• Asal Pengunjung:

  • FB:Pakar Fisika
  • Tulisan Terbaru

  • Arsip Tulisan:

  • Komentar Terbaru

    pakarfisika di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Ana Wahyudi di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Mochammad nova hendr… di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    udiana di Software Silsilah (Trah)
    pakarfisika di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Waktu subuh yang ben… di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Rahmadmars di Gaji DPR vs Gaji Guru
    Widodo di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    konbud di Kapan Awal Ramadhan 1438 H dan…
    Budi Abu Ahmad di Kapan Awal Ramadhan 1438 H dan…
  • Tulisan Terlaris

  • RSS Jogja Astro Club

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Info Astronomi

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Rukyah Hilal Indonesia

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Fisika Indonesia

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Info Beasiswa

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Citra Matahari Kini:

  • Jumlah Pengunjung:

    • 2,393,500 orang
  • 50 Top Pencari:

Al-Qur’an dan ‘Alam (Qouliyah-Kauniyah)

Alam itu Islami

Alam itu Islami

Aneh bin ajaib, manakala ayat kauniyah (ayat yang berbicara tentang alam dan isinya) disebut dalam jumlah yang cukup besar di dalam Al-Qur’an -membuktikan kedudukannya yang penting untuk di tela’ah-, ternyata tidak menarik perhatian umat Islam sendiri untuk mengkajinya lebih serius.  Bagaimana mungkin kita sibuk berdebat tentang rukun wudhu’, puasa, hukum pidana, yang ayatnya sedikit, tapi membisu ketika berhadapan dengan ayat kauniyah.

Menurut Agus Purwanto dalam bukunya Ayat-Ayat Semesta: Sisi Al- Qur’an yang Terlupakan, Mizan, Bandung, 2008, jumlah ayat kauniyah ada 800 ayat. Sementara menurut Syeikh Tantawi, ayat kauniyah berjumlah 750 ayat. Tidak kalah menariknya adalah, dari 114 surah Al-Qur’an hanya 15 surat yang tidak ada ayat kauniyahnya.

Jika 99 surat (114-15) di dalam Al-Qur’an memuat ayat-ayat kauniyah, bukankah hal ini menunjukkan pentingnya ayat kauniyah bagi kehidupan umat Islam. Agaknya kita bisa memahami, mengapa sewaktu Nabi Muhammad SAW membaca surat Ali-Imran ayat 190-191 pada shalat shubuh, beliau menangis tersedu-sedu. Kondisi kita sekarang inilah yang membuatnya menangis, ketika ayat kauniyah tidak menjadi perhatian umat Islam.

Oleh sebab itu, sudah saatnya jika para ilmuwan muslim kembali menggali ayat- ayat kauniyah, melakukan penelitian guna menyingkap mukjizat sains dalam Al-Qur’an. Pendidikan kita sejak tingkat yang paling dasar sampai pendidikan tinggi harus mampu mengintegralkan penafsiran ilmiah Al- Qur’an dengan mata pelajaran (mata kuliah) yang memiliki keterkaitan, misalnya fisika, biologi, sejarah dan sebagainya. Bahkan lebih dari itu, melalui Al-Qur’an mereka terdorong untuk melakukan penelitian-penelitian terhadap fenomena alam.

Bersama pak Agus - Ayat-ayat Semesta di Bosscha

Bersama pak Agus - Ayat-ayat Semesta di Bosscha

Arti Tadarus:

Tadarus bermakna membaca, mengkaji, menelaah hingga menimbulkan bagi tiap pribadi yang mengerjakannya, suatu kesan yang mendalam terhadap suatu pesan yang disampaikan oleh Al-Quran kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Terkadang didapati ayat-ayat bagi orang beriman juga ada ayat-ayat yang menekankan kekhususan perhatian pada golongan tertentu seperti golongan munafik dan terkadang pula didapati ayat-ayat untuk seluruh umat manusia yang bersifat umum.

Al-Quran membimbing manusia untuk lebih mengenal siapa dirinya dan siapa yang menciptakannya, agar gejolak kesombongan dapat terkikis dari hati manusia itu sendiri. Hikmah akan didapati dengan mengkaji apa yang disampaikan Al-Quran, karena sesungguhnya Al-Quran sangat terpercaya untuk dijadikan sebagai sumber rujukan, bukan hanya sekedar membaca dan mengkhatamkannya tanpa memandang segi pembelajaran dari Al-Quran. Jika hal ini terus terjadi, maka dikhawatirkan akan melemahkan kembali identitas umat muslim yang dulu dikenal sebagai umat yang gigih dalam meraih kegemilangan ilmu. Jangan heran jika saat ini Barat memegang tampuk keilmuan, padahal dulu mereka belajar ke peradaban maju umat Islam seperti di Andalusia, Cordoba dan Toledo. Ini akibat pengkajian terhadap Al-Quran masih lemah di kalangan umat.

Kembali pada pesan-pesan Al-Quran yang amat rugi jika hanya dibaca saja dengan tadarus ber-juz-juz tapi tidak mendapatkan pengaruh apapun, maka jika demikian bukan tak mungkin keberkahan juga akan lenyap di suci ini. Sepertinya, setting tadarus sudah harus dirubah. Tidak dari sekedar membaca, tapi sudah beranjak pada diskusi-aplikatif sesuai Al-Quran dan As-Sunnah sehingga cahaya Islam akan kembali berpendar seperti yang diharapkan.

Jika arti tadarus dikembangkan dengan makna luas yaitu dengan melibatkan segala aktivitas pembelajaran di dalamnya, dilakukan oleh umat muslim dengan menghidupkan kembali masjid sebagai basis studi umat Islam, maka akan didapati kekuatan Islam yang sangat luar biasa. Apalagi dengan kesempatan waktu luang yang ada, seharusnya tidak hanya dipakai untuk mengkhatamkan Quran dengan membacanya saja, tapi sudah merambah pada penelaahan terhadap pesan-pesan yang digariskan oleh Al-Quran.

Islam itu Alami karena Alam itu Islami

Islam itu Alami karena Alam itu Islami

Selain perlu dilakukan tadarus Al-Quran, hendaknya juga dilakukan “tadarus” terhadap krisis kemanusiaan yang ada pada negeri tercinta ini. Krisis bangsa yang terus menerpa baik di segmen nasional maupun di daerah tentu membutuhkan formula itu. Formula tersebut akan didapat dengan terus melakukan “tadarus-tadarus” yang berisi pengkajian masalah, telaah ilmiah hingga amaliah dan diharapkan mampu menjawab persoalan yang terus saja menimpa bangsa dan negara ini.

Persoalan bangsa tersebut sebenarnya ada pada Al-Quran jika kita teliti dalam membaca pesan Ilahiah darinya. Jawaban-jawaban persoalan itu sudah empat belas abad lampau telah dijelaskan secara gamblang, dan tugas manusia untuk memahami dan mengolah data yang telah diberikan Al-Quran menjadi satu rumusan jawaban untuk menjawab persoalan bangsa ini.

Jadi, makna tadarus sudah sebaiknya disosialisasikan secara jujur. Tidak di persempit, dan tidak diberi pengertian muluk. Sebenarnya jika kita kembali pada makna surat Al-Alaq yang dimulai dengan Iqra’, sebenarnya kita sudah diperingatkan oleh Alloh SWT, untuk terus melakukan “tadarus-tadarus” yang tidak sebatas pembacaan Al-Quran secara lahiriah, akan tetapi juga cermat melakukan “tadarus-tadarus”, melihat fenomena alam yang begitu luas dengan batiniah, dari sosio-antropologi hingga mencakup perekonomian dan pemerintahan.

Semangat untuk terus melakukan tadarus juga harus pula dijaga agar ciri khas umat Islam sebagai umat yang intens terhadap khazanah keilmuan tidak mudah luntur dengan berbagai kemunduran yang selama ini umumnya terjadi di berbagai negara yang berpenduduk muslim. Sudah saatnya semangat itu tetap dipertahankan dan terus -menerus melakukan “tadarus-tadarus”secara komprehensif dan objektif. Tidak hanya sekadar membaca Al-Quran, tapi juga mengamalkan apa yang tersirat dan tersurat di Al-Quran sebagai kitab suci yang tetap terjaga hingga akhir zaman. (salam buat rekan2 di KAMMI Aceh)

Sonic Bloom : Pengaruh Qouliyah terhadap Kauniyah

Salah satu ciri orang beriman adalah, hatinya akan bergetar makalah mendengar ayat-ayat Alloh dibacakan. Cobalah dengar ayat-ayat-Nya ini…


Semoga hati kita benar-benar tergetar. Dan itulah ciri bahwa kita benar-benar orang beriman. Kalau belum juga tergetar, coba dengar atau kalau mampu baca sendiri ayat-ayat kauniyah-Nya. Semoga kita termasuk orang yang selalu tergetar hatinya manakala mendengar ayat-ayat Ilaahi dilantunkan, baik qouliyah lebih2 yang kauniyah.

Kehidupan dan kesejahteraan manusia tidak dapat terpisahkan dari dunia agronomi/tumbuhan. Menurut para ahli, ada alternatif lain untuk mendukung proses pertumbuhan suatu tanaman, selain dengan pemberian pupuk seperti pemberian musik atau suara yang menenangkan seperti musik klasik ternyata memiliki pengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman kacang hijau. Secara praktis, teknologi ini dikemudian hari dikembangkan dan dikenal dengan sebutan “Sonic Bloom”. Treatment mengkolaborasi pemberian nutrisi khusus dengan unit penghasil suara untuk memacu pertumbuhan tanaman.

Dengan frekuensi tertentu yang secara alami mirip kicauan burung, sonic bloom mampu menstimulasi stomata untuk memperbesar diameter lubangnya. Lubang stomata berfungsi sebagai jalur keluar masuk oksigen, karbon dioksida dan air yang dibutuhkan dalam proses respirasi maupun fotosintesis. Terkait itu, Shinta Ignaya Langsari, Elta Tresna Utami, Mei Liza Fitriani dan Rovi Wahyuni Mahasiswa jurusan Pendidikan IPA FMIPA UNY membuat penelitian untuk membuktikan bahwa perbedaan pengaruh suara dan jenis musik dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kacang hijau. Penelitian difokuskan pada frekuensi suara dan masing-masing jenis musik. Menggunakan suara orang mengaji surat Al-Fatihah, Surat Al-Ikhlas, dan Surat Yaa Siin. Musik klasiknya terdiri dari GreenSleeves, Romeo & Juliet, dan Balamb Garden. Langgam Jawanya terdiri dari Ladrang Pariwisata, Ladrang Wahyu, dan Sekar Tengahan Candrawilasita. Sedangkan untuk musik dangdut terdiri dari Syahdu, Bulan Bintang, dan Piano.

Kacang itu tumbuh lebih cepat karena suara tadarus

Kacang itu tumbuh lebih cepat karena suara tadarus

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama 4 hari untuk masing-masing musik. Waktu diperdengarkan setiap musik , pagi hari pukul 07.00 hingga 11.00 dan sore hari pukul 14.00 hingga 18.00 dengan cara meletakkan kapas potong basah dalam cawan petri dimana diletakkan biji kacang hijau diatasnya dan ditetesi air.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa biji kacang hijau yang dikecambahkan dengan diperdengarkan suara orang mengaji mengalami pertumbuhan yang cepat, sehingga kondisinya paling tinggi. Setelah dilakukan analisis bunyi pada suara dan musik-musik tersebut dihasilkan bahwa suara orang yang mengaji mempunyai frekuensi tertinggi. Untuk hasil biji kecambah antara yang diperdengarkan musik klasik, dangdut, dan langgam tidak terlalu mencolok perbedaannya, karena frekuensi ketiga jenis musik tersebut hampir sama. (dari almamterku, IKIP Yk kini UNY)

Saya posting sembari live di metrotvnews, demo  100 hari kabinet pak SBY: mari bertadarus….!

Iklan

3 Tanggapan

  1. wah beneran tumbuh ya pak AR?benar2….tp memang yg mengakaji ayat kauniyah secara scinece masih kurang ditumbuhkembangkan pak…termasuk saya pribadi..mungkin terlalu terkungkum dunia yg semakin hedonis ini…dan semoga saya termasuk orang yag bergetar hatinya manakala diperdengarkan ayat2 Allah…amin

    Suka

  2. Saya super setuju, mas.
    Ada hasil peneiitian yang dilakukan oleh peneliti barat, bahwa musik klasik (Beethoven, Mozart, dll) dapat membentuk kepribadian dan main frame kecerdasan anak jika diperdengarkan ketika masih janin di kandungan. Akan tetapi ada hasil penelitian baru, bahwa sesungguhnya lantunan murrotal Qur’an, justru lebih progressif dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan anak kita, wallohu a’lam.

    Suka

  3. posting ttg arah kiblat :
    http://nurrahmanarif.wordpress.com/2010/02/02/arah-kiblat/
    mhn koreksi klo ada yg salah pak ustadz, hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: