Kiblat Masjid UNS error 9°

Kiblat Masjid UNS?

Kiblat Masjid UNS?

Saya belum pernah sholat di masjid Nurul Huda UNS-Solo. Tetapi saya sering mengamati masjid itu dari satelit via GE, saat pertama saya lihat error, maka begitu ada peluang bertemu dengan dosen UNS, saya laporkan hal ini. Sampai kini saya belum sempat ke sana, tetapi saya hanya berharap tahun 2009 ini, shaf masjid UNS sudah dibenarkan. Apalagi saya dengan dari salah seorang dosen, bahwa masjid sudah direhab. Poto tahun 2006 menunjukkan bahwa qiblat masjid UNS error 9°.

Kalau mau membuktikan, silahkan datangi masjid UNS, bawakan kompas lalu cek, dan hasil saya yakin tidak akan lewat dari kisaran 9°. Padahal kesalahan ini akan mengakibatkan penyimpangan arah kiblat masjid Nurul Huda UNS ini sejauh sekitar tan 9 x jarak majid ini ke titik ka’bah.

Berikut datanya:

Jarak Nurul Huda ke Ka'bah

Jarak Nurul Huda ke Ka'bah

Maka penyimpangan arah kiblat nya adalah:

tan 9 x 8.377,75 km = 0,15838444032453629383888309269437 x 8.377,75

= 1326,9052449288839357087028298202

= 1.326,91 km

Satu kali panjang pulau Jawa, bahkan lebih….!

Bila konsisten dengan segitiga bola, maka ralat adalah sebersar 9 x 111 km = 999 km. (Hampir se Pula Jawa).

Sebagai gambaran, andai Ka’bah (kiblat yg benar=294,54°) berada di Monas Jakarta, maka kiblat masjid Nurul Huda UNS (sesuai gambar 29/8/06 = 285,54V) adalah berpindah ke Bandara Bima NTB…!!!

Berikut hasil survei saya via GE dan nilai ralatnya:

Kiblat Masjid Nurul Huda UNS (29/8/2006)

Kiblat Masjid Nurul Huda UNS (29/8/2006)

Ketika saya menemukan salah satu kopian proposal Rehab masjid ini, saya tidak menemukan satu kata di dalam proposal itu yg menyebutkan kata kiblat atau qiblat. Proposal yang disitilahkan sebagai Proyek Peradaban ini ditaksir menelan dana sebesar Rp 14.187.500.000,- (Empat belas Milyard lebih…)

Penampilan kini (3 Okt 2009), saya belum melihatnya lagi, semoga meski urusan kiblat tidak masuk proyek, semoga arah yang merupakan salah satu shahihnya sholat ini telah valid adanya dan telah dibenarkan.

Mengapa saya menulis ini, sebab saya peduli ilmu; UNS adalah gudang dan kawah ‘condrodimuko’nya para pengguwa ilmu di kota bengawan yang melahirkan para ilmuwan di negeri ini. Kalau markasnya para ilmuwan saja, urusan yg sepele kurang diperhatikan, apatah lagi di lingkungan masyarakat awam.

Selamat menempuh perjalanan baru dalam peradaban di kampus nan asri Universitas Sebelas Maret Surakarta, lewat kokoh dan megah serta ma’murnya Masjid Nurul Huda (pancaran petunjuk)…tembtunya dengan kiblat yg benar.

Hasil Rukyah Arah Kiblat lainnya:

http://www.scribd.com/doc/13745870/Rukyah-Arah-Kiblat-Pakarfisika

Amien…19x

Update:

Pada tanggal 29 Nopember 2009, salah seorang mahasiswa UNS, mengambil gambar / photo dan memberikan pada saya berikut ini:

Kiblat Nurul Huda UNS, via Bayangan Matahari

Kiblat Nurul Huda UNS, via Bayangan Matahari

Ini adalah bukti lain, bahwa melalui metode bayangan sinar Matahari saat azimuth matahari tepat atau beroposisi dengan azimuth Kiblat masjid Nurul Huda UNS, yakni pada tanggal 29 Nopember 2009 jatuh pada jam 08:47 waktu setempat (WIB), maka mestinya bayangan waterpass (tiang vertikal) akan sejajar dengan sisi keramik di lantai masjid ini. Kenyataannya tidak, dan di sana ada selisih sudut sekitar 9 s/d 10 derajat; PAS dengan hasil pengamatan via Google Earth (Qiblalocator).

Data terakhir, berdasarkan perhitungan dengan kompas (MUTTERPASS), seperti pada poto di atas, maka kalu kita lihat; arah kiblat masjid ini memang masih kurang serong ke utara.

Keputusan adalah di tangan para pengelola, urusan syar’i sebaiknya tidak sembarangan dalam menentukan…

Iklan

19 Tanggapan

  1. […] Padahal kesalahan ini akan mengakibatkan penyimpangan arah kiblat masjid Nurul Huda URead more at https://pakarfisika.wordpress.com/2009/10/03/kiblat-masjid-uns-error-9%C2%B0/ Tags: 2009, dal, kali ma, USA, – « Sunday Open Thread: […]

    Suka

  2. wah, mbok saya diajari softwarenya pak..ato klo ada yg gratisan mau dunk..hehe..
    btw, ternyata dulu 4 tahunan saya kuliah di uns, berarti sempet miring dunk kiblatnya…(doh) 😀

    Suka

  3. itu namanya software, GE ya pak..??

    iya mas, Google Earth, unduh di sini : atau kopi paste url ini http://earth.google.com/download-earth.html…salam

    Suka

  4. Assalamualaikum
    wah kok bisa melenceng jauh banget gitu..?
    jadi bingung sama yang bagian pembangunannya..???
    hehehehehe

    Suka

  5. ya akhiii…
    lha yang penting kan bukan arah fisik mesjidnya, tapi arah qiblat sewaktu menunaikan sholat. di banyak mesjid saat ini arah sholat udah disesuaikan dengan arah qiblat yang benar, jadi tidak harus sesuai dengan arah bangunan mesjidnya. rasanya demikian yang dimaksudkan oleh Pak AR….. wallaahu a’lam bisshowaab…
    wassalam

    ya benar sekali mas Nur…salam

    Suka

    • MasNur, memang yg terpenting adalah arah hadap kita waktu sholat, bukan arah gedung, tapi selama ini ketika saya sholat di masjid NH UNS, jamaah selalu lurus dengan tembok masjid paling depan, yang artinya arah hadap ketika sholat sejajar dengan arah hadap masjid…

      sayapun baru tau kalo ternyata 9° melenceng arah hadap masjid ini…

      Suka

  6. Yang sholat itu masjid, apa orang ?

    Suka

  7. Kalau yang sholat orang, kok yang diributkan masjidnya ?

    Suka

  8. Jangankan itu, biar masjidnya mengarah ke timur sekalipun, bila yang sholat menghadap ke kiblat, mau bilang apa ?

    Tak ada yang satupun yang mengatur arah masjid. Masjid adalah sekedar tempat sholat, yang diatur adalah arah menghadap apabila melakukan sholat, yaitu ke arah kiblat.

    So, untuk apa wacana ini digulirkan ?

    Bangunan tsb sudah selesai dibangun dengan biaya besar, berdiri megah dan menjadi kebanggaan kampus UNS. Juga telah digunakan bertahun tahun untuk sholat dan ibadah lainnya.

    Saya rasa tak ada perlunya ini diperdebatkan.
    Mohon agar tulisan ini segera ditutup saja sebab lebih banyak mudlarat daripada manfaatnya.

    Lebih baik anda fokuskan pada diri anda sendiri, untuk lebih banyak bertaubat dan menjalankan ibadah.

    Terima kasih atas perhatiannya.

    Terima kasih kembali atas silaturahimnya. Saya sekedar menuangkan masukan secara tertulis, karena secara lisan saya pernah menyampaikan hal ini kepada salah dosen UNS sebelum masjid itu direhab. Hanya jawaban beliau sangat ringan,”rehab hanya sebagian saja kok ndak total”.

    Saya ndak habis fikir, kalau masjid2 di Indonesia menghadap ke timur atau ke utara atau ke selatan dan seterusnya…lalu ke bawah atau ke atas…wah, sama sekali saya tidak bermaksud sampai ke sana.

    Pihak UNS (HIMA Fisika, kalau nggak salah) pernah mendatangkan Koordinator RHI, dan menjabarkan secara sains cara mengetahui kebenaran kiblat masjid ini. Hasilnya tinggal ditindaklanjuti.

    Masjid Agung hampir semua kota masih belum pas kiblatnya, dan setelah shaff dibenarkan, semuanya selesai, maka silahkan saja shaff masjid ini dibenarkan sesuai kaidah ilmu falak; insya Alloh selesai. Apalagi UNS tempatnya orang berilmu, akan mudah mencapai mufakat.

    Terakhir, tulisan ini sama sekali tidak menyoal ibadah sholat di dalam masjid, tetapi melihat secara visual, kok bangunan belum pas. Itupun kondisi sebelum direhab. Usai direhab lalu sudah dibenarkan, ya alhamdulillah. Salam hormat dari saya buat semua pembaca risalah ini…..:)

    Suka

    • Baiklah, bila memang anda menghendaki wacana ini terus digulirkan, mari kita lanjutkan.

      BAGIAN PERTAMA :

      Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan penting sehubungan dengan tulisan anda sbb :

      1. Mengapa anda hanya mensinyalir satu lokasi masjid saja, (yang menurut anda ‘salah’ arah sampai ribuan km), sedangkan menurut anda sendiri masih banyak masjid lainnya yang juga salah arah, mungkin bisa lebih parah dari masjid UNS atau masjid yang lebih besar dan lebih megah dari masjid UNS ? Sebaiknya anda tidak mencantumkan secara terang terangan nama dan lokasi masjid, bila maksud anda sekedar memberi masukan.

      2. Sudah pernahkan anda membuat suatu studi atau survey yang cukup dapat dipercaya atau anda memiliki sejumlah data atau petunjuk perihal arah sebagian besar masjid di Indonesia, sehingga cukup alasan bagi anda untuk membuat tulisan ini ?
      Jangan jangan sebagian besar masjid juga salah arah yang bahkan lebih jauh dari masjid UNS.
      Lalu menurut anda, berapa derajatkah toleransi penyimpangan yang diperbolehkan untuk arah masjid yang menurut anda sudah benar atau memenuhi standar? Apakah ada aturan atau hukumnya bila masjid salah arah sampai ribuan km tsb ?

      3. Apa maksud anda dengan arah masjid tsb yang ‘meleset’ sampai ribuan km tsb (dengan contoh soal yang membuat orang terperangah). Pernahkan terpikir oleh anda bahwa anda bisa menimbulkan kesan bahwa bila sholat di masjid tsb. seakan akan arah kiblat ‘terpeleset’ sampai ribuan km jauhnya ?

      4. Adakah standar konstruksi masjid yang wajib dipedomani oleh setiap kontraktor pembangunan masjid, untuk menghindari kesalahan arah tsb ? Menurut anda, bila anda menjadi seorang kontraktor pembangunan masjid, metoda apa yang anda gunakan agar masjid yang anda bangun dapat anda jamin tidak meleset 1 derajat pun ?

      2. Kesan yang timbul dari tulisan anda ini adalah bisa ‘menggugah’ berbagai persepsi negatip. antara lain :
      – Akan banyak pihak yang bisa merasa bersalah atau ‘dianggap bertanggung jawab’ yang terlibat dalam pembangunannya.
      – Terpikir pula (bila ingin di ‘benarkan’ arahnya) akan memerlukan biaya yang mungkin cukup besar. Bagaimana menurut anda, cara membiayainya ?

      3. Tulisan anda saya rsa tidak cukup berimbang, sebab anda hanya menyoroti sisi yang menurut anda salah, sedangkan anda sama sekali tidak mencantumkan sisi positip, cara penyelesaian dan jalan keluar yang bijaksana.
      Anda juga tidak memaparkan dalil dalil dan hukum perihal arah masjid yang ada. Anda seakan akan bersikap apriori, bahwa tulisan anda adalah yang paling benar dari sudut pandang anda sendiri tanpa mempertimbangkan konsep islam perihal pembangunan masjid.

      Jangan lupa anda bisa ‘bersinggungan’ dengan tata cara beribadah umat islam. Oleh sebab itu, anda harus benar benar berpikir dengan baik dan mempersiapkan berbagai resiko yang akan muncul akibat tulisan anda ini.

      Terimakasih
      Salam saya.

      Alhamdulillah, saya menemukan pembaca blog saya seorang yang akan memberi ilmu untuk pembaca lainnya. Jazakalloh Pak Baskoro.

      Yth Bapak Baskoro DJ
      di Bumi Alloh

      Berikut jawaban saya, semoga Alloh mengampuni, bila saya khilaf.
      Saya adalah seorang guru IPA Fisika di salah satu Madrasah Aliyah Swasta di kecamatan Kartasura, dengan jumlah jam mengajar sebanyak 12 jam / pekan ditambah 2 jam ekskul / pekan.

      1. Masjid lain juga sudah saya tulis di
      (http://blogcasa.wordpress.com/qiblat/) atau (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/09/09/kiblat-islamic-center-samarinda/) atau
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/08/01/kajian-kiblat-di-dewan-dakwah-jateng/) atau
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/08/11/pelatihan-ruyat-dan-hisab-di-tawangsari/) atau
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/07/05/koreksi-arah-kiblat-kasyful-hikmah/) atau
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/06/15/koreksi-arah-kiblat-baitul-makmur/) dan yang terbaru di
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2009/11/17/meluruskan-kiblat-al-muttaqun-prambanan/).

      2. Sudah, secara Offline saya sudah memberi pelatihan dan koreksi di Jawa Tengah dan Kaltim, secara online saya survei di seluruh Nusantara; juga karena saya member of LP2IF RHI-Indonesia (http://rukyatulhilal.org/) dan ICOP-Yordania (http://icoproject.org/icopmem.html) dan MCW-USA (http://www.moonsighting.com/mcw.html) dan HFI (http://www.fisikanet.lipi.go.id/anggota.cgi?lihatanggota&1182234251) serta HAI (http://astronomy.itb.ac.id/HAI2009/regpart.html).

      Benar, paling ekstrim adalah Masjid Agung Kutoarjo, dan saya pernah ke sana; ralatnya sekitar 48 degree. 2008 lalu sudah dibenarkan shaffnya. Kalu ndak jauh, ya majid agung Solo, atau masjid agung Sukoharjo, dan lainnya…

      Kesalahan yang bisa ditolerir adalah 2 derajat, karena diamater Saudi dari Indonesia tidak kurangdari 222 km. (Maaf kesalahan 9 derajat = 9 x 111 km = 999 km saja….).

      Aturan hukum bila salah jelas ada. yaitu:
      a. Apabila arah kiblat yang persis menghadap ke Baitullah dapat kita ditemukan berdasarkan ijtihad/ilmu pengetahuan,maka kita wajib mempergunakannya selama belum memperoleh cara lain yang lebih akurat
      (Departemen Agama, Pedoman Penentuan Arah Kiblat, Jakarta:Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, 1994/1995, hlm 4-5)
      b. Fuqoha Maliki dan Syafi’i:
      Bila seseorang selesai mengerjakan sholat dan mengetahui bahwa ijtihadnya tentang kiblat keliru, maka ia wajib mengulang sholatnya dengan menghadap ke arah kiblat yang diyakini.
      (Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2000), hlm 947)

      3. Menentukan Arah Kiblat adalah dengan Perhitungan model segitiga Bola. Kesalahan tangensial memang demikian. Dan bila konsisten dengan segitiga bola sudah saya tambahkan.

      Lebih terperangah lagi bila kita baca ini (http://blogcasa.wordpress.com/2009/04/06/200-masjid-di-mekah-tidak-menghadap-kiblat/)

      4. Bila saya kontraktor, maka saya tidak akan menggunakan Kompas Kiblat karena skalanya tidak presisi. Ini yang terjadi di banyak masjid, sampel yg pernah saya datangi adalah (https://pakarfisika.wordpress.com/2008/12/07/josroyo-menuju-kiblat/). Masjid ini dibangun oleh arsitek dgn kompas kiblat, dan setelah kita cek pakai kompas lain nyata melenceng sampai 11-12 degree.
      Metode yang dipakai minimal, menurut saya harus 2 kalau bisa 3 :
      a. Satelit, lewat GE (kalau ada)
      b. Kompas
      c. Roshdul Kiblah (Bayang matahari (paling mudah dan paling presisi)
      Saya sudah praktekkan ini dan kesalahan tidak lebih dari 1 derajat.
      (https://pakarfisika.wordpress.com/2008/07/16/menentukan-arah-kiblat/) di Stasiun Klewer, dan di Gumpang Makamhaji.

      5. a. Semua kita bertanggung jawab. Saya merasa bagian dari UNS, meski saya buykan dosen, bukan karyawan, dan bukan mahasiswa, tapi saya bagian dari ummat Islam. Saya sering bertemu dengan Prof. Fuirqon hidayatulloh, Prof. Adi, drs. Munawir Yusuf, M.Psi, Drs. Ahmad Syamsuri, MM. Bu Lilik, Bu Khosyiah, Pak Eddy Leqowo, dan lain-lain.
      Jadi saya ndak bermaksud lain, kecuali “tawashau…. ” (saling mengingatkan)

      b. Solusi sudah saya sampaikan ke salah satu dosen (maaf saya tidak sebutkan di sini), tapi beliau senior di sana, jauh sebelum ada rehab. Lalu di tulisan saya sampaikan solusi juga; cukup merubah arah shaff dan ini tidak memerlukan biaya sama sekali. Sudah banyak contoh yang melakukan ini. Lihat Masjid Agung Kraton Yogyakarta, Masjid Agung Sukoharko, Masjid Agung Kutoarjo, Masjid Baitul Makmur (belakang Goro) dan lainnya.

      6. Dalil : http://www.dudung.net/images/quran/2/2_143.png
      di ayat ini kalau kita salah kiblat karena tidak tahu, maka semua pahala sholat kita sebelumnya tetap diterima Alloh SWT. “Alloh tidak menyia-nyiakan amal ibadahmu… ”

      Resiko sudah saya pertimbangkan, karena intinya hanya dua hal.
      (1) Arah shaff (sekali lagi SHAFF) biar tetap sesuai bangunan fisik atau (2) dirubah dengan menggeser karpet, misalnya.
      Dan semua persoalan selesai.

      Sisi positif tulisan ini, agar Ilmu Falak benar2 kita hargai, dan tidak dikebiri seperti sekarang ini. Dan saya ingin, UNS menjadi pioner di Solo Raya…..

      salam ukhuwwah kembali Pak Baskoro…. 🙂

      Suka

  9. Ya.. kalau memang arah kiblat salah yang harus dibenarkan dan harus mau.. tapi kenyataan sekarang ini banyak orang yang malu atas suatu kesalahan dan secara sportif mengakui keslahannya..jadi kalau arah kiblat masjid Uns error dan ustad ar sudah memberitahu tapi meraka tidak mau merubah yaitu mereka kena penyakit tidak sprotif ……hehehe
    Padahal mudah lho, tinggal dirubah shoftnya disesuaikan dengan arah kiblat yang benar tanpa harus merubah bentuk bangunan..gampang to ….. wasalam

    Suka

  10. Konsep Ijtihad dalam Menentukan Arah Kiblat

    Ke empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) telah bersepakat bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sahnya shalat.

    Pada mazhab Syafi’i ditambahkan tiga kaidah, yaitu:
    1. Menghadap Kiblat Yakin (Kiblat Yakin) Seseorang yang berada di dalam Masjidil Haram dan melihat langsung Ka’bah, wajib menghadapkan dirinya ke Kiblat.
    2. Menghadap kiblat Perkiraan (Kiblat Dzan) Seseorang yang berada jauh dari Ka’bah yaitu berada di luar Masjidil Haram atau di sekitar tanah suci Mekkah sehingga tidak dapat melihat bangunan Ka’bah, mereka wajib menghadap ke arah Masjidil Haram sebagai maksud menghadap ke arah Kiblat secara dzan atau perkiraan.
    3. Menghadap kiblat Ijtihad (Kiblat Ijtihad) Ijtihad arah kiblat digunakan seseorang yang berada di luar tanah suci Makkah atau bahkan di luar negara Arab Saudi. Bagi yang tidak tahu arah dan ia tidak dapat mengira Kiblat Dzannya maka ia boleh menghadap kemanapun yang ia yakini sebagai Arah Kiblat.

    Pesatnya perkembangan teknologi baik dengan menggunakan GPS, Google earth dsb, maka posisi kiblat bisa ditentukan secara tepat dan presisi.
    sehingga dua kaidah diatas (kiblat dzan dan kiblat ijtihad), akan hilang dengan sendirinya.
    oleh karena itu, sudah selayaknya, setiap membangun masjid dan mushola baru, dengan bantuan teknologi
    mesti memperhatitan arah kiblat tsb secara tepat.

    bagaimana kalau mesjid/musholanya sudah dibangun?

    menurut saya, jika tidak memungkinkan untuk di renovasi,
    maka posisi sholat orang di dalamnya saja yang mesti di arahkan menghadap kiblat.
    kalau perlu dibikin arah panah penunjuk lokasi kiblat.

    wallahu a’lam.

    Terima kasih Pak Hari, semoga menambah wawasan bagi kita yang belum mengetahui….salam

    Suka

  11. jangan pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran pak AR………….saya dukung………..
    syarat-syarat shalat adalah menghadap kiblat.
    ” jika engkau hendak mengerjakan sholat, sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah”
    Juga didasarkan pada hadits Ibnu Umar ra tentang penduduk Quba’ pada saat memindahkan arah kiblat mereka, dia bercerita” ketika orang – orang quba’ tengah shalat shubuh, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka seraya berkata” sesungguhnya telah turun tadi malam ayat al-Qur’an kepada Rasulullah saw beliau diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka’bah. Merekapun segera menghadap ke arah Ka’bah, yang sebelumnya wajah mereka mengarah ke Syam ( Palestina? baitul Maqdis), lalu mereka mengembalikan wajah mereka k arah Ka’bah”.
    Ada beberapa hal yang menjadikan syarat menghadap kiblat akan gugur:
    1. jika seseorang telah seluruh tenaganya untuk mencari arah kiblat, lalu dia mengerjakan shalat ke arah yang diyakininya, tetapi ternyata arah kiblatnya itu salah.
    ini didasrakan pada Firman Allah” dan bertaqwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian….( Qs At-taghabun: 16 ) dan juga Qs albaqarah : 115.
    2. orang yang tidak mampu, misalnya buta, orang yang sakit dan tidak mampu mengarahkan wajahnya ke kiblat.
    pada saat benar-benar dalam situasi ketakutan akan nyawa dan harta benda. ( QS al-baqarah: 239)
    3. Shalat sunnah di atas kendaraan.

    Terus….kita semua berada dalam kondisi yang mana yang mampu menggugugurkan salah satu syarat Sholat ( menghadap kiblat) ?????????

    Terimakasih Ustadz AR atas informasi dan koreksinya
    Mudah-mudahan segera ditindak lanjuti
    jazzakallah khoir

    sama2 pak Dosen, meski dosen muda, tapi responnya lebih cepat lebih baik….salam

    Suka

  12. Saya kira seperti yang dikatakan Ustd AR di atas cukup simpel kok
    Biarkan bangunan yang ada…..cukup kita rubah arah shaff aja
    jadi ga usah diperdebatkan.

    Suka

  13. Ass…

    saya juga setuju dengan tanggapan diatas….memang kita seharusnya terus mengawasi hal tersebut (arah kiblat) karena bila arah kiblat salah, dapat menyebabkan shalat kita pun tidak sah…

    yah skrg solusinya kita rubah aja arah shaffnya….:D

    oh iya kalo bisa hasil pengukuran arah kiblat yg di masjid ITS…dikirimkan ke email…buat saya sampaikan juga pak..:)

    Suka

  14. assalaamu’alaikum
    perintah Allah, agar kita MENDIRIKAN sholat, tidak sekedar meanjalankannya… oleh karenanya saya melihat tulisan ini memiliki beberapa makna berikut ;
    1. sebuah upaya untuk mengingatkan saudara kita dari kekeliruan.
    2. upaya untuk “mendirikan” sholat, sebab jika sekedar dijalan saja, maka hal2 semacam ini menjadi tidak perlu dilakukan.
    3. kita belum tentu secara pasti pada posisi kebenaran, tetapi uapaya2 semacam ini akan mendekatkan kita pada kebenaran… sebab kebenaran harus terus dicari.

    Suka

  15. Saya senang dengan Pak AR, saya adalah salah satu mantan guru Geografi, gandrung ilmu falaq, juga membantu panitia pembangunan masjid untuk urusan arah kiblat, saya membuat jadual waktu sholat untuk daerah – daerah di pelosok Sumatera Selatan, walau saya bukan ustadz, bukan hakim agama, bukan peneliti astronomi, tetapi saya terpanggil dengan ilmu falaq, salah satu media dakwah mengajarkan yang lurus, niat yang lurus diiringi arah yang lurus dan prinsip yang lurus

    Tolong sabar saja terhadap negatif thinking, tapi saya memahami maksudnya baik, yaitu menghindari polemik. Untuk semua, kita budayakan tukar fikiran, yaitu mencari solusi terhadap suatu masalah demi kemashalatan umat dengan cara yang santun dan berbudaya dan manusiawi, hindarkan debat, yaitu pertarungan argumentasi yang menampilkan ego superiorisme, seperti cicak di dinding dan buaya darat, nau’dzubillah min dzalik. Mohon maaf, tulisan ini bukan untuk menggurui (Hermansuryanto)

    Suka

  16. Dalam Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, hal. 551 (Darul Aqidah), seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah pernah diajukan suatu pertanyaan,
    “Jika telah jelas bahwa seorang yang shalat telah menyimpang (bergeser) dari (arah) qiblat, apakah dia harus mengulangi shalat?”

    Beliau rahimahullah menjawab,

    “Bergeser sedikit dari arah qiblat tidaklah mengapa kecuali jika seseorang berada di Masjidil Haram. Masjidil Haram adalah qiblat bagi orang yang shalat di sana yaitu langsung menghadap ke Ka’bah. Oleh karena itu, para ulama mengatakan: ‘Barangsiapa memungkinkan menyaksikan Ka’bah, maka wajib baginya untuk menghadap langsung ke Ka’bah. Dan apabila seseorang yang hendak shalat di Masjidil Haram hanya menghadap ke arah Ka’bah (misalnya ka’bah terletak di arah barat dia, lalu dia hanya menghadap ke arah barat, pen) dan tidak menghadap persis ke Ka’bah langsung maka dia wajib mengulangi shalatnya karena shalat yang dia lakukan tidak sah. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla,
    فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah [2] : 144)
    Namun, apabila seseorang berada jauh dari Ka’bah dan tidak mungkin dia melihat (menyaksikan) Ka’bah secara langsung walaupun dia masih berada di kota Mekkah, maka wajib baginya untuk menghadap ke arah Ka’bah dan tidak mengapa kalau bergeser sedikit. Hal ini dapat dilihat pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk Madinah,
    مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

    “Arah antara timur dan barat adalah qiblat.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan hadits ini shohih. Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul Mashobih bahwa hadits ini shohih)

    Dikatakan demikian karena penduduk Madinah menghadap kiblat ke arah selatan. Maka setiap arah yang antara Barat dan Timur maka bagi mereka adalah kiblatnya. Begitu juga dikatakan kepada orang yang shalat menghadap ke Barat (seperti yang berada di Indonesia, pen) bahwa arah yang berada antara selatan dan utara adalah kiblat’.

    Suka

  17. masjid hidayah entrop-jayapura juga sudah dinyatakan salah kiblat oleh departemen agama jayapura plus dah di ukur oleh org BMG dan memang salah kiblatnya,namun pengurusx(terutama yg tua) ngotot tidak merubah posisi arah kiblat…kami selaku generasi yg lebih muda selalu kalah dalam hal mengingatkan hal yg syar i seperti itu..

    tetap sabar, usaha kita sudah dilihat dan dinilai oleh-Nya…salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: