Menentukan Awal – Akhir Ramadhan

Dari Pengajian Malam Rabu di PPMI Assalaam, kyai Chozin menjelaskan cara menentukan awal dan akhir Ramadhan berdasarkan dalil Qur’an dan Sunnah. Berikut petikan materi pengajian beliau…

1.      Telah menjadi keyakinan kita bahwa agama Islam sudah sempurna, Muhammad Rosulullah SAW telah menyampaikan seluruh Risalah Allah SWT, hal ini telah disaksikan oleh para sahabat, serta generasi yang datang berikutnya. Kewajiban kita umat Islam menerima seluruh ajaran Islam tersebut secara utuh dan konsekuen, artinya tidak perlu ditambah, dikurangi, serta dilarang mengikuti subul (jalan-jalan) selain yang telah digariskan oleh beliau, karena pasti akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan. (Qs: 59. 7) (Qs. 6 : 153)

2.      Dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan Rosul SAW dengan tegas dan jelas memberikan pelajaran kepada kita umat Islam secara mudah dapat dikerjakan oleh semua orang, inilah ciri khas ajaran Islam, hal ini telah diamalkan/dipraktekkan Rosulullah SAW, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it –Tabi’in, sampai pada para Imam yang empat  serta para salafus sholih  dan ulama-ulama yang benar benar konsekwen mengikuti sunah Rosulullah SAW. Yaitu bahwa awal dan akhir  Ramadhan ditentukan oleh “RU’YATUL HILAL  tidak dengan cara-cara lain hasil dari rekayasa manusia. Hilal dianggap sebagai pertanda awal bulan jika telah terlihat dan diberitahukan kepada pihak lain, bukan dalam hitungan (hisab).

3.      Marilah kita perhatikan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist shohih berikut yang menunjukkan penentuan awal dan akhir Ramadhan dengan cara “Ru’yah  seperti yang dicontohkan Rosulullah SAW : Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah: “Bulan sabit (hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…… (QS. 2 : 189)

Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa…. (QS : 2 : 185)

Sesungguhnya bilangan bulan (Qamariyah) pada sisi Allah adalah dua belas bulan, …. (QS. 2 : 36)

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Umar, RA beliau berkata :  “ Aku mendengar Rosulullah SAW bersabda : “ jika kalian melihatnya (Hilal Ramadhan) maka berpuasalah. Dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal)  maka berbukalah namun jika kalian terhalang melihatnya (mendung dll) maka tentukanlah bulan tersebut” (Mutafaq ’alaih).         

Dan dalam Riwayat Muslim : “ …namun jika kalian terhalang melihatnya, maka tentukanlah bulanya 30 hari”.         

Dan juga menurut muslim, dari hadist Abu Hurairah RA “ …… maka berpuasalah kalian 30 hari “         

Dalam redaksi lain “  ……. maka genapkanlah bilangan (harinya).”         

Dalam lafadz Lain , “ …… maka hitunglah menjadi 30 hari …“.          

Dan dalam Riwayat Bukhary, : .. maka sempurnakanlah bilangannya menjadi 30 hari … “          

Dan juga menurut Riwayat al-Bukhary, dari hadist Abu Hurairah Ra, “ …maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”(Shahih Muslim, II/122/124) (Shahih Bukhori, II/229/249)          Dan masih banyak lagi hadist-hadist senada dalam Kitab-kitab Sunan (Kutubus Sittah) 

4.      Memang ada cara lain dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan yaitu dengan “HISAB” dengan perhitungan astronomi. Namun kalau diperhatikan benar-benar alasan/dalil yang dijadikan landasan kurang pas. Disamping itu jelas menyalahi sunnah Rosulullah SAW.     

Diantara dalil yang djadikan rujukan antara lain :

a). Q.S. Yunus : 5

Ayat ini sama sekali tidak menunjukan  tentang bulan Ramadhan, tetapi  menjelaskan fungsi manzilahmanzilah bulan dalam mengetahui hitungan tahun dan perhitungan waktu.

b. Juga QS ; Al Isro’ : 12.   Ayat ini pun tidak  ada kaitannya dengan Ramadhan, sifatnya umum.      

c. Juga  Hadist : “… وَاقْدُرُوْا لَهُ … “Bukan menunjukkan cara hisab, tetapi hadist ini telah dijelaskan sendiri oleh Rosulullah SAW dalam hadist berikutnya (seperti yang ditulis hadist diatas).

d)   Ada lagi alasan bahwa umat Islam saat itu “Ummi” tidak bisa  baca tulis. Hal ini juga tidak ada kaitannya dengan Ramadhan, atau bahkan “HisabMafhum mukholafah tidak bisa dijadikan Illah dalam penentuan hukum.

e) Alasan-alasan lain juga sama sekali tidak menunjukkan secara tegas, “ Hisab” untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan. Belum lagi hisab aliran mana yang harus dipakai, karena di Indonesia saja ada berbagai aliran hisab yang masing-masing hasil perhitungannya bisa berbeda-beda, karena kitab rujukannya berbeda-beda.

Ada ± 15 Macam kitab ilmu hisab sebagai rujukan dengan berbagai macam aliran, yaitu antar lain :

1).      ALiran Hisab ”Taghribi” dengan kitab-kitabnya antara lain :

o        Sullamun Nayyiraini

o        Tadzkiratul Ikhwan

o        Fathur Rauf  Fil Manan

o        Risalatul Qomaroini

2).      Aliran Hisab Tahqiqy, dengan kitab-kitabnya antara lain :

o        Manahiyul  Nataijul Aqwal

o        Khulashah Wafiyah

o        Badi’atul Misal

3).      Aliran Kontemporer dari kitabnya :

o        New Comb

o        Jean Meuus

o        Ephemeris

4).      Al Manak Menara Kudus– KH. Tajus Syaraf

5).      Team Lajnah Falaqiyah PBNU

6).      Team Hisab Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah

7).      Almanak Taqwim Pendidikan Agama

8).      Hisab dari Pondok Pesantren Salafiyah– Seperti : PP. Jampes, PP Lirboyo, dll.

5.   Ilmu Hisab bisa dipakai sebagai pendukung Ru’yah, membantu menentukan “Hilal” bukan sebagai penentu awal dan akhir Ramadhan, jika dijadikan penentu, berarti mengganti kedudukan Ru’yah. Hal ini sama dengan mengganti ketentuan Syar’i yang telah ditetapkan oleh Baginda Rosulullah SAW. (Na’udzubillah)

Dapat Diruju’ :

  1. Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah
  2. Fatawa Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts alIlmiyah wal Iftaa’, Ahmad bin Abd. Razaq ad-Dawaisy.
  3. Kutubus Sittah.
  4. Tafsir : As-Sa’idi, Ibnu Katsir, At Thabari, Depag.

( Muhammad Chozin Shiddiq) / ( Ramadhan 1428 H )

______________________________________________ Berikut koleksi Hilal Ramadhan 1428 H:1. Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H:

Hilal tgl 1 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

2. Hilal tgl 2 Ramadhan 1428 H:

Hilal 2 Ramadhan 1428 H (Pak AR)

3. Hilal tgl 3 Ramadhan 1428 H:

Hilal 3 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

4. Hilal tgl 4 Ramadhan 1428 H:

Hilal 4 Ramadhan 1428 h (Pak AR)

Sekali lagi, Rukyah tanpa panduan Hisab akan salah arah dan salah lihat lalu bisa2 salah kaprah…

Sebaliknya Hisab tanpa dibuktikan dengan Rukyah (bulan ramadhan dan syawwal dan dzul hijjah), menyalahi ajaran Rasul dalam menjalankan perintah agama.

Terlepas kalau Hisab untuk kepentingan pengetahuan semata yang tidak ada dampak ke persoalan ubudiyyah, monggo kerso…. Kata Rasul,”Antum a’lamu bi umuuri dunyaakum”.

Wa Allahu a’lamu…[]

Iklan

12 Tanggapan

  1. fotonya ustad AR ok. jika tidak keberatan, minta dong narasi lengkapnya singkronisasi hisab dan rukyat ramadhan 1428 h. tq. ikkkkkkk massss

    ~~~~~
    Insya Allah saya kirimkan via e-mail. [pakar]

    Suka

  2. Sangat setuju dengan penjelasan bahwa perhitungan hisap dapat dijadikan panduan untuk melakukan rukyah karena perintah rukyah sudah sangat jelas perintahnya seperti jika tidak terlihat kerena gejala alam maka sempurnakanlah menjadi 30 hari, ini jelas sekalipun hasil hisap (perhitungan secara matematis) sudah pasti tapi kalau dilihat dari hadist tersebut masih membutuhkan rukyat sekalipun kondisi masyarakat pada saat itu tidak sepintar masyarakat sekarang mengenai astronomi, tapi ini masyalah perintah/contoh dari rosulullah.

    Suka

  3. harus juga hati-hati, karena al-quran turun sesuai dengan konteks, prinsip umum dalam konteks itu yang mesti dipakai dalam kehidupan sekarang.

    Suka

  4. postingan yang bagus sekale.., singkat, padat dan berisi. boleh nggak disebarkan ke yang lain?

    ~~~~~
    Dengan senang hati Pak Hery, demi dakwah dan pengetahuan ummat. -pakar-

    Suka

  5. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Saya dengar sebenarnya tidak ada perbedaan untuk posisi hilal antara yg menggunakan Hisab dan Rukyah, yang berbeda adalah penafsiran seperti apa/kapan hilal disebut telah muncul. Kalau ustadz bisa menjelaskan perbedaan penafsiran tersebut akan bisa memberi pencerahan kepada kita.

    Satu lagi bab Hisab dan Rukyat, dulu tentunya menentukan waktu sholat juga dengan rukyat (matahari sudah lengser, terbenam, munculnya fajar sidik dll), tapi mengapa sekarang tidak ada lagi orang rukyah waktu sholat? semua cukup lihat jam. Apakah melihat hilal bisa dianalogikan dengan melihat waktu sholat?
    Wassalam

    Suka

  6. Sangat menyedihkan memang. Untuk menentukan akhir Ramadhan dan awal Syawal saja harus berdebat dan terjadi perbedaan pendapat yang sangat menyolok. Di bidang Astronomi, hal tersebut di atas merupakan hal yang sangat mudah. Kalau saya boleh membuat perumpamaan, hal ini adalah merupakan pelajaran “TK”nya orang-orang astronomi.
    Ironis, di saat negara lain sudah dapat menghitung kedudukan planet Mars dan meluncurkan pesawatnya sampai ke sana, negara kita kita masih berkutat pada “penentuan hilal”. Dengan kata lain, negara kita tidak pernah lulus tingkat “TK”nya astronomi.Dengan kata lain pula, negara kita tidak akan pernah mengirimkan pesawat hingga sampai ke bulan apalagi ke planet Mars. Karena “TK” saja tidak lulus.
    Menyedihkan, sangat menyedihkan. Orang Inggris bilang, kita ini memang “fool, very very fool”.
    Sedih.

    ~~~~~
    Inti persoalannya tidak di astronomi atau TK atau ghirroh keilmuannya mas Adi. Hemat saya, urusan Agama itu kita diminta ikuti Rasul. Perkara logis/tidak ya itu bukan soal kita. Pokoknya kita wajib ikut Nabi SAW dalam hal agama/ubudiyah. Urusan belajar astronomi OK2 aja. Saya sudah ajarkan ilmu itu ke anak didik saya di CASA dan BlogCASA. intinya di matan hadits nabi yang ‘liru’yatihii’ itu aja kok. Lho..khan lihat hilalitu sulit..? Nabi itu Fathonah, istikmal aja…beres khan. Trim’s kunjungannya…ya Mas Adi Suriyanto.

    Suka

  7. QS 13. Ar Ra’d 2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda- tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
    QS 21. Al Anbiyaa’ 33. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
    QS 36. Yaasiin 40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
    QS 55. Ar Rahmaan 5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

    Empat ayat di atas itulah yang berbicara mengenai pergerakan benda-benda langit yang tidak dibatasi oleh urusan “melihat”. Tidak ada kata dalam ayat yang bunyinya kamu seperti misalnya kamu melihat bulan mengelilingi bumi. Yah… memang nggak logis, karena kata ini mencampurkan antara melihat dengan urusan benda langit mengelilingi bumi. Ayat tentang peredaran inilah yang selayaknya disandingkan dengan pengetahuan bidang astronomi

    Suka

  8. Assalamu’alaikum, Pak Guru.
    Isi blognya sangat mendidik dan mendetail. Subhaanallaah.

    Saya perhatikan selama ini, masalah penetapan Libur Nasional (Tanggal Merah 1 Syawal) HARUS MENGIKUTI KALENDER MASEHI (SOLAR SYSTEM) yang berarti jam 24:00 adalah awal hari.

    Sedangkan Kalender Islam sama dengan Kalender Cina (dengan LUNAR SYSTEM) yang berarti setelah terbenam matahari (Waktu Maghrib) adalah awal hari.

    Sedangkan 1 Syawal 1428 H ini, kata Muhammadiyah (Ijma ? ): http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=143640

    “Hasilnya, Indonesia bagian barat (Jawa, Sumatra, dan sebagian Kalimantan mencapai 10 provinsi) sudah masuk tanggal 1 Syawal 1428 H pada 12 Oktober dengan ketinggian 0,28 derajat 37 menit, sedangkan Indonesia bagian tengah dan timur masih belum wujud,” katanya.

    Oleh karena itu, tanggal 1 Syawal 1428 H ada dua kemungkinan, karena di Indonesia tengah dan timur baru akan terjadi wujudulhilal pada 13 Oktober 2007.

    Mereka mengibaratkan Indonesia ibarat satu kapal.

    Nah, masalahnya, semenjak Daulah Islamiyah di Turki runtuh (awal abad 20), Negara Islam terpecah belah.

    Wajar saja orang Barat menganggap Islam Bodoh, karena berbeda antara yang di Timur dan yang di Barat.

    Bagaimana kalau mengibaratkan Indonesia satu kapal dengan negara Islam lainnya? 🙂

    Nampaknya, kita perlu melakukan “Kudeta Internasional” untuk membentuk Daulah Islamiyah yang baru … he he he …supaya secara internasional, kalender Islam itu baku, baik di Afrika, Asia dan Eropa. Sedangkan kalendar Cina (Lunar System) aja bisa baku secara Internasional, mengapa Kalender Islam tidak bisa baku secara Internasional?

    Tapi saya mengambil sisi positifnya bahwa perbedaan dalam Islam untuk melatih Toleransi antar Umat dan menguatkan Ukhuwwah. Bisa begitu, Pak Guru?

    NB: Jangan anggap saya sebagai Terrorist yang mau membentuk Daulah Islamiyah pengganti Turki, ya… ha ha ha .. Karena kata orang Cina, saya ini cuma Telolis… (mungkin tukang Telor?)… he he

    ~~~~~
    Menyatukan kalender perlu juga belajar ‘membiasakan’. Contoh jam 5 sore janjian mau ketemu seseorang jam 7 malam, bilangnya yang benar adalah ‘Kita akan ketemu besok jam 19.00 yaa’, bukan ‘nanti ketemu jam 19 yaa’. jazakallah

    Suka

  9. Insya Allah Islam tidak akan bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan. Jadi hisab why not ?

    Suka

  10. Assalamualaikum
    ada komentar :
    =======
    Nampaknya, kita perlu melakukan “Kudeta Internasional” untuk membentuk Daulah Islamiyah yang baru … he he he …supaya secara internasional, kalender Islam itu baku, baik di Afrika, Asia dan Eropa. Sedangkan kalendar Cina (Lunar System) aja bisa baku secara Internasional, mengapa Kalender Islam tidak bisa baku secara Internasional?
    =======

    Apakah nanti penentuannya nggak repot ? lha ini 1 Syawal yang notabene hari besar dan paling dinanti umat saja bisa beda-beda nggak ada yang mau ngalah. Satu merasa lebih benar dari yang lain. Orang-orang yang pinter masalah keIslaman di negeri ini mestinya bisa lebih bijaksana bagaimana merangkul umat islam yang sudah cerai-berai ini, bukannya malah bikin keruh dengan pendapat mereka sendiri seenak udelnya.

    Yang jadi alasan kok perbedaan itu rahmat. Coba tanyakan pada Hamas dan Fatah…. apakah perbedaan mereka menjadi rahmat ? Apakah saling membunuh = rahmat ?

    Wassalamualaikum wr. wr

    Suka

  11. Weh, rameh niy.
    Menurut gw siy, hadist tersebut benar! yang jadi permasalahan adalah ketika NU menetapkan syarat hilal HARUS terlihat pada posisi 2 derajat.

    Sedangkan dalam hadist diatas tidak ada penentuan batasan derajat hilal. JADI meski hilal terlihat diseluruh Indonesia dengan posisi kurang dari 2 derajat, maka NU tetap akan menggenapkan menjadi 30.

    Penentuan tanpa memperhitungkan posisi derajat hilal ini yang sering digunakan oleh negara Arab dalam menentukan 1 syawal.

    Cari inilah yang dinamakan “Wujudul Hilal” yang digunakan oleh salah satu ormas di Indonesia Muhammadiyah.

    Suka

  12. mudah2an awal syawal 1430 H khususnya Indonesia bisa bareng2 rame kali yaaa. oh ya…mas tolonk kirimkan saya cara perhitungan awal bulan syawal saya mau belajar ngitung lagi nih…. kemarin2 pernah belajar perhitungan ephimeris..tk’s

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: