WKI: Ide Penyatuan Zona Waktu Indonesia

Indonesia 1 zona

Indonesia 1 zona

Kalau saya di Jakarta jam 7 pagi, maka Anda yang di Bali sudah jam 8 pagi, sementara Rekan kita di Ambon sudah jam 9 pagi. Pembagian inipun sangat besar rentangnya, karena setiap bergeser  1 derajat = selisih waktu adalah 4 menit. Bujur Indonesia sangat panjang, antara 95 BT – 140 BT. Mungkinkah Indonesia yang dulu pernah ada 6 zona waktu, kini 3 zona waktu, lalu nanti akan menjadi 1 zona waktu…? WIB, atau WITA, atau WIT…? Biar adil WITA.

Selama ini kita hidup di Indonesia dengan tiga pembagian wilayah waktu – Waktu Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur! Kita tidak menyadari…karena kita berada di dalamnya. “Take it for Granted”!
Mungkin saatnya kita mengkaji Dampak Pembagian Wilayah Waktu tersebut.

Apakah cara pembagian waktu sekarang efektif dalam peta globalisasi ekonomi dewasa ini? Atau perlu ditinjau alternatif lain misalnya 2 pembagian waktu saja…atau bahkan hanya satu?

Sebuah wacana menarik yang perlu dibahas terbuka. Sebuah topik yang belum pernah disentuh dalam kehidupan kita sehari-hari!

Sumatera dan Jawa seharusnya dimajukan 1 jam, dan jika ini terjadi akan meningkatkan produktifitas nasional:

  1. Money market di Indonesia buka dan tutup bersamaan dengan pasar uang internasional, dalam hal ini Singapore, Malaysia dll, sehingga rupiah lebih dapat dikontrol. Sehingga Rupiah diharapkan dapat lebih stabil.
  2. Demikian juga Capital Market.
  3. Menurut PLN, akan mengurangi penggunaan listrik secara nasional.
  4. Menurut pakar pariwisata, akan meningkatkan jumlah wisatawan manca
    negara.
  5. Meningkatkan produktifitas nasional, dll

Kalau mau lihat waktu saat ini, fasilitas Online antara lain:

http://ind.timegenie.com/

Silahkan klik dan pilih negara yang kita mau. Asal tahu saja bahwa Indonesia di sana tidak ada, tetapi yang ada negara NUSANTARA… ha ha ha

Time Genie

Time Genie

Kementerian Negara Riset dan Teknologi pada 2006 pernah mengkaji pemberlakuan waktu kesatuan Indonesia atau dikenal sebagai WKI, yaitu satu acuan waktu yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Jika WKI diberlakukan, Indonesia tidak lagi mengenal perbedaan waktu antara wilayah di bagian timur, tengah, dan barat Indonesia.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Budaya Tradisionil, Deputi Bidang Dinamika Masyarakat, Zulyani Hidayah, sebagai fasilitator diskusi “Waktu Kesatuan Indonesia” di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Kamis (27 April 2006).

Pemberlakuan WKI diharapkan akan menyinkronkan kegiatan ekonomi di pusat pertumbuhan ekonomi dan keuangan domestik, seperti Medan, Batam, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Manado, Ambon, dan Jayapura. Jika WKI diberlakukan, daerah yang selama ini tercakup dalam wilayah WIB dan WIT seluruhnya akan mengacu pada waktu di WITA.

Pemberlakuan WKI, antara lain diyakini akan membuat sinergi dunia perbankan (waktu kliring), penghematan penggunaan listrik, menghemat biaya komunikasi telepon, dan menghapuskan konsep wilayah Indonesia timur dan wilayah Indonesia barat.

Kesimpulan itu didasari asumsi bahwa pemberlakuan WKI akan membuat seluruh aktivitas dunia bisnis di Indonesia dilakukan pada saat yang bersamaan, misalnya pukul 09.00-16.00 WITA.

Kami kini tengah menjaring opini, bagaimana tanggapan masyarakat jika pembagian di tiga wilayah waktu itu disatukan. Ini baru pada tingkat riset awal, untuk mengkaji untung-ruginya pemberlakuan WKI,” kata Zulyani.

Kita tengok negara tetangga, Malaysia dan Singapura yang ternyata memakai zona waktu GMT plus 8. Dr Sonny Nursutan Hotama, peneliti di Universitas Airlangga, mengatakan alasan mereka “Alasan politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan lebih menjadi bahan pertimbangan kebijakan penetapan wilayah waktu di negara-negara tersebut dibandingkan alasan ilmiah dan rasa nyaman alamiah lainnya.”

Ketika krisis listrik terjadi, biasanya yang lalu hinggap di kepala untuk penghematan adalah program pemadaman listrik atau pengurangan aktivitas yang melibatkan transportasi. Namun, di lingkungan masyarakat ada pula yang coba mendekati masalah ini dari sisi yang lebih fundamental, yakni dengan mengubah sistem waktu.

Sebelumnya, tanggal 8 Juni 2005 di Jakarta, menindaklanjuti kerisauan Kepala Divisi Keuangan dan Niaga PT PLN Nandy Arsjad, diselenggarakan seminar nasional bertema ”Dampak Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia terhadap Pola Konsumsi Energi dan Kegiatan Perekonomian Indonesia”.

Ide pokok yang mendasari olah pikir ini adalah adanya peluang untuk mengurangi pemakaian energi listrik pada saat beban puncak pada sore hingga malam hari bila pelanggan lebih cepat berhenti beraktivitas dan pergi tidur. Agar lebih cepat tidur malam, mereka diharapkan bangun lebih dini dan berangkat beraktivitas pada pagi hari.

Untuk tujuan di atas, yang dapat diusahakan adalah dengan menggeser ketentuan waktu yang berlaku saat ini di Indonesia lebih cepat ke muka. Jadi, ini memang tujuan utamanya, waktu Indonesia bagian barat (WIB) berubah ikut wilayah waktu Indonesia bagian tengah (Wita). Untuk tujuan lebih luas, WIT pun sekalian dimasukkan dalam Wita.

Meski kemudian berbagai kalangan ikut menanggapi wacana ini. Rupanya perhatian serius diberikan oleh peneliti di Lembaga Penelitian Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Uraian dan argumen salah satu peneliti ini, yakni Koordinator Tim Kajian Zona Waktu LPPM Unair Sonny Nursutan Hotama, memperlihatkan bahwa waktu tidak semata ditetapkan karena alasan keilmuan geografis, tetapi juga alasan politik dan ekonomi.

Sengaja menyimpang

Waktu universal atau waktu Greenwich (Greenwich Mean Time/GMT) diperkenalkan tahun 1675 dan lebih ditujukan untuk kepentingan turis. Namun kemudian, ia mendapatkan momentum setelah Sir Stanford Fleming (1827-1915), yang asal Kanada, melakukan pembagian zona waktu berdasarkan alasan ilmiah dan fakta astronomis bahwa Bumi berputar pada sumbunya dan menuntaskan satu putaran (rotasi) penuh dalam tempo 24 jam. Dengan itu pula, Fleming membagi satu putaran penuh 360 derajat dalam 24 zona waktu, masing-masing 15 derajat. Jadi, setiap 15 derajat ada perbedaan waktu satu jam.

Ia lalu mengambil Greenwich sebagai bujur 0 derajat sehingga belahan dunia sebelah barat punya zona waktu GMT minus 1 sampai minus 12, sedangkan belahan timur punya zona waktu GMT plus 1 sampai plus 12.

Seperti dituliskan Sonny Nursutan, aturan Fleming itu mencoba mempertemukan antara waktu dan kondisi cuaca secara alamiah dan wajar untuk berbagai wilayah geografis dunia. Misalnya saja, Rusia dengan rentang wilayah 165 derajat garis bujur akan punya 11 zona waktu dan AS sembilan zona waktu. Aturan ini bermanfaat untuk berbagai keperluan, seperti pariwisata, pelayaran, dan kereta api lintas nasional.

Hanya saja, dalam perkembangannya ternyata tidak semua negara mau ikut dengan aturan Fleming, misalnya saja China. Negara ini punya lebih dari 60 derajat garis bujur, tetapi sejak tahun 1949 menetapkan satu zona waktu tunggal (GMT plus 8) untuk seluruh wilayahnya. Korea Selatan, yang seharusnya berada di zona GMT plus 8, saat ini berada di GMT plus 9. Di Asia Tenggara, Malaysia GMT plus 7 dan GMT plus 8 serta Singapura GMT plus 7, tetapi keduanya memakai GMT plus 8.

Tentu negara-negara tersebut punya alasan masing-masing ketika memilih tidak ikut aturan Fleming. Dulu, semasa pendudukan Jepang di Indonesia dan Korea, demi efektivitas operasi militer dan juga dalam upaya menjepangkan jajahannya, waktu wilayah jajahan ini pun diubah dan disamakan dengan waktu Tokyo, menjadi GMT plus 9. Seiring dengan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia, Presiden RI menetapkan wilayah waktu dibagi menjadi tiga zona. Singapura menetapkan waktunya GMT plus 8 untuk menyamakan kegiatan pasar uang dan saham dengan pasar Hongkong.

Daylight Saving Time

Setelah aturan Fleming, di banyak negara empat musim juga dilancarkan program penghematan dengan memanfaatkan sinar surya semaksimal mungkin. Program yang dikenal dengan nama Daylight Saving Time (DST) ini yang sudah dimulai sejak akhir Perang Dunia I terbukti berdampak positif bagi penghematan energi, khususnya listrik. Program DST mengubah penunjukan waktu satu jam lebih awal pada saat musim panas. Ini membuat semua aktivitas dimulai satu jam lebih awal atau matahari lalu dirasakan ”terbenam lebih lambat” selama satu jam.

Dengan digantikan oleh sinar matahari, konsumsi listrik pun turun. Di Selandia Baru, misalnya, penurunan mencapai 3,5 persen dan beban puncak listrik turun 5 persen. Pemakaian fasilitas umum, pusat bisnis, dan pariwisata pun ikut merasakan manfaat program DST.

Waktu Indonesia

Setelah diterapkan enam wilayah waktu setelah kemerdekaan, lalu disederhanakan menjadi tiga setelah Irian kembali, dan disempurnakan tahun 1987 (di mana Bali masuk Wita serta Kalimantan Barat dan Tengah masuk WIB), soal waktu ini kembali muncul dalam wacana nasional.

Melihat bahwa bangsa-bangsa lain memilih waktu lebih dengan pertimbangan kepentingan nasional bukannya kesesuaian geografi maupun kenyamanan cuaca, maka Indonesia pun punya peluang yang sama.

Peluang terbesar bagi perubahan ini adalah untuk WIB, di mana konsumsi listrik terbesar (Pulau Jawa) ada di sini. Dengan menghapus WIB dan memasukkan wilayah barat ke Wita, akan besarlah perubahan positif yang bisa dicapai. Akan ada peluang kegiatan produktif masyarakat bertambah pada siang hari, yaitu dengan mengalihkan kegiatan di malam hari selama satu jam ke siang hari. Penggunaan listrik di rumah malam dan pagi hari pun berkurang satu jam.

Hanya saja, kajian yang menarik ini, menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman masih kurang lengkap. Dalam penjelasannya kepada Kompas di BPPT, Selasa petang, Menneg Ristek mengatakan, kajian yang dilakukan baru mencakup penghematan energi listrik. Padahal, ada aspek sosial- politik dan budaya di dalam soal ini sehingga sementara ini pemerintah masih melihat ongkos sosial-politik pengubahan zona waktu lebih mahal daripada manfaatnya. Wah masih perlu kajian panjang.

Dengan kata lain, harapan untuk melihat Indonesia hanya punya satu zona waktu, yakni GMT plus 8 masih jauh.

Tetapi Malaysia  yang 2 zona (GMT+7 dan GMT+8)) dijadikan 1 zona (GMT+8) saja, kok bisa…?

Terus, soal waktu sholat bagi ummat Islam?

Waktu Sholat sama sekali tidak terkait dengan penyatuan Zona Waktu Indonesia. Waktu Sholat dasarnya adalah Pergerakan Matahari. Hanya perlu sosialisasi biar tidak kaget saja…

Reff:

  1. Milis RHI
  2. Tulisan di Kompas 2006 dan 2008

10 Tanggapan

  1. […] WKI: Ide Penyatuan Zona Waktu IndonesiaBujur Indonesia sangat panjang, antara 95 BT – 140 BT. Mungkinkah Indonesia yang dulu pernah ada 6 zona waktu, kini 3 zona waktu, lalu nanti akan menjadi 1 zona waktu…? WIB, atau WITA, atau WIT…? Biar adil WITA. … […]

    Suka

  2. Pak Ar, ada kajian falak di blog saya. Dapatkah panjenengan berikan ulasan penjelasan yang lebih gamblang? Bagusnya di ruang komentar biar terbaca orang yang memerlukan. Itu tentang makna hidup 1000 bulan. Syukron..

    Suka

  3. …bisa atau tidak hanya tergantung kemauan. Setiap perubahan pasti memiliki konsekuensi.
    Bagi saya di sulawesi, menyatukan zona waktu tidak menjadi masalah.
    Baru saya sadar, memang dengan berada di GMT +8, sangat menguntungkan, misalnya jadwal siaran indovision mengikuti waktu hongkong (GMT +8). Selain itu, bisa sama waktu dgn Malaysia, HK, Philipine,dan S’pore, bisa lebih nyaman bila berkomunikasi dgn teman2 di negara2 tsb, krn waktunya sama…

    Suka

  4. bisa aja sih waktu Indonesia diganti… tapi entar yang repot kan dunia… harus ganti waktu Indonesia di kantor, di website, everywhere… repot kan??

    kalo kata gw gak usah deh… masih enak Indonesia seperti ini… hehehe…

    salam kenal lagi…😀

    Suka

  5. ayo jadi WITA aja.. kan dampaknya bagus tuh..

    Suka

  6. Artikel yg amat menarik.

    Pertanyaan reflektif saya adalah apakah selama ini saya tidak produktif kerja karena saya malas atau karena saya menggunakan WIB ?. Scr jujur jawabannya adalah karena saya malas. Namun saya juga bisa memberikan pembenaran, karena jarum jam saya bergeraknya telat sih.

    Karenanya, dulu, ada teman menggerakkan jarum jam, 1 jam lebih cepat supaya tidak telat masuk kuliah. Eh, tak tahunya ketika masuk kuliah, di sana kosong melompong. Ia menunggu satu jam. karenanya kemudian pilihannya, ia punya 3 buah jam, 1 untuk WITA, 1 untuk WIB, 1 untuk WILB (Lepas Barat) maksudnya WIB di tambah 1 jam. Nah, ia kemudian enjoy dgn aktifitasnya.🙂

    Terus terang, saya kok jadi kepikiran mengenai isi artikel ini. Terutama mengenai, interaksi antara alam dengan manusia.

    Suka

  7. Nah.. ini dia..

    Aku setuju banget.. aku juga udah buat group untuk mendukung gerakan penyatuan waktu indonesia..

    Coba di kunjungi dan dibaca descriptionnya… dan kalo bisa gabung group ini. Demi efisiensi dan kemajuan, serta persatuan sosio-psikologis Indonesia.

    Dengan rendah hati saya mengundang rekan-rekan untuk bergabung dalam facebook group yang berjudul:
    Gerakan Waktu Indonesia Satu – Menuju Persatuan Indonesia!
    http://www.facebook.com/group.php?gid=249811146096

    Suka

  8. maaf belum rijit bcanya jadi lum bisa comen…

    Suka

  9. lebih faham…thanks

    Suka

  10. setuju waktu indonesia/nusantara/nkri/nasional.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: