengarah Kabah di Kota Mekkah, Arab Saudi. Alasannya, akibat pergeseran lempengan bumi, arah kiblat dari Indonesia ke Mekkah bergeser sekitar 30 centimeter lebih ke kanan.

Karena itu, arah kiblat masjid perlu disesuaikan. Jadi, harus disesuaikan dengan penemuan terbaru. Kalau melenceng 1-2 atau 5 cm tidak begitu masalah. Ini kan bergeser cukup besar sekitar 30 centimeter lebih, ujar Ketua MUI, KH Amidhan, Kamis (18/3) di Jakarta.

Pandangan MUI berbeda dengan seruan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Melalui Ketua Syuriah PBNU, KH Hafid Usman, ormas ini meminta agar masjid tak perlu mengubah arah kiblat. Bagi NU, memperkirakan ke arah kiblat sudah cukup meski bisa jadi arahnya tak tepat benar.

Amidhan menambahkan, MUI menganjurkan bagi masyarakat yang tengah membangun masjid baru agar menyesuaikan arah kiblat dengan penemuan terbaru. Sedangkan, bagi masjid lama, warga sekitar diminta untuk melakukan penyesuaian arah kiblat. Harus diusahakan tepat, mungkin garis shaf-nya diubah dengan cat, katanya.

Dalam hukum Islam, Amidhan mengakui shalat memang bisa menghadap ke arah bukan kiblat. Namun, hal itu boleh dilakukan dalam kondisi darurat seperti saat bepergian di dalam mobil atau pesawat terbang. Kalau normal, ya harus sesuai dengan penelitian arah kiblat yang benar, katanya.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementeriaan Agama, Dr Rohadi Abdul Fatah, mengungkapkan bahwa sekitar 20 persen masjid dari 763 ribu masjid di Indonesia tidak mengarah kiblat dengan tepat. Perubahan arah tersebut terjadi akibat gempa bumi sehingga menimbulkan pergeseran tanah. Sebelumnya, Direktur Lembaga Rukyatul Hilal Indonesia, Mutoha Arkanuddin, mengatakan ada 80 persen masjid yang tidak mengarah kiblat.

3. MUI menemukan bahwa arah Kiblat kita melenceng sebesar 30 centimeter, karena gempa.

4. MUI mengelurkan Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 tentang kiblat yang disahkan pada 1 Februari 2010, yang dibacakan dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta, Senin (22/3/2010).

Ada tiga ketentuan hukum dalam fatwa tersebut.

  1. kiblat bagi orang yang salat dan dapat melihat kabah adalah menghadap ke bangunan kabah (ainul kabah).
  2. kiblat bagi orang yang solat dan tidak dapat melihat kabah adalah arah kabah (jihat al kabah).
  3. letak geografis Indonesia yang berada di bagian timur kabah, maka kiblat umat Islam di Indonesia adalah menghadap ke arah barat.

Fatwa MUI ini menindaklanjuti beredarnya informasi di tangah masyarakat mengenai adanya ketidakakuratan arah kiblat di sebagian masjid atau musala di Indonesia, berdasarkan temuan hasil penelitian dan pengukuran dengan menggunakan metode ukur satelit. Atas informasi tersebut masyarakat resah dan mempertanyakan hukum arah kiblat.

Aneh….

Keresahan Ummat, disambut dengan Fatwa yang semakin menambah resah…

Mestinya, disambut dengan pencerahan, pencerdasan, semisal Fatwa Wajib Belajar Ilmu Falak. Atau apa saja yang menambah ghiroh ummat belajar dan menuntut ilmu, sebagai bentuk pengamalan ayat pertama kali diturunkan… IQRO’

Last but not least…

Saya paham, bahwa saya wajib tho’at secara hierarkhis (QS. An-Nisa ayat 59) kepada:

  1. Alloh SWT
  2. Rasululloh SAW
  3. Ulil Amri minkum (setahu saya urusan puasa, sholat, kiblat; selama ini ke Depag-Kemenag)

Kemenag sejak dulu hingga kini, terakhir Mukernas BHR di Semarang, salah satu rekomendasinya adalah Penyempurnaan Arah Kiblat demi kesempurnaan ibadah kita. Di beberapa tempat sudah dibuatkan Sertifikat Arah Kiblat. Dengan adanya Fatwa MUI 03/2010, apakah ini harus dibongkar, atau …?

Selama persoalan itu bisa kita ilmui, bisa kita pelajari, bisa kita kaji; maka ranahnya menjadi tidak sekedar dan sesempit persoalan fiqhiyah saja. Dan Arah Kiblat sangat terbuka untuk kita kaji lebih jauh….karena nya ia adalah ilmu.

Mohon bimbing kami wahai Ulil Amri….!

Ulil Amri: Kemenag atawa MUI

Iklan

20 Tanggapan

  1. mantap… nek MUI aja udah bikin bingung , trus sapa lagi yang bisa dianut…pokokmen selamat buat MUI yang telah bikim bingung ummat….

    Suka

  2. Memang terkadang personnel MUI sering membuat statement pribadi yg membingungkan dan media jg tidak bisa memilah apakah itu pernyataan pribadi atau lembaga. Sehingga masyarakat awam dibuat bingung.

    Mestinya saat terjadi gejolak, lembaga2 yang berkompeten langsung unjuk suara, bukan personal2-nya namun atas nama lembaga secara resmi. Insya Allah jika statement di-release secara resmi, maka itu sudah melalui mekanisme yang berlaku di lembaga tsb.

    Saya pribadi, tidak setuju meremehkan arah kiblat jika kita sdh mampu secara akurat menentukan arah kiblat. Insya Allah pendahulu kita dulu jg tdk meremehkan arah kiblat ini saat membangun majid, kalau toh ternyata kurang tepat ,itu karena disebabkan sebatas itu kemampuan saat itu dan jika kemudian didapatkan kesalahan mestinya dilakukan perbaikan. Tidak mesti masjidnya dibongkar misalnya hanya shafnya saja dirubah sedikit dsb.

    Jika hati dan fikiran kita terbuka dan tidak direcoki oleh kepentingabn tertentu insya Allah masalah ini cukup simple dan mudah.

    Wassalam,
    MMA

    Suka

  3. لا نقلل من أي وقت مضى في اتجاه القبلة

    Suka

  4. kita sudah punya ilmu menentukan arah kiblat yang dapat dengan mudah diterapkan dan bisa dilakukan oleh masing-masing pengurus masjid dengan petunjuk-petunjuk, kenapa malah difatwakan seperti itu? bukankah ini yang dinamakan kemunduran?

    Suka

  5. semoga para ulama dan khususnya MUI mendengar dan segera menindaklanjuti, saya sebagai masy awam juga hanya bisa mmebantu berdoa

    Suka

  6. saya tambah bingung, saya saja belajar ttg arah kiblat yang berpedoman pada ilmu astronomi saja masih bingung, ini MUI tambah membingungkan saja.
    ALLAH SWT Maha Tahu

    Suka

  7. iya nih…msh bingung ane

    *dah lama gak blogwalking…hehe

    Suka

  8. DALAM SURAH AT TAUBAH: 100 ALLAH TELAH MEMERINTAHKAN JIKA TERJADI PERSELISIHAN MAKA KEMBALIKAN KEPADA ALQUR’AN DAN SUNNAH
    ijma’ ulama bisa kita ambil jika mereka tidak menyalahi al-qur’an dan sunnah. maka bagaimana kita mengetahuinya. yaitu dengan mengoreksi kembali perkataan atau fatwa mereka dengan demikian jika kita kembali lagi ke al-qur’an dan assunnah maka persoalan akan menjadi beres

    Suka

  9. makasih infonya pak guru….!
    izin copy ya…….!

    Suka

  10. mas, unk sufaha’ yg dlm konteks qs. albaqaroh itu bukane khitobnya ke kau yahudi ya???

    wa Alloh a’lam, saya hanya menulis ‘sufahaa’ tanpa menyebut siapa dia, itu justru saya tanyakan…salam

    Suka

  11. Pak ustad, saya stuju dan mendukung kl masalah kiblat ini emg urgen banget Karena termasuk syarat sahnya sholat,

    tapi sedikit menanggapi judul tulisan ini: “Arah Kiblat vs Kaum Sufahaa”, dalam tulisan ustad kaum shufaha’ mengarah pada mereka yg menyoalkan arah kiblat ke ka’bah, terlepas apakah mereka ini muslim, dari ahlu “laailaaha illaLLah” ataupun non-muslim. Kalu kita lihat konteks QS. Al Baqoroh: 144 yang dimaksud shufaha’ disitukan Yahudi tadz (liat: tafsir ayat ahkam oleh syaikh sayis jilid:1 hal: 100-101, penerbit dar ibn katsir), dan kita sudah tau gmn tabiat bangsa yahudi sebagaimana yg dijelasin dalam QS al-Maidah: 82 “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”.

    Jadi saya kurang setuju kalu problem arah kiblat dibenturkan / diadukan sama kaum shufaha’ yang disitir dari surat al-Baqoroh, kecuali klu cm ngambil makna lughowinya mgkin bs lah… Karena jelas kaum shufaha’ disitu adalah konteksnya pada kaum yahudi yang suka menghina selama 16 bulan rasulullah menghadap ke bait al-maqdis.

    Faidah: diantara alasan Rasulullah berharap kiblatnya ketika itu dipindah adalah 1) karena ketika itu orang-orang Yahudi suka mencaci: “Muhammad ini menyelisihi kami tapi koq kiblatnya ikut-ikutan pada kami”, 2) karena ka’bah adalah juga kiblatnya nabi Ibrahim, 3) kiblat ke ka’bah lebih mendorong orang2 arab (ketika itu) untk beriman.

    Wallahua’lam..

    asykurukum ya syaikh….
    antum bisa baca tangapan terhadap fatwa MUI 03/2010 di majalah Qiblati edisi 08/V insya Alloh…salam

    Suka

  12. wah boleh tadz, gmn sya bisa dapat tadz? kalu ada punya soft copy saya minta tadz. masykur ala ihtimamikum

    afwan syaikh, majalah itu dipasarkan sampai ke uni eropa, dan timteng. yal’aakh sahlan yg di saudi pernah sms setelah membaca salah satu tulisan saya di sana. di yaman mungkin ada agennya…salam

    Suka

  13. tentang kiblat saya juga nulis, tapi sak selengkap dan sebagus tulisan bapak. tulisan saya tak kasihjudul menunggu matahari di atas ka’bah

    Suka

  14. senang rasanya masih bisa berkunjung di rumah sahabat di akhir pekan ini, salam dari kalimantan tengah 00:11

    Suka

  15. 1. Jangan main-main dengan arah kiblat. Rasulullah Saw siang malam menadahkan ke langit, memohon kepada Allah agar shalat menghadap Ka’bah. Tidak lagi ke Baitul Maqdis. Tambahan para ulama telah menetapkan menghadap kiblat itu adalah syarat sahnya shalat.
    2. BARAT dan KIBLAT adalah dua arah yang berbeda. Barat ya barat. lawan dari timur. Sedangkan KIBLAT itu 25 derajat serong kanan dari barat. Bayangkan kalau Anda shalat menghadap persis ke barat. Coba lihat di GoogleMap atau GoogleEarth, kira-kira kemana Anda hadapkan wajah Anda? Betul ke Somalia dan Ethiopia ! Bukan ke Ka’bah atau Masjidil Haram.
    3. Banyak cara yang mudah dan murah untuk mengetahi arah kiblat.
    a. Gunakan KOMPAS. Posisi Kiblat dari Indonesia rata-rata 25 derajat serong kanan dari barat.
    b. Para ahli astronomi merekomendasikan untuk manfaatkan WAKTU-WAKTU ISTIMEWA, yakni saat matahari berada tepat di atas Ka’bah. Yakni tanggal 26-30 Mei Pukul 16.18 WIB dan tanggal 14-18 Juli pukul 16.27 WIB. Saat itu bayangan kita (dari ujung ke pangkal bayangan) adalah arah kiblat.
    c. Gunakan piranti lunak http://www.qiblalocator.com/
    4. Fatwa MUI tentang arah Kiblat jauh dari mencerahkan. Malah mentolerir “kesalahan” umat. Padahal MUI bisa tanya para ahli LAPAN seperti Pak Thomas Djamaludin sebelum mengeluarkan fatwa tersebut. Untungnya, di lapangan Fatwa MUI ini tidak diikuti. Umat sudah lebih pintar rupanya dari “ulama”nya. Faktanya banyak masjid yang posisi sajadahnya sudah digeser ke arah kiblat yang tepat, walaupun masjidnya mengarah ke arah yang dibolehkan Fatwa MUI.

    Suka

    • Assalamu ‘alaikum
      @deen
      Memang fatwa MUI cukup merisaukan,tapi kalau dipikir ada benarnya karena ada hadits
      مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ
      “Arah antara timur dan barat adalah qiblat.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan hadits ini shohih. Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul Mashobih bahwa hadits ini shohih)

      Artinya kalau di Madinah maka arah kiblat adalah selatan,tetapi berdasarkan zhahir hadits ini menunjukkan bahwa shalat ke arah tenggara Madinah diperbolehkan karena masih berada di antara barat dan timur.

      Suka

  16. seharusnya sebagai fihak yang berwenang, MUI harus bisa memeberikan fatwa yang mententramkan. fatwa bahwa menghadap kiblatcukup ke arah arat saja saya rasa semakin merisaukan apalagi setelah adanya banyak penelitian yang menyatakan ahwa masjid2 di indonesia banyak tyang melenceng.
    menghadap ke arah qiblat adalah masalah yang sangat penting karena menyangkut syah tidaknya sholat.
    jika dikatakan cukup menhgadap ke arah arat saja, saya kira itu menunjukkan etapa odohnya kita. begitu anyak cara yang dapat dipelajri untuk mementukan arah qiblat dari yang mudah hingga yang sulit masak seenaknya saja dengan cukup menghadap ke arah barat. salah satu cara sederhana adalah menggunakan rashdul qiblat. yaitu pada tanggal 28 mei serta 16 juli.

    Suka

    • Assalamu ‘alaikum
      @mee dee
      Saran saya coba anda baca fatwa dari Syaikh Utsaimin-rahimahullah-seorang ulama besar Arab Saudi dan Mufti(Pemberi Fatwa)Agung Arab Saudi di komentar saya tertanggal 4 Juni 2010

      Suka

  17. Dalam Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 551 (Darul Aqidah), seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah pernah diajukan suatu pertanyaan,
    “Jika telah jelas bahwa seorang yang shalat telah menyimpang (bergeser) dari (arah) qiblat, apakah dia harus mengulangi shalat?”

    Beliau rahimahullah menjawab,
    “Bergeser sedikit dari arah qiblat tidaklah mengapa kecuali jika seseorang berada di Masjidil Haram. Masjidil Haram adalah qiblat bagi orang yang shalat di sana yaitu langsung menghadap ke Ka’bah. Oleh karena itu, para ulama mengatakan: ‘Barangsiapa memungkinkan menyaksikan Ka’bah, maka wajib baginya untuk menghadap langsung ke Ka’bah. Dan apabila seseorang yang hendak shalat di Masjidil Haram hanya menghadap ke arah Ka’bah (misalnya ka’bah terletak di arah barat dia, lalu dia hanya menghadap ke arah barat, pen) dan tidak menghadap persis ke Ka’bah langsung maka dia wajib mengulangi shalatnya karena shalat yang dia lakukan tidak sah. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,

    فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
    “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah [2] : 144)
    Namun, apabila seseorang berada jauh dari Ka’bah dan tidak mungkin dia melihat (menyaksikan) Ka’bah secara langsung walaupun dia masih berada di kota Mekkah, maka wajib baginya untuk menghadap ke arah Ka’bah dan tidak mengapa kalau bergeser sedikit. Hal ini dapat dilihat pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk Madinah,

    مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ
    “Arah antara timur dan barat adalah qiblat.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan hadits ini shohih. Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul Mashobih bahwa hadits ini shohih)

    Dikatakan demikian karena penduduk Madinah menghadap kiblat ke arah selatan. Maka setiap arah yang antara Barat dan Timur maka bagi mereka adalah kiblatnya. Begitu juga dikatakan kepada orang yang shalat menghadap ke Barat (seperti yang berada di Indonesia, pen) bahwa arah yang berada antara selatan dan utara adalah kiblat’.

    Suka

  18. Assalamu ‘alaikum
    Untuk mempelajari ttg fatwa MUI no. 3 tahun 2010 sebaiknya membaca arikel di rumaysho.com dg judul Mendukung Fatwa MUI Mengenai Arah Kiblat di kaegori Hukum Islam sub bagian Shalat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: