Kiblat Masjid Agung Solo

 

Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta

 

Masjid Agung Solo, akhirnya diukur ulang arah kiblatnya. Pengukuran ini dilakukan yang kedua kalinya, setelah pengukuran pertama awal 2008.  Sabtu (9/10) Pihak Takmir Masjid Agung Surakarta mengundang seluruh Ormas Islam, Pesantren, Masjid dan Lembaga Keagamaan Islam di Surakarta, untuk mengkaji ulang arah kiblat dan mengukur arah kiblat Masjid paling bersejarah di Surakarta ini. Alhamdulillah, saya ikut menjadi saksi…

Ketua takmir masjid Drs. H. Hasan Kamal, dalam sambutannya mengatakan bahwa sangat mendesak untuk diadakan pengukuran ulang dengan disaksikan ummat Islam. Sebab, kondisi masjid yang dibangun Sinuhun Paku Buwono II tahun 1745 ternyata arah Kiblatnya masih belum presisi. Selama ini masih ada dua ‘kubu’ yang belum bersepakat dalam soal arah kiblat masjid kita ini.

Kajian dilaksanakan di serambi utara, dan disampaikan oleh Pakar ilmu falak Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang yang juga anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Republik Indonesia, Drs. Slamet Hambali, MA.

Usai penyampaian materi dilanjutkan pengukuran arah kiblat di plataran timur Masjid. Pengukuran menggunakan Theodolit saat siang sangat sulit, namun pagi harinya, Pak Slamet telah melakukannya. Dan hasil siang menunjukkan hasil yang serupa. Kebetulan Matahari masih agak di sebelah timur titik Zenith.

Hasil Pengukuran via Satelit (GE by PakARFisika):

 

Koreksi Arah Kiblat versi GE

Koreksi Arah Kiblat versi GE

 

Hasil di atas saya lakukan dengan bantuan Google Earth, dan dapat diketahui bahwa azimuth kiblat Masjid Agung Surakarta versi GE adalah 294,55 derajat, dengan jarak ke titik Ka’bah sebesar 8.375,66 km.

Bila kekurangan atau kelebihan arah kiblat berbeda 1 derajat adalah setara 111 km menyimpangnya dari posisi Ka’bah, maka pergeseran arah Kiblat Masjid Agung Solo ini  12 x 111 = 1.332 km. Nyaris lebih panjang dari panjangnya Pulau Jawa yang hanya sekitar 1000 km.

Terlepas dari pro dan kontra dalil dan pemahaman, maka melakukan koreksi dalam rangka mencapai kesempurnaan dengan tidak memberatkan-karena semua sarana saat ini sudah sangat mudah didapat dan digunakan-, maka sudah semestinyalah arah Kiblat Masjid ini juga dibenarkan. Bagi yang selama ini cukup dengan arah yang lama, maka dengan adanya arah yang baru tidak kemudian menimbulkan keraguan; dan bagi yang selama ini masih ragu dengan arah yang lama; maka perubahan arah baru ini menjadikan semakin yakin dalam menjalankan ibadah.

Dan ternyata selisih pengukuran via Satelit hanya berselisih 0,5 derajat bila dibandingkan dengan Theodolit. Selisih 0.5 derajat hanya akan menyimpang dari titik Ka’bah sekitar 55 km, dan ini masih dalam radius kota Mekkah.

Hasil perhitungan dan koreksi via Theodolit (oleh Drs. Slamet Hambali, MA)

 

Koreksi Arah Kiblat versi Theodolit

Koreksi Arah Kiblat versi Theodolit

Sebagian dokumentasi…

 

About these ads

2 Tanggapan

  1. jazaakallah ustadz, untuk publikasinya…

  2. dan apakah koreksi itu sudah diterapkan ya ustadz?sudah diperbaiki kah?

    menunggu rapat antar takmir dan para sesepuh, katanya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: