Persamaan Lailatul Qodr

gelombang EM“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr [97]:1-5)

Allah Maha menentukan segalanya. Dia memilih sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah memilih tempat yang dikehendaki-Nya. Allah memilih manusia yang dikehendaki-Nya, pilihan-Nya ada yang menjadi Nabi, Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendaki-Nya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendaki-Nya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah SAW dalam menyebarkan risalah Ilahi.

Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al- Qur’an.

Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqoroh [2]:185.)

Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendak-Nya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya :

“Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam sabdanya yang lain :

“Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An-Nasai dan Al-Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya :

1. Bulan diturunkannya Al-Qur’an. Firman Allah :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2]:185)

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar-Razi berkata : “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al- Qur’an.

Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al-Qur’an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitab-Nya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

“Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad).

Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya :

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Anfal [8]:41).

Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi

Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

5. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. ” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.

6. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5)

Lailatul Qodr

Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai Lailatul Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al-Qodr : 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailatul Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan
puasa (HR. Bukhori Muslim ).

Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa :

“Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim).

Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan?

Ummat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan bahwa ummat dahulu ada yang belum mencapai usia baligh (cukup umur) hingga usia 80 tahun. Sebuah riwayat menjelaskan bahwa ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun, maka serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda.

Juga diriwayatkan bahwa nabi Ibrohhim a.s berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa imam Al-Mahdi berusia panjang. Sampai saat ini beliau telah berusia 1164 tahun. Ummat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti nabi Nuh ‘alaihissalam yang berusia lebih dari 1000 tahun; Luqman bin Ka’ab 400 tahun; ‘Abdulmasih bin Baqlah Al-Ghasani lebih dari 350 tahun; dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.

Rasululah SAW ketika merasakan bahwa usia ummatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia ummat sebelumnya, beliaupun memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia ummat islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk meperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari do’a nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada nabi dan ummat islam suatu malam yang disebut Lailatul Qodr, yang nilai kebaikannya setara dengan 1000 bulan.

Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan ruh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa tahun ini. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam = 1000 bulan = 30.000 malam = 300.000 jam = 18.000.000 menit = 1.080.000.000 detik, atau 1 malam = 83 tahun 4 bulan.

Allah menjelaskan, para malaikat dan ruh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar.

Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi, karena untuk berpindah dimensi, malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan dan P=parity, keseimbangan) dan meperlambat kecepatannya (kecepatan
cahaya) mendekati kecepatan partikel. Ini sama dengan pengerahan energi secara kontinu yang kalau tidak sesuai prosedur yang ditentukan Allah, maka fatal jadinya (meledak, energy-overload).

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh, sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang sudah keluar dari bintang, sehingga memiliki sifat yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas di pusat bintang. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/s yang artinya sama dengan kecepatan pusingan medan skalar alam raya.

Pusingan ruang dalam kecepatan cahaya (300.000 km/s) adalah waktu mutlak, ia adalah ruang bulat dan bukan lonjong. Bila benda bergerak dengan kecepatan cahaya, yang artinya sama dengan kecepatan pusingan ruang atau waktu mutlak, maka benda itu akan membekukan waktu mutlak, sehingga ia akan terlepas dari perhitungan waktu. Tidak jadi soal, berapapun luas atau jauh jarak yang ditempuh benda itu, atau berapa kali dia mengelilingi alam raya, sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia tidak akan terkena hitungan waktu.

Waktu 1 detik bagi benda diperlebar tanpa batas, sehingga sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia akan kekal. Artinya, bila kita mampu bergerak dalam kecepatan cahaya, berapa kali pun keliling alam raya, perjalanan yang kita alami tidak akan memakan waktu 1 detik. Ini adalah ukuran waktu bagi dimensi waktu
atau dimensi lembut. Pada dimensi ini tidak ada waktu “tadi” atau “nanti”. Kata ” tadi” atau “nanti” hanya berlaku pada dimensi-dimensi waktu nisbi, yang pusingan/kecepatannya kurang dari 300.000 km/s. Bagi benda di alam kasar yang tidak bergerak, usia alam raya sekarang 15 milyar (menurut hitungan tetatapan kosmis lambda) atau ½ menit menurut hitungan dimensi waktu.

Tidak semua malaikat dapat menjelma ke dimensi kasar. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Dan sekali lagi ini hanya dapat dilakukan oleh malaikat yang memiliki kesadaran-atas-potensi sangat tinggi alias cerdas.

Inilah rahasia, mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam Lailatul Qodr pada bulan suci ramadhan ini. Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertaqarrub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar, sehingga manusia tidak akan mampu melihat apapun kecuali dengan mata hati/bathinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba

Allah yang khusyu’ untuk mengoptimalkan potensi ruhaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain -mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya…

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah Lailatul Qodr. Kita ambil contoh, bila si Fulan telah berusia 30 tahun, ia telah menjalankan ibadah ramadhan semenjak usia 15 tahun berarti ia telah menjumpai Lailatul Qodr sebanyak 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniakan Lailatul Qodr oleh Allah 12 kali saja (yang 3 tahun selebihnya bolong-bolong), maka saat ini si Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan Lailatul Qodr sebagai berikut:

U = Ui + (n x 83,4)

dengan:
U = usia hamba yang mendapatkan Lailatul Qodr (tahun)
Ui = usia hamba mula-mula (tahun)
n = orde Lailatul Qodr (tanpa satuan)
83,4 = 83 tahun sisa 4 bulan

Jadi usia Fulan saat ini adalah:

U = 30 + (12 x 83,4) tahun
= 30 + (1000,8) tahun

U = 1030,8 tahun

atau 1.030 tahun ditambah 8 bulan.

Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara si Fulan telah 1000 tahun lebih.

Dan dengan analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun, karena dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan Lailatul Qodr, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun 4 bulan.

Berapakah usia-Ui anda Sekarang? Berapa usia-U anda selepas ramadhan 1428 H ini?

Jawabnya adalah mengetahui terlebih dahulu, berapa orde Lailatul Qodr kita. Orde Lailatul Qodr didapat dengan melihat dua faktor berikut:

1) istiqomah menjalankan amalan-ramadhan secara imaniah-ihtisaabiah.
2) amalan-ramadhan membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca ramadhan.

Ketahuilah bahwa panjang umur dan penuh dengan ketaatan kepada Allah adalah sesuai sabda Rasululah,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya” (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah karuniakan Lailatul Qodr kepada kita tahun ini. Amien…19x

sumber: Berawal dari Niat

Iklan

4 Tanggapan

  1. […] Manusia dulu, sampai kini akan bertemu di Rahasia malam ‘Lailatul Qodr’ […]

    Suka

  2. nice article, pak 🙂
    thanks

    Suka

  3. lailatul Qodr,malam kemuliaan,semoga Allah mempertemukan kita malam tersebut, amiin….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: