Koreksi Nama Bulan

Di postingan sebelumnya, saya pernah tulis begini:

Pertama yang ingin saya tulis di postingan ini adalah sebuah koreksi:

dari kata:

jumadilawal_pakarfisika1

JUMADIL AWAL = SALAH

menjadi

jumadal Ula_pakarfisika1JUMADAL ‘ULA = BENAR

Hampir di setiap Kalender (umumnya) menggunakan kata ini asal, karena tidak tahu asal-usulnya. Secara khusus koreksi ini akan saya tulis tersendiri dengan ulasan versi lughoh arabiyyah.

Nah, tidak hanya kita yang orang Indonesia dan bahasa Arab bukan bahasa Ibu kita. Namun di negara yang dekat dan ke-arab-arab – an pun masih ada yang salah.

Penjelasannya begini:

Di dalam bahasa Arab, ada sestau yang tidak dimiliki bahasa lain (sejauh pengetahuan saya), yakni bahasa Arab memiliki jenis kelamin. Maksudnya, kata kerja makan, bagi bahasa Indonesia ya tetap makan, walau yang melakukan orangnya berbeda jenis kelaminnya.

Bapak makan nasi dan Ibu makan nasi.

Hal ini tidak bisa kalau bahasa Arab yang digunakan,

Bapak makan nasi = akala abun ruzzan

Ibu makan nasi = akalat ummun ruzzan

akala <> akalat, dst, masih banyak contohnya, yang pada intinya di dalam bahasa Arab ada pembedaan jenis kelamin yang dalam istilah bahasa dikenal sebagai Mudzakar dan Mu’anas.

Kaitannya dengan nama bulan, khususnya bulan ini yakni Jumadil Awal (kata orang awam), yang benar adalah

Jumadal ‘Ula = BUKAN Jumadil Awal atau Jumadal Awal.

karena kata ‘Jumada’ adalah kata dengan jenis Mu’anas kategori Lafdzi. Kata lain yang sejenis dengan Jumada antara lain= HASANAA, ZARQOO, KHODLROO, dll. Mu’anas memiliki banyak kategori yakni: Majazi, Lafdzi, Hukmiy, Hakiki, dan Ta’wiliy.

Kata Awal = jenisnya Mudzakar, maka tidak mungkin digabung dengan Jumada yang Mu’anas.

Kesimpulan:

Kata BENAR

jumadal Ula_pakarfisika1 = JUMADAL ‘ULA

dan

jumadal akhiroh_pakarfisika1 = JUMADAL Akhiroh

atau

jumadal tsaniyah_pakarfisika1 = JUMADAL TSANIYAH

Kata SALAH

jumadilawal_pakarfisika1

= JUMADAL AWAL atau JUMADIL AWAL.

Iklan

7 Tanggapan

  1. Kesalahan ini turun temurun, karena pengaruh budaya Indonesia. Saya pikir, ‘Islamisasi’ kalender Jawa oleh Sultan Agung berpengaruh dalam hal ini.

    Suka

  2. Jzk pak buat infonya…

    Suka

  3. Alhamdulillah, artikelnya bagus Ustadz!
    Syukran, saya jadi teringatkan kembali..

    Terkadang banyak istilah yang masih dipakai karena sudah lazim digunakan oleh masyarakat seperti “akwat” yang seharusnya dibaca “akhawat”. namun karena kesulitan untuk penyebutan dan kebiasaan pengucapan jadi dibiarkan menjadi “akhwat”. Yah… Subhanallah banget deh…

    Suka

  4. Jazamukullah, Pak AR.

    Mungkin penulisan arabnya bisa lebih dibenarkan. Setelah mim dalam “Jumada” itu harusnya ada alifnya (fathahnya menjadi panjang (Jumaadaa).

    Terimakasih.

    ======
    wah iya, jazakallah Pak Nidlol, mau ngoreksi malah dikoreksi…terima kasih sekali, salam.

    Suka

  5. Alhamdulillah, tulisan yang bagus Ustadz.
    Di kalender Assalaam yang akan datang sudah diterapkan?

    Suka

  6. Akhi, kalau Rabi’ul Awwal dan Akhir apakah sudah benar? Jazakallaah… 🙂

    sudah, Rabi’ul Akhir juga bisa Rabi’ul Tsani….salam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: