Sholat di Luar Angkasa

Sholat itu Wajib 'Ain

Sholat itu Wajib 'Ain

Sholat adalah tiang agama, pemisah antara muslim dan kafir. Sholat tidak boleh ditinggal, kapan dan dimana, serta dalam keadaan seperti apapun. Sehat sholat dengan berdiri, bila sakit boleh duduk, atau berbaring, bahkan kalau memang tidak kuat cukup dengan isyarat. Tidak mampu sholat, yaaa disholatkan….!

Bagaimana sholat di luar angkasa..?

Berikut video Dr. Sheikh Muszaphar Shukor, the first Muslim astronaut, saat mendirikan sholat Shubuh dan berdo’a:

“Jejak” Islam di Luar Angkasa (Suara Hidayatulla)

Barat telah mencapai kemajuan dalam ilmu luar angkasa. Tapi, sesungguhnya dari tangan ilmuwan Muslim misteri angkasa luar itu pertama kali berhasil disibak.

Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini.

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalah cara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk arah.

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai teratasi.  Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi ‘penyesat’ yang perlu ditakuti. Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Bukti Sejarah

Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang “Fomalhault” . Nama itu berasal dari bahasa Arab, “famul haut” yang berarti mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab.

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.

Lahir kembali

Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat.

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar angkasa.

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa.

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya.  Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 lalu.  Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang.

Shalat di Luar Angkasa

Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.

Ketika bertakbir Ied dan memberikan ucapan lebaran:

“Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan,” kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia  merasa keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.

Tanya-Jawab Sholat di Luar Angkasa

Soal: Ustadz saya ingin bertanya. Bagaimana hukum sholat bagi para astronot yang sedang di luar angkasa? Misalnya ketika mereka mendarat di bulan? Apakah mereka tetap sholat? Dan bagaimana hukum sholat bagi mereka yang tinggal di daerah kutub yang memiliki karakter waktu yang tidak tepat? Setahu saya kadang2 di kutub siangnya sangat panjang dan kadang2 malamnya yang panjang. Mohon penjelasannya.
Jawab: Para fuqaha telah memahami bahwa tatkala Allah SWT mensyariatkan hukum bagi seorang mukallaf, Ia juga telah menetapkan sejumlah imarah (indikasi) yang menunjukkan kapan, dan dalam kondisi apa hukum tersebut dikerjakan atau dilaksanakan. Indikasi-indikasi (imarah) tersebut adalah sebab-sebab syar’iyyah dilaksanakannya sebuah hukum. Topik mengenai pelaksanaan hukum ini dikategorikan dalam pembahasan ahkaam al-wadli’y, dimana salah satu bagian dari ahkam al-wadl’iy adalah al-sabab (sebab).

Muhammad Abu Zahrah dalam kitab Ushul Fiqh-nya, hal. 56, menyatakan, “Sebab-sebab bukanlah termasuk bagian dari perbuatan seorang mukallaf. Akan tetapi, ia telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai tanda (imarah) untuk melaksanakan sebuah hukum, misalnya keberadaan waktu dijadikan sebab (al-sabab) bagi pengerjaan sholat; atau kondisi darurat sebagai sebab dibolehkannya memakan bangkai..dan sebagainya.

Contohnya, sebab dikerjakannya sholat Dzuhur adalah tergelincirnya matahari. Dalam al-Qur’an dinyatakan:

Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malan dan dirikanlah pula sholat Shubuh. Sesungguhnya sholat Shubuh itu disaksikan oleh para malaikat.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 78).

Dalam sebuah hadits dituturkan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

Jika matahari telah tergelincir, maka sholatlah.” [HR. ath-Thabarani].

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya Rasulullah Saw mendirikan sholat Maghrib tatkala matahari telah terbenam dan bersembunyi dalam tirainya.” [HR. Imam Lima, kecuali an-Nasâ’i[/b]].

Dalam riwayat Muslim dinyatakan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

Waktu Dzuhur ialah apabila telah tergelincir matahari hingga jadilah bayangan seseorang itu sama dengan panjangnya selama belum dating waktu ‘Ashar, dan waktu ‘Ashar itu selama belum kuning matahari dan waktu sholat Maghrib selama belum terbenam syafaq dan waktu ‘Isya’ hingga separuh malam dan waktu sholat Shubuh dari terbit fajar selama belum terbit matahari. Apabila telah terbit matahari, maka janganlah kamu mendirikan sholat, karena sesungguhnya matahari terbit itu diantara dua tanduk setan.” (Bulughul Maram: 36).

Namun demikian, waktu-waktu di atas hanya terwujud pada daerah-daerah yang ada di bumi saja, dan tidak pernah terwujud di sebuah lokal yang berada di luar bumi; misalnya bulan. Padahal, syara’ telah menetapkan waktu-waktu di atas sebagai sebab dilaksanakan sholat lima waktu. Jika sebab-sebab di atas tidak terwujud, tentunya sholat tidak bisa dilaksanakan oleh seorang muslim. Bukan berarti bahwa hukum sholat lima waktu telah berubah, akan tetapi sebab pelaksanaannya tidak terwujud, sehingga menghalangi seseorang untuk mengerjakannya.

Untuk itu, sholat tiga waktu, yakni Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh di kutub, dimana hampir setengah tahun siang, dan setengah tahunnya malam, tidak wajib dilaksanakan. Sebab, sebab dilaksanakannya ketiga sholat tersebut tidak pernah terwujud, yakni tergelincirnya matahari, terbenamnya matahari, dan terbitnya fajar tidak pernah terwujud.

Sebagian orang berpendapat bahwa sholat lima waktu tetap harus dikerjakan dimanapun saja berada, baik di kutub maupun luar angkasa meskipun sebab-sebab pengerjaannya tidak terwujud. Mereka mengetengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya, tentang peristiwa datangnya Dajjal. Dalam hadits itu dituturkan, bahwasanya ketika Dajjal datang, satu hari seperti satu tahun. Lantas, para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah anda menyatakan bahwa pada saat itu, satu hari sama dengan satu tahun, lantas apakah kami harus menghentikan sholat?” Rasulullah Saw menjawab, “Jangan, tapi perkirakanlah.” Hadits ini absah digunakan dalil atas wajibnya mengerjakan sholat di luar angkasa, dan daerah kutub, atau daerah-daerah yang “sebab-sebab” pelaksanaan sholat tidak terwujud.

Imam Fudlail bin ‘Iyadl berkata, “Ini adalah ketentuan hukum khusus pada hari itu saja, yang telah disyariatkan Allah atas kita. Seandainya tidak ada hadits ini, tentunya kami akan berijtihad untuk tidak mengerjakan sholat lima waktu pada hari itu.” Setelah menjelaskan komentar Imam Fudlail, Imam an-Nawawi berkata, “Maksud perkataan dari Rasulullah “perkirakanlah” pada hadits riwayat at-Tirmidzi di atas adalah, ‘Jika terbit fajar telah berlalu, maka perkirakanlah antara sholat Shubuh dengan sholat Dzuhur di setiap harinya, lalu kerjakanlah sholat Dzuhur.’ Begitu seterusnya….sampai hari itu berlalu.” (Imam an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 18/66).

Kita bisa memahami, bahwa para ‘ulama telah bersepakat jika sebab-sebab syar’iy dilaksanakannya sebuah hukum tidak terwujud, maka dengan sendirinya hukum tersebut tidak bisa dilaksanakan atau didirikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

(Tim Konsultan Ahli Hayatulislam [TKAHI])

Iklan

16 Tanggapan

  1. Masih muda sekali ya Orangnya…Subhanallah

    Suka

  2. Allahu akbar.
    Jejak-jejak islam semakin bertebaran di angkasa lepas. Indonesia menyusul dari Assalaam. Semoga.

    Suka

  3. kok gx bisa, di play siiiy???

    Suka

  4. Kalau saya berpendapat tidak ada alasan di jagad raya ini untuk meninggalkan sholat tak terkecuali di matahari

    Suka

  5. Laksanakan sholat dalam kondisi apapun

    Suka

  6. Terimkasih segala ilmunya..

    Kepikiran adanya jam yang menunjukkan sisa waktu menuju waktu sholat berikutnya.. sudah ada belum ya? jadi dijam itu (digital) tertera berpa lama lagi jam-menit-detik akan masuk waktu sholat.. menarik, fungsional, akurat dan membuat kita lebih menghargai waktu dan mem[ersiapkan diri lebih baik sebelum menghadap sang Pencipta.. ada info kirim ke msyuono@yahoo.com..

    Syukron,
    MSY

    Suka

  7. hebaaatt

    Suka

  8. wah ini baru berita, buat aq ini sangat penting

    Suka

  9. tadz bagus tulisanya hehe

    Suka

  10. sesungguhnya apa yang ada dilangit dan di bumi bertasbi kepada allah.

    Suka

  11. Shollat sih dapat dilaksanakan dimanapun,masalahnya shollat kan arahnya/kiblat nya harus ke Ka’bah,nah bumi kan tidak diam tetapi berputar pada poros nya dengan kata lain Ka’bah pun ikut berputar bersama bumi,lalu menentukan arah kiblat di luar angkasa atau saat di planet lain (misal: planet mars) bagaimana caranya

    Suka

  12. Alinea terakhir ‘para ulama telah bersepakat jika sebab-sebab syar’iy dilaksanakannya sebuah hukum tidak terwujud,maka dengan sendirinya hukum tersebut tidak bisa dilaksanakan atau didirikan’, hal itu pun dapat seperti ini: jika orang tua TIDAK berlaku/bertingkah laku/berbuat selayaknya orang tua kepada anaknya menurut aturan/syar’iy dalam ajaran Islam,maka dengan sendirinya anak tidak perlu menuruti orang tua nya bahkan tidak perlu menghormatinya. Maka pada para orang tua berlaku lah menurut ajaran Islam.

    Suka

  13. Puisi kidung dunia: Aku terlahir di keluarga setan..bapa pemuja setan juga ibu berupa dasamuka..benar dikatakan salah..salah dikatakan benar..harta jadi sembahan mereka..makin tua makin menggila..tidak sadar usia semakin tua renta..padahal ajal kian tiba. (bdg 29/03/12)

    Suka

  14. SUBHANALLOH…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: