• Asal Pengunjung:

  • FB:Pakar Fisika
  • Tulisan Terbaru

  • Arsip Tulisan:

  • Komentar Terbaru

    pakarfisika di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Ana Wahyudi di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Mochammad nova hendr… di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    udiana di Software Silsilah (Trah)
    pakarfisika di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Waktu subuh yang ben… di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    Rahmadmars di Gaji DPR vs Gaji Guru
    Widodo di Waktu Shubuh, terlalu cep…
    konbud di Kapan Awal Ramadhan 1438 H dan…
    Budi Abu Ahmad di Kapan Awal Ramadhan 1438 H dan…
  • Tulisan Terlaris

  • RSS Jogja Astro Club

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Info Astronomi

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Rukyah Hilal Indonesia

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Fisika Indonesia

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Info Beasiswa

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Citra Matahari Kini:

  • Jumlah Pengunjung:

    • 2,393,500 orang
  • 50 Top Pencari:

Digital Natives vs Digital Immigrant

Awalnya saya mendapat sapaan lewat YM oleh Mas/Pak Irfana yang sedang studi di Ohio university. Lalu singkat cerita disarankan masuk milis edukasi dot net. Selanjutnya, saya dapat sesuatu yang berharga, karena saya selama ini merasa kurang melihatnya secara proporsional. Lihatlah selengkapnya tulisan berikut;

Apakah Anda telah memperhatikan bagaimana siswa Anda belajar?

Apakah mereka: Interpersonal, spatial, kinestetik, visual, auditory, musical, linguistic, logical..?
Namun kebanyakan mereka adalah Digital Learners!

Ini sebabnya:

– Rata-rata seorang lulusan sarjana kini telah menghabiskan 10.000 jam bermain video games; lebih dari 10.000 berbicara melalui telepon; dan 20.000 jam menonton TV

– Remaja dan anak-anak sekarang, dalam seminggu rata-rata menghabiskan 2.75 jam mengunakan komputer rumah. dalam hari tertentu anak-anak dibawah 2 thn menghabiskan 2 jam di depan layar elektronik.

Apa artinya?

Mereka terlahir ke dalam dunia digital dimana mereka diharapkan dapat menciptakan, mengunakan, dan berbagi bahan/sumber informasi antara mereka.

Apakah Anda telah meraih mereka? Apakah Anda telah memanfaatkan potensi mereka dan ‘melibatkannya’ dalam pelajaran?

Digital Learners sangat berbeda dengan kita (guru, orang tua, dewasa kini), kitalah yang Digital Immigrant. Mereka berfikir, berbicara, berkomunikasi dengan cara yang sangat berbeda dengan kita! dan kita yang memaksakan agar mereka berfikir, berbicara, seperti kita.

Sudahkan Anda melihat account Friendster anak Anda?. Apa yang mereka lakukan?. apa yang mereka bicarakan?

Seorang anak dengan account friendster dapat memiliki lebih dari 300 orang teman!

Kini saatnya kita meraih mereka! dan menjadikan pengajaran di kelas lebih kaya (richness).

Nb: edukasinet telah memiliki account friendster yg dapat di klik di
http://profiles.friendster.com/edukasinet

mohon kiranya bapak, ibu sekalian dapat mensosialisaikannya. semoga dengan account friendster ini dapat meningkatkan jumlah pengguna edukasinet dan dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan
digital learners.

Sehari sebelumnya, saya mencoba membuka salah satu email anak didik saya. Seketika saya terkejut, karena dari 2000 lebih INBOX, isinya seputar dunia friendster. Luar biasa memang dunia digital ini.

Anak saya juga baru genap 5 tahun 2 Mei 2008 lalu, tapi setiap saya tiba di rumah, yang ditanya, ‘Ada game baru nggak Bi..?‘. ‘Bukan game, tapi simulator…mau…?’ Dan diapun asyik memainkan flying model simulator.

Melihat kondisi ini, kita para guru mestinya segera angkat kaki dan tangan untuk bersegera melatih diri dengan dunia digital. Kegiatan pelatihan ini adalah salah satu contohnya.

Sekitar 5 tahun lalu saya enggan masuk ke Friendster (FS), karena saya berasumsi; kalau saya tidakmasuk maka saya akan mudah melarang anak didik masuk. Sebab setelah masuk, ia akan dengan mudah mendapatkan teman dari penuuru dunia manapun, namun kalau kita tidak mampu mengendalikan, maka akan semua model teman bisa masuk. Ini yang saat itu membuat saya menjadi agak sangat menjaga jarak dari komunitas friendster.

Setelah mendapat, info dari Pak Irfana ini sepertinya saya harus membalik pola pikir. Bersamaan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 10 tahun Reformasi, dan masih bulan pendidikan, maka 19 Mei 2008 saya mencoba merambah dunia FS, dan mencoba membidik anak didik saya yang mayoritas bahkan sangat mungkin semuanya (sampel di atas tadi) menjadikan agenda wajib untuk di buyka setiap kali online adalah FS. Tapi kita harus benar2…ekstra ketat menjaga diri…!!!!!

FS tertanggal 19 Mei 2008

Iklan

Satu Tanggapan

  1. setuju dengan pemberdayaan guru, agar ndak ketinggalan dengan murid…:)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: