Guruku Pahlawanku

Guruku...

Guruku...

Semalam saya menyaksikan acara favorit di Metro TV, yakni Kick Andy. Tema malam ini (Jum’at, 6/2/2009) jam 21:30 WIB adalah Guruku Pahlawanku, sebuah tema yang sangat menyentuh hati kita semua. Bukankan kita bisa jadi seperti ini adalah karena peran besar sang Guru…?

Tampil dalam acara tersebut sesuai urutan yang saya lihat masing-masing adalah:

  1. Pak Guru Ridwan Dalimunthe dan Bu Guru Nurlela.
  2. Pak Guru Rudi MS
  3. Pak Guru Jufri Umar, dan
  4. Pak Guru Ning In Han

1. Pak Guru Ridwan Dalimunthe dan Bu Guru Nurlela.

Bu Guru Lela & Pak Guru Ridwan

Bu Guru Lela & Pak Guru Ridwan

Pak Guru Ridwan  Dalimunthe  dan  Bu Guru Nurlela.  Pasangan suami istri ini, menjadi  guru  sejak tahun 1987  di sebuah  sekolah  swadaya  yang  dibangun warga  Dusun Aek Pastak, Barumun  Tengah,  Tapanuli. Sebuah sekolah yang  tidak  lebih  baik dari  kisah  Laskar Pelangi  ini   awalnya  hanya  memiliki 10  murid.  Kini sekolah itu memiliki  60 murid.

Tak banyak guru  yang bertahan  untuk mengajar di  sekolah yang   berdiri sejak tahun 1968  ini,  alasan utamanya  adalah karena  honor yang sangat minim, malah kadang  hanya  dibayar sejumlah kaleng   beras  saja. “Saya  mau mengajar  karena  ini desa saya, kalau tidak  kita  siapa lagi,” kata  Pak Guru Ridwan  yang lulusan SD  dan sehari-hari  bekerja sebagai petani  ini.

Sehari-hari Pak Guru Ridwan dan Bu Guru Nurlela  harus  mengajar masing-masig tiga kelas. “Ruangan sekolah kami  hanya  satu ruangan, jadi kami sekat jadi dua ruang kelas.  Sebelah untuk  kelas  I,II,III  dan sebelah lagi untuk kelas  IV,V,dan  VI,”  ujar  Nurlela.

2. Pak Guru Rudi MS

Pak Guru Rudi

Pak Guru Rudi

Pada  tahun  1982,  saat  lulusan SMEA ini sedang  jalan-jalan,  ia melihat  anak-anak  pemetik teh  tidak bersekolah karena  ketiadaan guru.  Serta merta ia menawarkan diri  untuk menjadi guru  mereka.  Maka  sejak  saat  itu mulailah  Pak Guru Rudi  dan  anak-anak pemetik  teh    melakukan kegiatan belajar  mengajar dengan  beralas tikar di los penimbangan  teh.   “Saya  Cuma  berpikir, masa di jaman  begini  masih  ada anak yang  gak  bisa  sekolah,  padahal tempatnya kan gak jauh  dari ibu kota,”   kata  Pak Guru yang  memiliki kelumpuhan kaki  kanannya ini.

Untuk membeli  kapur tulis, Pak Guru Rudi pun  harus merelakan uang penghasilannya sebagai tukang  parkir  dan penjaga  toilet  di  wilayah  Puncak.  Berkat   bantuan seorang dermawan, sekolah  perintis  itu pun  kini sudah memiliki  sebuah bangunan dan  sekitar 160 murid. Meski  begitu,  tak  ada yang berubah  dari kehidupan  Pak Guru Rudi,  ia  masih  menjadi  tukang parkir  dan  tetap  sebagai  guru honorer  bergaji rendah.  Urusan honor  rendah sepertinya bukan  halangan  bagi Pak Guru Rudi.

3. Pak Guru Jufri Umar:

Pak Guru Jufri Umar

Pak Guru Jufri Umar

Seorang  jebolan kelas  5  SD di  Jember, Jawa Timur,   merintis  sebuah  sekolah dasar. Kini sekolah itu  sudah  memiliki  450  murid  yang  tak harus  membayar  uang sekolah alias gratis!

Adalah  Pak Guru Jufri  Umar yang tidak bisa menyelesaikan sekolah  dasarnya  dengan  dua alasan. Pertama,  karena  ia harus  membantu  orang tuanya   mencari nafkah. Kedua,  karena  di  sekolahnya  tak  ada lagi murid  yang mau belajar,  sehingga sekolah itu  terpaksa ditutup.  “Karena  saya pernah merasakan begitu, saya  selalu  berdoa  bahwa kalau  suatu  hari  bila  saya  kaya,  saya akan   memberikan  sekolah  gratis  pada seluruh warga desa.  Eh, belum kaya  ternyata  sudah  dikabulkan,” kata Jufri   yang  tak pernah memiliki  sepatu  ini.

Tentu saja ini bukan cerita  sulap,  karena  Jufri  memiliki perjuangan  yang  berat  untuk membangun  sekolah gratis  itu selama puluhan tahun. Dia bahkan rela  mengorbankan uang  pendapatan  pribadi dari  pekerjaan serabutannya  untuk  bisa   membesarkan sekolah itu.

Keterbatasan  bagi  Jufri  bukanlah penghambat  harapannya  untuk melihat  generasi bangsa  memperoleh hak pendidikan. Begitu  pula  yang  dilakukan  oleh  Pak Guru Rudi  MS, seorang  pria  asal Cikoneng, Cisarua, Bogor.

4. Pak Guru Ning In Han

Pak Guru In Han

Pak Guru In Han

Sementara itu, dari Jakarta  Kick  Andy menampilkan seorang guru yang  memiliki keterbatasan  dalam penglihatan alias tuna netra.   Pak Guru Ning  Ing Han yang  buta  sejak   usia  41 tahun  adalah  seorang  lulusan ITB  yang kini  menjadi guru les  fisika  dan matematika. Pasti bukanlah  hal mudah jika seorang tuna netra  harus mengajarkan  berbagai  rumus.  “Saya bisa menulis  di papan  tulis seperti layaknya guru, tapi setelahnya   saya  tak bisa lihat apa  yang saya tulis,”  ujar  Pak Guru Ning  In Han saat  tampil di Kick  Andy.

Ning  memang  memiliki cara  tersendiri  untuk  mengajar  dan membuat  muridnya  sangat  kagum  pada keahliah fisika  dan  matematikanya.  Sebuah perjuangan  tersendiri  bagi  seorang tuna netra  yang  masih mau  berbagi ilmu.

Menyentuh Hati

Inilah sebuah episode khusus  tentang  kepedulian  sejumlah  orang terpilih di dunia pendidikan,  serta  perjuangan  mereka  dalam melawan hambatan  dan keterbatasan.   Sebuah kisah  penuh inspirasi,   yang akan mengudang   rasa terimakasih   pada kemauan  dan pengorbanannya sebagai  guru.

Ucapan Terima Kasih: ()

Terima Kasih untukmu Guruku...

Terima Kasih untukmu Guruku...

Acara diakhiri dengan pemberian buku kepada semua nara sumber oleh Penerbit Buku Tulis Kiky, dan pemberian sumbangan pendidikan masing-masing senilai Rp. 10.000.000,- dari Toko Swalayan Alfamart.

Show inipun ditutup dengan sebuah lantunan lagu berikut ini:

Terimakasih  Guruku
(Cipt.  Sri Widodo)
Terimakasih kuucapkan  pada  guruku  yang luhur
Ilmu  yang berguna, selalu dilimpahkan
Untuk  bekalku nanti..
Setiap hari ku  dibimbingnya  agar  tumbuhlah   bakatku
Kan kuingat selalu nasehat  guruku
Trimakasih ku  ucapkan..

terima kasih saya ke Pak Andy F Noya

Iklan

15 Tanggapan

  1. salut pada Pak Andy, semoga jerih payahnya dan para guru mendapat perhatian dari para penguasa…

    salam

    Suka

  2. Episode yang sangat mengispirasi!!!

    Suka

  3. Atas jasa-jasanya… bahkan kita kadang atau sering melupakannya, dan setiap sukses yang kita capai kita anggap nggak ada kaitanya dengan beliau-beliau ini.

    Maafkan aku pak Guru, bu Guru. Maafkan aku karena kadang melupakan jasamu!

    Suka

  4. nice posting … sayang Sy terlalu lelah Jumat itu shg tak bisa simak … trm ksh telah berkunjung dan koment di blog Sy

    Suka

  5. Pak Ar kok kita bisa sefikiran ya!
    mang gitu kali kalo sesama guru he……..

    Suka

  6. subhanallah… smoga jadi inspirasi bagi yg lain…amienn

    Suka

  7. Sungguh mulia mereka semua !
    Bang Andy juga ! Hanya Surga balasan yang pantas untuk kalian semua !!!

    Suka

  8. Subhanalllah subhanallah..

    Saya hingga meneteskan air mata melihat liputan acara ini, sayang saya memang tidak melihatnya langsung di TV..

    Dari awal saya memang sangat mengargai terutama guru SD ini, karena beliau ini yang rela dengan sepenuh hati mengajrkan ilmunya dan berusaha untuk membuat pintar para muridnya..

    beda sekali dengan sekolah sekolah diperkotaan yang pernah saya jalani, mereka hanya mementingkan uang uang dan uang(bukan berkmaksud menjelekkan namun, hanya berupa himbauan semoga guruguru yang lain dapat menjadi pahlawan bagi muridnya baik TK, SD< SMP< SMA maupun di perguruan tinggi..

    Insyaallah saya juga memiliki impian yang sama, mendirikan sekolah gratis dengan biaya sendiri..Amiinnn…

    Suka

  9. ada yg punya lagunya ini ga…. Terimakasih Guruku (Cipt. Sri Widodo)

    Suka

  10. Assalamualikum Wr Wb.
    Trm pak Ar dah mampir ke Blog sy…
    Mugkin kita perlu mencontoh keteladan dan Keikhlasan mereka dalam menjalani profesi guru ya pak
    Wassalam

    Suka

  11. Alhamdulillah,ternyata masih ada bapak dan ibu guru yg b
    erhati mulia, itu baru benar2 guru. Air mata saya tak henti meleleh menyaksikan tayangan itu.,sangat membanggakan. di zaman spt ini adanya. Merekalah orang2 yg benar2 kaya, saya berdoa semoga Tuhan YME senantiasa memberikan kebahagiaan kepada mereka, amin ya ALLAH.

    Suka

  12. saya juga menonton

    tergugah hati saya untuk membantu orang lain..

    insya Allah saya menjadi orang yang dapat membahagiakan orang lain..

    amien-niin ya ustadz

    doain yya

    Suka

  13. Pak AR….semoga kita dapat berbagi seperti mereka…pabila ada dari rekan guru atau murid pak ar..yg ingin bertegur sapa…mungkin bidang saya masih jarang….(maksudnya masih belum laku…hiks…) news forecasting.. bisa email-emailan…ke saya..

    Satu cerita…ketika saya pernah ditanya oleh kawan…”maaf Om…harta Om…apa…lalu saya perlihatkan buku…..kawan itu terdiam…..Kemudian ia lanjut bertanya …terus guru lu sapa? saya langsung ke halaman…saya ambil sebuah batu…tapi apa yang terjadi…Kawan saya tidak hanya tertawa…tapi sedih….semoga ini dapat jadi bahan bagi kita yang pernah, sedang dan akan selalu berbagi melalui dunia pendidikan…Amien

    Om…link Om ana letakkan di Blog of Gurus…Syukran

    Suka

  14. Pertengahan Januari 2009 lalu, saya menghadiri reuni besar SMP 30 semua angkatan. Di adakan di sekolah tersebut.
    Ketika itu sebagian ingatan saya saat sekolah terkumpul di sana. Saya sedih sekaligus bahagia. Bertemu teman lama dan juga para guru.
    Melihat para guru yang telah beranjak tua seolah-olah melihat orangtua sendiri. Sungguh, saya bersyukur dapat bertemu dengan guru-guruku.

    Suka

  15. sama pak guru ini juga acara favorit dhie 🙂
    dhie juga sempet lihat siaran ulangnya
    bener2 HEBAT .. hanya itu yang bisa dhie katakan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: