Orientasi Hisab dan Rukyah di Solo

Orientasi Hisab - Rukyah

Orientasi Hisab - Rukyah

Bersyukur, saya bisa mengikuti sebuah acara ilmiah-religi. Orientasi Hisab dan Rukyah Pondok Pesantren se-eks karesidenan Surakarta yang diselenggarakan di PP Ta’mirul Islam Tegalsari Surakarta, 15-17 Nopember 2009. Acara ini terlaksana berkat kerjasama PP Ta’mirul Islam dengan Fak Syari’ah IAIN Wali Songo Semarang, jurusan Ilmu Falak.

Selama tiga hari tiga malam, semua peserta yang berjumlah sekitar 65 orang mengikuti penjelasan dari para tutor Falak kelas Nasional. Sebut saja H. Muhyidin Khozin-penyusun buku “Ilmu Falak Teori dan Praktek“; H. Ahmad Izzudin, M.Ag. dan KH. Slamet Hambali keduanya anggota BHR dan dosen Falak IAIN WaliSongo Semarang, M. Agus Yusrun Nafi’, S.Ag., M.Si, Direktur Al-Kawakib Kudus-penerus almarhum K. Turaikhan– penyusun kitab Falak “Sullamun Nayyirain“; Abdul Basith, M.Ag, Praktisi Falak Salatiga dan tak ketinggalan Direktur Urais Depag RI, H. Muchtar Ilyas, M.A.

Acara berlangsung di Gedung Salam Rahma PP Ta’mirul Islam Tegalsari. Acara dibuka langsung oleh Wali kota Solo, yang diwakili oleh Sekda Pemkot Surakarta H, karena pak Jokowi baru sakit. Sambutan oleh Kandepag Surakarta, dan tuan rumah pimpinan PP Ta’mirul Islam yang diwakili Ustadz KH. M.Halim.

Selama tiga hari, keempat materi utama Falak al hamdulillah bisa diselesaikan sesuai target. Keempat materi tersebut adalah, menentukan:

  1. Arah Kiblat
  2. Jadwal Waktu Sholat
  3. Awal bulan hijriyah, dan
  4. Gerhana.

Materi terakhir, penentuan Gerhana, kurang padat karena konsentrasi tercurah pada materi ke 3 penentuan awal bulan dan ke 2 penentuan arah kiblat, serta ke 1 penentuan arah kiblat.

Peserta Orientasi Hisab - Rukyah

Peserta Orientasi Hisab - Rukyah

Malam pembukaan acara dihiasi suara genting yang terbuat bukan dari tanah atau semen tetapi seng, karena terguyur hujan yang cukup lebat.

Sessi pertama,malam itu setelah dibuka secara resmi; dissampaikan oleh Pak Izzuddin. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan definisi hisab dan Rukyah/Rukyat secara harfiyah dan istilah. Kemudian, masuk ke persoalan yang sering muncul di masyarakat kita, yakni perbedaan penentuan awal bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzul Hijjah.

Pada prinsipnya, perbedaan di Indonesia meski bisa terjadi lebaran selama 5 hari seperti kasus tahun ini 1429 H; cukup dua saja, yakni Muhammadiyah dan NU, karena dua ormasini paling besar. Kata Nur Cholis Madjid (alm), negeri kita ini ibarat burung Garuda yang memiliki 2 sayap, sayap kanan adalah Muhammadiyah dan sayap kiri adalah NU. Kalau salah satu sayap hilang atau dihilangkan, maka burung tidak bisa terbang. Biar bisa terbang, maka harus ada dua sayapnya.

Suatu hari Pak Wapres, Yusuf Kalla pernah ditanya istri beliau,”Kapan saya memasak ketupat..?”

Pak Wapres bingung menjawabnya. Akhirnya beliau memberikan dana ke Depag, agar diberikan kepada ke – 2 ormas ini (Muhammadiyah dan NU) untuk saling bertukar pikiran seputar penentuan awal bulan dalam Islam khususnya Ramadhan, Syawwal dan Dzul Hijjah). Bahkan Pak Yusuf Kalla mengusulkan, agar Muhammadiyah menaikkan kriterianya, dari Wujudul Hilal ke tinggi Hilal 1deg, dan NU menurunkan kriterianya, dari Rukyatul hilal ke 1 deg juga-dan bertemu di titik pertangahan.

Materi yang juga seru adalah penentuan arah Kiblat.

Di Kudus, ada sebuah masjid yang arah kiblatnya mengalami kesalahan 72 deg setelah dilakukan pengukuran ulang oleh ahli Falak. Di Sukoharjo, masjid Agungnya juga melenceng 5deg dari arah Barat utama, jadi sekitar 29deg dari Kiblat sebenarnya.

Materi Hisab dan Rukyah, semuanya disampaikan dengan metode Hisab, dan menggunakan Kalkulator. Kemudian praktek menggunakan GPS danTheodolit dipusatkan di Masjid Tegalsari Laweyan Surakarta, untuk melakukan pengukuran arah Kiblat. Masjid ini arah kiblatnya sangat bagus, karena hanya mengalami kesalahan kurang dari 0.5 deg, versi QiblaLocator (dot) Kom.

Praktek menngunakan Theodolit untuk menentukan arah kiblat

Praktek menngunakan Theodolit untuk menentukan arah kiblat

Perihal Rukyah, yang sangat menarik adalah apa yang disampaikan Bapak Direktur Urais Depag RI. beliau menjelaskan bahwa, Rosulullah SAW, para sahabat; ternyata sangat ahli dalam ilmu perbintangan atau sebut saja astronomi. Jadi mereka adalah pakar Falak di zamannya.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya dikatakan sangat piawai dlam melihat hilal, dan tidakseperti kita di zaman ini, yang melihat hilal saja belum pernah tetapi menyalahkan yang lain dan mengaku dirinya paling benar.

Sangat ironis, bila Rasulullah SAW dan para sahabat tidak ahli dalam melakukan rukyah, sementar mereka hidup di dunia gurun sahara. Di kawasan padang pasir yang sangat luas, mampu melakukan perjalan pulang-pergi tanpa tersesat. Hal mustahil terjadi kalau mereka tidak menguasai ilmu perbintangan, sebab bintang2 dilangit itulah peta dan kompas mereka. Sepertipara pelaut di luasnya lautan yang tanpa tepi, sangat mustahil bisa menuju ke tepi daratan kalau mereka tidak menguasai ilmu perbintangan.

Peserta dan Pak Muhyidin (duduk)

Sebagian peserta dan Pak Muhyidin (duduk)

Materi ditutup dengan penyampaian Hisab waktu Sholat oleh pak Abdul Basith dari Pulutan Salatiga, lalu post test dan pembagian sertifikat. Pulang ke pesantren masing-masing dan kembali berdakwah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: