Pendidikan Multikultural PPMI Assalaam

PPMI Assalaam

PPMI Assalaam

PPMI Assalaam terletak di desa Pabelan Kartasura Sukoharjo, Surakarta Jawa Tengah. Pesantren ini berdiri pada 7 Agustus 1982 di kampung Punggawan Surakarta. Mulai 1985, Pesantren ini pindah ke Pabelan dan hingga kini masih dan terus berkembang. Saat ini Pesantren ini memiliki 5 unit sekolah formal dan unit sekolah non formal atau kesantrian. Kurikulum Pesantren ini ternyata Multikultural menurut hasil riset Drs. Abdullah, M. Ag., (43 tahun), mahasiswa Program Psca Sarjana UNI Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Drs. Abdullah, M.Ag. mengatakan, Indonesia memiliki banyak problem terkait dengan eksistensi sosial, etnik, kelompok keagamaan yang beragam, adat istiadat dan bahasa kedaerahan yang beragam, yang sesungguhnya keberagaman itu merupakan kekayaan tak terhingga nilainya. Dengan pendidikan multikultural, akan memberi pemahaman kepada setiap anak didik akan kekayaan bangsa Indonesia berupa keberagaman itu. Dengan pendikan multikultural itu juga akan dapat mewujudkan generasi penerus Indonesia yang saling memahami dan bekerjasama, meski dengan latar belakang etnik, bahasa, budaya, dan agaman yang berbeda-beda.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta ini, saat mempresentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor bidang ilmu agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Senin, 5 Januari 2009. Disertasi promovendus yang mengangkat judul Pendidikan Multikultural di Pesantren (Telaah Kurikulum Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta)ini dipertahankan di hadapan Promotor Prof. Dr. H. Sugiyono dan Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, MA, serta Tim Penguji antara lain : Prof. Dr. H. Anik Ghufron, Dr. Sekar Ayu Aryani, MA., Dr. Ratno Lukito, MA. Sidang Promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA.

Lebih lanjut Promovendus mengungkapkan, pendidikan multikultural dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai demokrasi, solidaritas, kebersamaan, kasih sayang, perdamaian, toleransi, sikap pemaaf, saling menghargai dalam perbedaan, di setiap bahan ajar dan praktek pembelajaran dalam suasana pembelajaran yang hidup. Namun, dalam praktek pembelajaran di sekolah sekolah umumnya, pendidikan multikultural ini masih susah diterapkan karena adanya penyeragaman kurikulum dan metode pembelajaran, masih adanya setralisasi dalam pengelolaan pendidikan, yang sarat dengan instruksi, petunjuk dan pengarahan dari atas, belum adanya upaya saling menghargai dan mengakomodasi perbedaan latar belakang peserta didik yang menyangkut budaya, etnik, bahasa dan agama, guru lebih sering menasehati peserta didik dengan cara mengancam, masih banyak guru yang hanya mengejar standar akademik sehingga kurang memperhatikan budi pekerti dan moralitas anak didik. Sementara, proses pendidikan dan pengajaran agama, umumnya lebih menekankan sisi keselamatan individu dan kelompok satu agama, daripada keselamatan individu lain dan kelompok yang beragama lain.

Dengan diundangkannya UU nomor 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan Nasional yang harus mengakomodasi nilai-nilai hak asasi manusia dan semangat multikultural (Bab III, pasal 4 ayat 1), maka sudah saatnya pendidikan multikultural menjadi kesadaran setiap pendidik, dengan menghilangkan hambatan hambatan di atas, karena terbukti, dengan semangat yang tinggi, para pengelola Pondok Pesantren Modern bisa menerapkan pendidikan multikultural dalam kurikulumnya. kata putra kelahiran Bojonegoro ini.

Dengan melakukan penelitian teknik pengamatan (Participant observation), wawancara mendalam (in-dept interview) dan dokumentasi, yang mengambil lokasi di Pondok Pesantren Modern Islam ((PPMI) Assalam Surakarta, Bapak empat putra dari istri Siti Nurrohmawati, S. Pd., ini berhasil mengungkap bahwa, pendidikan multikultural di PPMI Assalam sudah tercermin dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi kurikulumnya yang memakai model Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Hal ini terlihat, Perencanaan kurikulum di PPMI Assalam melibatkan partisipasi dari berbagai sumber daya manusia antara lain unsur yayasan, kyai, kepala sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah, pengguna lulusan, sampai pada para guru secara demokratis, adil dan terbuka. Implementasi kurikulum di PPMI Assalam mengharuskan setiap materi ajar untuk memuat nilai-nilai multikultural seperti ; nilai keragaman, perdamaian, demokrasi, keadilan. Dengan memahami nilai-nilai tersebut, kata promovendus, setiap peserta didik mampu memahami keberadaan orang lain yang berbeda etnik, budaya, bahasa, warna kulit, yang akan dipakai juga untuk memahami orang lain beda kelompok maupun beda agama.

Dijelaskan, dengan pendidikan multikultural, guru akan dapat mengaktifkan paserta didik berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang demokratis dan menyenagkan. Metode pembelajaran juga menjadi lebih beragam (ceramah interaktif, pembelajaran aktif, pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, bermain peran, keteladanan dan sebagainya). Sementara gaya pengajaran akan lebih demokratis, terbuka dan fleksibel, sehingga menempatkan peserta didik sebagai subyek yang memiliki status dan hak yang setara, serta menempatkan peserta didik dengan berbagai gaya belajar secara adil.

Dalam aspek evaluasi kurikulum, pendidikan multikultural di PPMI Assalam tercermin ketika melakukan tes prestasi dengan melakukan teknik studi kasus (dengan cara lisan, tertulis, portopolio, kinerja dan penugasan) untuk evaluasi aspek akademik. Dan teknik observasi/ kinerja untuk evaluasi non akademik. Evaluasi dilakukan secara harian, blok, tengah semester dan semester, sehingga memungkinkan evaluasi yang lebih fair dan adil dan seimbang.

Menurut Promovendus, hasil penelitian desertasinya di PPMI Assalam yang menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi bercirikan pembelajaran multikultural ini, bisa dipakai contoh untuk diterapkan di sekolah-sekolah pada umumnya, sebagai salah satu instrumen untuk membentuk masyarakat yang lebih arif dan bijak dalam memecahkan segala problem berkait dengan eksistensi sosial, etnik, kelompok-kelompok keagamaan yang sangat beragam, pemeliharaan kekayaan budaya dan adat istiadat yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Oleh tim penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat “sangat memuaskan” dan dirinya merupakan doktor ke-204 yang telah berhasil diluluskan PPs UIN Sunan Kalijaga.

(sumber: Humas UIN Suka)
http://www.uin-suka.ac.id/detail_berita.php?id=24

Link Terkait:

  1. Web resmi PPMI Assalaam
  2. PPMI Assalaam dalam WikiPedia
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: