Renungan Pak Guru di Akhir Tahun

Pendidik Kita

Pendidik Kita

Ahad, 10 Muharram 1431 H, saya sowan orang tua di kampung; Dempel candirejo Tuntang Semarang. Di selasar barat rumah bertemu saudara yang juga kawan lam bermain di desa. Om Roni, beliau sekarang salah satu pengajar/guru bahasa di Salatiga. Sebagai sesama guru, obrolan pun segera nyangkut, dan meluas pada issu nasional. Juga pada diskusi seputar Moral Seorang Guru. “Dana besar, bahkan trilyunan sekalipun, untuk memajukan pendidikan Indonesia ini sepertinya sia-sia”, katanya. Saya lanjut tanya, “Kenapa Om…?”. Dan obrolan ringan ini sebenarnya berat juga, lalu saya ingat tulisan sesepuh saya di Jogja, RUA Zainal Fanani, SmHK. Berikut tulisan Pak Zainal:

Beberapa waktu yang lalu (Mei 2009), dalam perjalanan saya bersafari mengisi seminar pendidikan, saya mendapat kesempatan menyampaikan materi seminar di hadapan sekitar 400 guru. Berbicara di hadapan para guru adalah suatu amanah yang sangat saya sukai. Betapa tidak, menyampaikan sesuatu yang bermakna, memberi inspirasi, memotivasi para pendidik, berarti saya telah memberikan kontribusi pada pembenahan besar mentalitas dan kualitas manusia Indonesia. Saya jadi teringat akan pernyataan Buya Syafi’i Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah di sebuah surat kabar beberapa tahun lalu,…

Buya Pusing..

Buya Pusing..

“Kerusakan bangsa kita nyaris sempurna. Kini kita tanggal punya satu harapan: dunia pendidikan….”

Rasanya sungguh menyedihkan. Tapi, … Sungguh ini sebuah pengalaman yang tak terduga. Panitia penyelenggara seminar pendidikan yang mengundang saya kali ini adalah panitia yang idealis. Mereka berusaha keras menegakkan komitmen untuk menjaga martabat luhur dunia pendidikan.

Sejak semula mereka menolak pendaftaran, dengan imbalan uang seberapa pun banyaknya, dari para guru yang hanya mau menitip tanpa niat untuk hadir dalam seminar, termasuk yang hanya datang mendaftar lalu pergi untuk mengikuti acara lain, entah acara apa. Sekitar setengah jam sebelum seminar dimulai para peserta berbondong-bondong datang untuk menandatangani daftar ulang. Dan peristiwa aneh itu pun terjadi di depan hidung saya… Seorang wanita tampak amat gusar kepada panitia. “Mbak, ini teman-teman saya mau bayar dan hanya butuh sertifikat. Mereka punya acara lain yang lebih penting. Masak gitu aja tidak boleh. Butuh uang tidak!!!” bentaknya, sambil menyodorkan daftar nama para guru sebuah sekolah, yang minta dibuatkan sertifikat tanpa harus hadir.

Di hadapan wanita yang sedang meradang itu duduk seorang petugas dari panitia yang tampak kaget dan pucat. Tapi, dengan tenang ia menjawab, “Maaf, Bu, niat kami adalah berbuat sesuatu untuk dunia pendidikan, bukan jualan sertifikat. Jadi, sekali lagi maaf, kami tidak bisa menerima titipan uang peserta yang tidak hadir, atau pulang sebelum selesai. Semua peserta harus menandatangani daftar hadir dua kali: di awal dan di akhir seminar. Hanya yang memenuhi syarat yang akan kami beri sertifikat…”

Mendengar jawaban petugas berjilbab itu hati saya menjadi tenang. Saya salut. Memang begitulah seharusnya. Namun, rupanya saya ditakdirkan untuk menjadi saksi atas insiden yang lebih memilukan. Tiba-tiba saja wanita itu, dengan wajah sangat garang, merebut ballpoint milik petugas, dan melemparkannya kembali ke tubuh petugas itu. “Sok moralis…!” teriaknya sambil bergegas pergi.

Saya tertegun. Fenomena apakah ini? Memang, harus diakui, sejak pemerintah mencanangkan program sertifikasi bagi para guru, acara-acara seminar dan diklat merebak di mana-mana. Pesertanya hampir selalu membludag. Hal ini juga sering dimanfaatkan oleh para EO atau lembaga tertentu untuk menyelenggarakan acara-acara sejenis. Tapi, meski masih wajar bila hal ini dilihat sebagai peluang usaha, namun semua haruslah tetap berada dalam koridor moral. Apalagi ini ditujukan untuk para guru, pendidik anak-anak bangsa. Berharap mendapat sertifikat, dengan hanya membayar, tanpa mengikuti kegiatannya, adalah sesuatu yang sangat tidak terpuji. Bukankah ini mengajarkan mental korup?

selembar kertas yg jadi 'dewa'

selembar kertas yg jadi 'dewa'

Sudah lama saya prihatin dengan praktik-praktik aneh sejenis ini. Saya pernah diminta mengisi training 5 hari tapi baru pada hari kedua saya sudah diminta menghentikan training karena panitia dan peserta telah sepakat bahwa training hanya akan dilaksanakan 2 hari saja, meski nantinya di sertifikat tetap ditulis 5 hari. Ketika saya protes, panitia dengan enteng menjawab, “Bapak trainer baru ya. Di mana-mana penataran ya seperti ini, Pak.” Tentu saja saya berusaha untuk tidak percaya. Tapi… ternyata praktik seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Belum lagi, dalam acara seminar-seminar itu, banyak peserta yang datang terlambat 1-3 jam atau bahkan lebih.

Lebih memprihatinkan, setelah mendaftar ulang, banyak peserta yang hanya menggerombol dan mengobrol di luar gedung, sampai acara selesai. Panitia tampak kesulitan untuk meminta mereka masuk ruangan. Ada pula yang mau masuk namun memilih duduk di belakang, dan –sudah bisa diduga– 1-2 jam setelah acara dimulai mereka menyelinap pergi entah kemana….

Saya merenung, apakah ini yang menyebabkan upaya apapun, dengan dana triliunan rupiah, tidak terlalu membawa kemajuan bagi dunia pendidikan? Yah, program sebagus apapun; seminar ini-itu, training dan penataran itu-ini, workshop atau pelatihan ini-itu, bila selalu disabotase dengan praktik-praktik tak terpuji semacam ini, apa gunanya? Saya jadi bisa memahami kegeraman teman saya sesama trainer, “Ini kejahatan. Tidak etis, tidak bermoral dan tidak bermartabat…!”

Akan halnya dengan insiden penuh kemarahan seorang guru wanita melempar petugas pendaftaran seminar dengan ballpoint, sungguh membuat hati saya terasa tercabik-cabik. Bila guru sudah tidak lagi mengajarkan dan menjaga moral anak-anak bangsa, lalu kepada siapa lagi kita bisa berharap.

Buya Syafi’i Ma’arif, maafkan kami… Doakan kami agar tetap istiqomah… Dunia pendidikan yang Buya harapkan, masih harus banyak dibenahi, terutama pada aspek mental dan moral. Perjuangan masih panjang….

pak Zainal dalam Moral Pendidik

Baca juga:

Kontroversi Pendidik dan Tenaga Kependidikan

====

Demikian salah satu renungan saya (disamping banyak renungan lainnya) sebagai seorang guru, menutup tahun 2009 ini. Sebagai Guru, saya sudah beberapa kali diminta Kepala Sekolah untuk ikut melengkapi berkas dalam rangka Sertifikasi Guru, namun karena sifatnya ndak wajib, maka hingga tulisan ini saya buat, saya masih belum memenuhinya. Jadilah saya guru yang belum (atau tidak) tersertifikasi.

Namun sebagai guru, saya akan tetap komit untuk mencerdaskan anak bangsa ini semampu saya. Saya yakin bisa mencerdaskan anak didik saya meski tidak (mau)  lolos sertifikasi.

Bagi rekan2 guru yang sudah dan masih menunggu sertifikasi, tetap sebagai Guru yang siap digugu dan siap ditiru, jangan sekedar setiap minggu hanya turu; lebih2 menjadi manusia yang wagu dan saru.

ING NGARSO SUNG TULODO,

ING MADYO MANGUN KARSO,

TUT WURI HANDAYANI

Iklan

6 Tanggapan

  1. bismillah….
    kiranya begitulah dunia pendidikan kita, sampai sampai baru2 ini di daerah saya rembang jateng untuk menjadi guru pns tarifnya 70 – 100 jt.
    lha kalo seperti ini muridnya nantinya seperti apa? wallahu a’lam

    Suka

    • Tidak usah nunggu nanti sekarang aja uda kelihatan,kalo gurunya ngencing berdiri, muridnya ngencingi guru tidak ad rasahormat sedikit pun.

      Suka

  2. Aslkm… pak Ar..
    Sudah seharusnya kriteria guru/doesn bukan berdasarkan sertifikat.. sebaiknya berdasarkan kemampuan…
    kalau sertifikasi guru / dosen berdasarkan sertifikat semata.. Insya Allah negra ini tak pernah maju… Nauzubillahi minzalik..
    Kita sarankan kepada pemerintah (menteri pendidikan, sebagai mantan Dosen ITS bidang Kontrol saya rasa sangat paham masalah ini) untuk membenahi ini.. yang perlu diperbaiki adalah sistem yang konsisten, jangan ganti menteri ganti kurikulum..
    Kemanpuan Guru/dosen tidak diukur dengan titel yang tinggi dan sertifikat yang banyak.. bukan berarti tidak perlu, yang penting adalah menguasai materi dan teknik penyampaian yang jelas dan bagus. dalam bahasa “LASKAR PELANGI” kemampuan tidak diukur dengan angka-angka / materi..
    INSYA ALLAH KITA MAMPU, masalahnya APAKAH KITA MAU? Coba kita bertanya pada nurani kita, masing-masing

    Suka

  3. Sebenarnya dari pertama ada program sertifikasi guru.. aku sudah curiga..
    Kenapa karena hampir 80% profesi guru itu jadi pilihan terakhir…
    Nah semenjak ada sertifikasi dan profesi guru gajinya tinggi sekarang jadi rebutan..
    Hanya 20% guru yang betul2 menjalankan amanahnya sebagai se orang pendidik.
    yg 80% itu yang akan bikin hancur Negara Ini…

    Suka

  4. Kapan muleh?
    Kok ra kondho-kondho?
    Jadwal Imsakiyah utk Kota Salatiga kok belum ada Tad?

    sudah Om…nama kota tinggal ganti Salatiga, lalu sudut shubuhnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: