Meluruskan Kiblat Al-Muttaqun Prambanan

Cek Kiblat Al-Muttaqun

Cek Kiblat Al-Muttaqun

Ahad, 15 Nopember 2009 sekitar jam 09:00 WIB saya tiba di Masjid Raya Al-Muttaqun Prambanan. Masjid yang sangat megah, dan terletak di pinggir jalan raya Yogya – Solo. Masjid ini menjadi sentral kegiatan keagamaan masyarakat Prambanan dan juga wisatawan yang mengunjungi Candi Prambanan untuk sekedar singgah dan sholat. Agenda utama pagi itu adalah melihat ulang akurasi arah kiblat masjid senilai hampir 12 milyar ini. Hasilnya…

Masjid Al-Muttaqun yang lama, alias sebelum direhab, arah kiblatnya masih kurang ke utara sekitar 11 derajat. Bagaimana setelah direhab dan menelan dana cukup besar…? Inilah yang menjadi agenda utama saya diundang oleh pihak Takmir. Panitia juga menghadirkan tokoh falak dari PP Muhammadiyah yang juga anggota BHR Pusat Depag RI, Drs. H. Oman Fatchurrohman, M.Ag.

Masjid yang telah direhab dan dibangun dengan dana Rp 12 miliar ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto didampingi Ketua MPR RI Dr. H. Hidayat Nurwahid, MA., pada Jumat (13/3) lalu.

Masjid megah ini dibangun dengan bantuan dari negara Qatar sebesar Rp 9,5 miliar, Rp 1 miliar dari kepresidenan RI, dan sisanya swadaya masyarakat sekitar masjid. Bangunannya unik, yaitu perpaduan arsitektur Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid di Cordova, Masjid Keraton Yogyakarta, dan Surakarta.

Bangunan dua lantai tersebut berdiri di atas tanah seluas 1.700 m2 dan dilengkapi sarana Islamic Center “Asy-Syaikh Jazim bin Muhammad Aly Tsani”. Nama tersebut diambil dari nama pendiri negara Qatar.

Dr. Hidayat Nur Wahid, menyebut masjid tersebut dengan masjid Bandung Bondowoso yang dalam legenda adalah pembuat Candi Prambanan. Sebenarnya, Bandung adalah kota asal arsitek masjid dan Bondowoso adalah kontraktor yang membangun masjid tersebut.

SOSIALISASI SERTIKASI ARAH KIBLAT:

Acara pada Ahad, 15 Nop 2009 pagi hingga siang adalah Sosialisasi Sertikasi Arah kiblat dan Pelatihan Roshdul Qiblah, kerjasama KUA Prambanan dan Takmir Masjid Raya Al-Muttaqun Prambanan, yang diikuti sekitar 150 peserta dari seluruh takmir Masjid dan Musholla se – kecamatan Prambanan dan kecamatan – Bayat, kabupaten Klaten.

Dalam sambutannya, ketua Takmir Masjid Al-Muttaqun, Drs. H. Ahyadi menyatakan:
1. Dengan adanya acara ini,  kita ingin mengetahui ilmu menentukan arah kiblat yang  selama ini kita kurang peduli.
2. Ide acara ini adalah instruksi kakandepag kab. Klaten,  dan merupakan Program Sertifikasi Arah Kiblat. Dan kita mengawalinya dari masjid ini.
3. Keputusan dan Amanah Takmir setelah rapat kerja seluruh pengurus Takmir di  Kaliurang, dimana saat itu muncul dua pendapat; arah kiblat masjid ini sudah pas, dan ada yang berpendapat belum pas.
4. Acara ini merupakan kerjasama antara Takmir Masjid Al-Muttaqun dan KUA kec. Prambanan.

Acara diikuti sekitar 96 peserta mewakili takmir yg diundang, Penyuluh Agama dan Team Sertifikasi Arah Kiblat kec. Prambanan dan kec. Bayat kab. Klaten.

Hadir dan memberikan sambutan, dari wakil Camat Prambanan dan kepala KUA kec. Prambanan. Dalam sambutannya, kepala KUA menyatakan bersyukur dapat bersilaturrahmi dan mendapat ilmu tentang kiblat dan arah kiblat, dimana kajian serupa juga pernah digelar di rumah ustadz Hidayat, (kebetulan juga, saya pematerinya).

Pihak KUA juga menjelaskan bahwa Team Sertifikasi Arah Kiblat kecamatan Prambanan sudah dibentuk. Fungsi dari Team ini adalah agar Takmir Masjid yg saat ini ikut Sosilisasi dan Pelatihan, supaya Masjid masing2 dan lapangan yg dipakai sholat bila belum tepat arah kiblatnya, bisa berhubungan dengan Team Sertifikasi.

KIBLAT AL-MUTTAQUN:

Dari acara ini, setelah menyimak dengan seksama penjelasan tentang Kiblat dan Arah Kiblat oleh Drs. H. Oman Fatchurrohman, M.Ag., dan saya lengkapi paparan visual; akhirnya dilakukanlah pengecekan ulang arah kiblat Masjid Raya Al-Muttaqun.

Saya jelaskan, bahwa untuk memastikan arah kiblat; maka ada banyak cara yang bisa kita lakukan, dan saya menyarankan minimal ada tiga cara:

  1. Satelit (data dari peta Google Earth, kondisi masjid lama), hasilnya Kiblat kurang ke utara sekitar 11 derajat. (Hampir serupa dengan kondisi Masjid UNS.)
  2. Theodolit (ini tidak dilakukan karena alat belum disiapkan)
  3. Bayangan matahari pada Jam Kiblat (karena mendung, akan dilakukan hari berikutnya)
  4. Kompas (saya lakukan dengan Kompas RHI dan Kompas Muterpas-Pak Sriyatin), hasilnya Kiblat kurang sekitar 10 derajat.

Dari beberapa cara ini, nantinya pihak Takmir akan bermusyawarah dan akan segera mengambil keputusan yang terbaik berdasarkan syar’i. Dan semoga beda pendapat yang sempat muncul seputar arah Kiblat masjid Raya Al-Muttaqun segera menemukan titik temu dan jamaah menjadi mantap dan yakin dalam menjalankan sholat di salah satu masjid Raya kebanggan Ummat Islam ini.

DOWNLOAD MATERI PELATIHAN:

Materi Presentasi Selengkapnya

Jadwal Sholat dan Tabel Jam Kiblat

DOKUMENTASI:

Galery yg bisa saya abadikan: (Selengkapnya di Panitia dalam bentuk foto dan video)

sebagian Video acara Sosialisasi dan Pelatihan sampai Pengukuran:

Iklan

7 Tanggapan

  1. Mengapa wacana arah masjid yang anda sorot adalah untuk masjid yang sudah selesai dibangun ?

    Bukankah akan lebih baik bila anda mencari masjid yang akan atau sedang dibangun, melalui fasilitas GE sehingga anda dapat segera memberi masukan kepada panitia pembangunannya dan dapat segera dilakukan perbaikan arah masjidnya ?

    Saya rasa ini akan jauh lebih baik dan efisien, apalagi bila anda sebagai penasehat arah masjid yang tanpa pamrih secara ikhlas membantu, tentu akan memperoleh pahalanya..

    Bayangkan berapa milyar rupiah lagi yang diperlukan untuk merehabilitasi arah masjid yang ‘error’ di Indonesia, bila hanya difokuskan pada masjid yang telah selesai dibangun ?

    Wacana ini bisa menjadi masukan yang berguna kepada pemerintah dan organisasi yang berkaitan al. DPR RI, DEP. AG, DEP. PU, MUI, asosiasi pengusaha konstruksi dan kontraktor dll) terutama agar dapat segera terwujudnya Standar Konstruksi Masjid di Indonesia.

    Semoga suatu saat nanti, tidak akan ada lagi arah masjid yang ‘error’ di muka bumi Indonesia, sehingga kita bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk.

    Salam.

    Terima kasih masukan Pak Baskoro….sebagian sudah kami lakukan, dan sertifikasi arah kiblat akan segera dikeluarkan Depag, khususnya Jateng. Dan barusan saya juga diminta cek ulang kiblat masjid raya senilai 12 M, al-Muttaqun Prambanan…salam kembali

    Suka

  2. wa sudah diresmikan yahpak..mantep2…dari dulu solo-pwr, kayaknya masih renovasi gt 😀

    Suka

  3. mungkinkah perubahan arah kiblat karena pergesewran lempengan bumi?
    perubahan Kiblat tidak terjadi di masjid Raya Al-Muttaqun, tapi bebrapa tempayt seperti mesjid di tempat kediaman saya di bandung dan tempat kerja sama mengalami perubahan arah kiblat…

    Suka

  4. Ya mudah2 an cepat beres dan tidak menelan banyak biaya lagi

    Suka

  5. Bgm dg arah kiblat daerah yang berbeda letak bujurnya sebesar 180 derajat dg Kabah? Kiblatnya ke-bawah-kah, ke arah tanah (krn arah Kabah di belahan bumi sebaliknya)? Perlu sedetail itukah penentuan arah kiblat? Maaf klo terlalu ekstrim pertanyaan saya. Wassalam.

    Terima kasih pertanyannya.
    Sama sekali tidak ekstrim. Kiblatnya ya sama dgn di dalam ka’bah…. ke arah mana saja, asal tidak ke atas atau ke bawah.
    Kalau sempat cek di GE, di sana ada placemark saya,
    salam….

    Suka

  6. Terimakasih atas tanggapannya, Pak. Btw yg agak ekstrim menurut sy itu implikasi dr kebutuhan pemilihan arah kiblat yg “sangat tepat” itu sbg syarat sah-nya sholat. Org yg tdk membawa kompas akan cenderung ragu2 ke-sah-an sholatnya. Begitu mksud saya, Pak. Lagipula, krn bumi bulat, org yg membelakangi kiblat pun hakikatnya menghadap kiblat jg, hny sj lintasan tempuhnya lebih panjang. Salam selalu.

    benar akhii. sifat keberagaman Islam adalah proses, kalau kita mampu memang harus ekstrim. tapi kalau memang kemampuan kita belum sampai; Alloh tidak membebani yg di luar kemampuan kita.
    sisi lain arah kiblat, silahkan antum baca yang ini (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/10/03/kiblat-masjid-uns-error-9%C2%B0/)…salam selalu kembali

    Suka

  7. Pak Ar, sy sdh membaca link yg bapak maksud. Dan sy mmg sdh menduga bhw pasti buanyak masjid yg arahnya tidak lurus-tepat ke arah “kiblat” (Ka’bah). Btw, kita sesama muslim seringkali terjebak dlm perdebatan yg sbenarny berawal dr penafsiran ttg sesuatu, apakah sesuatu itu bersifat FISIK ataukah SIMBOLIK. Dlm hal ini, penafsiran kiblat yg Bapak anut tentulah yang bersifat FISIK sehingga titik koordinat di tengah Ka’bah itulah acuan yang bapak gunakan. Menurut sy, mem-FISIK-kan sesuatu yang SIMBOLIK (khususnya dlm penafsiran kiblat ini) bs mengaburkan esensi Islam sbg Agama Universal. Sedikit ngobrol futuristik, andai nanti dimungkinkan manusia (termasuk umat Islam) bermigrasi dan tinggal menetap di bulan, apa yg akan terjadi dg referensi Fisik kiblat yg bapak anut itu? Menurut sy semua arah adalah milik Allah, adapun arah kiblat di bumi ini yg “seragam” lbh menjurus pada persatuan umat. Indonesia terletak di sebelah (relatif) timur Arab Saudi di mana Ka’bah berada, so kiblat org Indonesia adalah ke arah barat. Sholat menghadap ke arah barat sbg “simbolisasi” saja, ga hrs diukr scr presisi. Btw, klo ngobrol ttg fisika, penyimpangan arah masjid UNS itu msh terlalu kecil jika kita bicara ukuran astronomis, kan? Salam selalu..salam Fisika juga, Pak.

    -tulisan pak Hari di ‘sisi lain kiblat’, sudah menjawab analisa antum. Kalau memang kita ke luar Bumi, seperti kasus Shaikh Mudzaffar Sukhor (malaysia) saat ke ISS, maka ia sholat yaa menghadap ke Bumi sebisanya…
    -kiblat lafdzi ata maknawi sebatas masih dalam ranah ilmu yg benar, insya Alloh akan tetap menjaga keutuhan nilai2 hakiki persatuan ummat
    -in uriidu illa al-ishlaah….
    wa iyyakum wa asykurukum

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: