Kajian Falak DPPAI – UII

Kajian Falak di UII

Kajian Falak di UII

Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam-Universitas Islam Indonesia (DPPAI-UII) Kamis (2/9) menggelar Kajian Arah Kiblat dan Penentuan Awal Syawwal 1431 H di GKU Prof. Sardjito, Kampus UII Terpadu. Acara berlangsung dari jam 09:00 – 12:00, dibuka oleh Rektor UII dan ditutup oleh Wakil Rektor III. Pemateri adalah ustadz AR Sugeng Riyadi dari PPMI Assalaam. Acara tahunan ini diikuti sekitar 300 peserta terdiri para Dosen, Karyawan dan Mahasiswa serta undangan dari Ormas Islam dan KUA serta Takmir masjid di sekitar UII Terpadu.

Muqoddimah:

Semula acara ini akan menghadirkan oleh Drs. Oman Fathurrohman, M.Ag (UIN Suka) dan Drs. Sofwan Jannah (UII), namun karena kedua nara sumber ini berhalangan, maka Kadiv Pendidikan dan Pengembangan Dakwah – Drs. Zamroni, MSI memohon ustadz AR Sugeng Riyadi yang pernah memberikan materi serupa di DPPAI pada 2005 silam, bertindak sebagai nara sumber.

Rangkaian acara dibuka oleh MC, Kalam Ilaahi dan sambutan2. Sambutan penyelenggara oleh dr. Taufiqurrohman, M.Kes, yg menyampaikan misi utama acara ini, menyangkut persoalan arah kiblat dan penentuan awal syawwal yang setiap saat masih selalu menjadi polemik, dan belum menemukan titik temu. UII berkewajiban memberikan wacana ilmiah kepada ummat, agar tidak terjebak dalam perdebatan sementara inti persoalan dalam ibadah justru dinafikan.

Sambutan kedua sekaligus membuka acara disampaikan Rektor UII,  Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. Dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlenggaranya acara ini, khususnya kepada DPPAI dan Nara Sumber yang berkenan hadir. Rektor menjelaskan bahwa UII harus berperan dalam segala aspek kehidupan ummat Islam, karena sesuai namanya UII adalah Universitas milik Ummat Islam dan tidak berafiliasi dengan organisasi keagamaan manapun. Hal ini juga karena UII merupakan Perguruan Tinggi Nasional tertua di Indonesia ini. Selanjutnya Rektor mohon maaf, karena harus meninggalkan forum ilmu ini, karena harus melanjutkan rapat yang belum selesai dipimpinnya. Acara didampingi Wakil Rektor III hingga usai.

Simpang-Siur Arah Kiblat:

Materi pertama adalah Arah Kiblat. Ustadz AR menjelaskan seluk beluk arah Kiblat, yang belakangan ini agak diputar balikkan oleh sebagian pihak karena ketidakpahaman. Media juga berperan ganda, bisa mencerdaskan ummat sebaliknya justru bisa membingungkan ummat, bila salah menyampaikan dengan tidak bijak.

Menurut Ustadz AR, soal arah Kiblat sebenarnya telah dikelola kementerian Agama sejak 2005 dengan dikeluarkannya Pedoman Arah Kiblat, juga dengan telah dilaksanakannya Pelatihan di seluruh Indonesia. Persoalan muncul, karena tahun 2010 ini MUI mengelaurkan fatwa no 03 perihal, arah Kiblat cukup ke BARAT.

Sontak ummat kaget, khususnya kalangan ahli dan praktisi ilmu Falak. Protes dan tanggapan segera mengalir ke meja kerja MUI, dan sekitar pertengahann 2010, fatwa MUI no 03/2010 diralat dengan no 05/2010. Inti ralat menambahkan, bahwa arah Kiblat ummat Islam di Indonesia adalah ke BARAT-LAUT, dengan azimuth Kiblat sesuai daerah masing-masing.

Persoalan masih muncul, karena media memberitakan sepotong-potong, yakni arah Kiblat adalah ke BARAT-LAUT. Mestinya, bikan Barat-Laut, namun sesuai azimuth daerah masing-masing. Dan dalam acara kajian ini, seluruhnya dijabarkan dengan bantuan visual multimedia. Jadi arah Kiblat ummat Islam di Indonesia itu bukan ke BARAT juga bukan ke BARAT-LAUT, namun ke arah dengan Azimuth Kiblat masing-masing kota.

Arah Kiblat dari Indonesia

Arah Kiblat dari Indonesia

Antusias peserta cukup tinggi, terbukti pada saat diskusi, banyak pertanyaan dilontarkan dan al-hamdulillah; semuanya bisa ditemukan kata yang sepaham. Para KAU juga merasa berterima kasih kepada DPPAI – UII yang telah memberikan kesempatan belajar langsung ilmu arah Kiblat ini.

Ringkasan materi sesuai tulisan pada kolom Tsaqofah di majalah islam Internasional ini : Arah Kiblat dan Pengukurannya

Beda itu Indah? Sama itu Barokah!

Materi kedua, adalah persoalan yang klasik; Taqwim Hijriyah, khususnya Penentuan 1 Syawwal 1431 H. Meski Iedul Fitri 1431 H kali ini tidak ada persoalan serius bagi ummat Islam Indonesia, karena Muhammadiyah telah memastikan bahwa 1 Syawwal 1431 H akan jatuh pada Jum;at Legi, 10 September 2010 M; dan Insya Alloh, pemerintah dengan kriteria MABIMSnya juga akan melakukan Istikmal, karena pada hari ijtimak, posisi hilal masih di bawah ufuk. Demikian juga NU, akan memasuki 1 Syawwal 1431 H pada Jum’at Legi, semoga…

Ustadz AR menjelaskan, bahwa awal Ramadhan 1431 H sempat ramai disebabkan laporan Hilal yang ada tidak didukung fakta yang objektif. Hal ini menyebabkan awal puasa di Indonesia (terlepas sistem yg dipakai para penganut Thariqoh) sebenarnya ada dua, 11 Agustus 2010 dan 12 Agustus 2010. Awal puasa pada Rabu, 11 Agustus 2010 mengikuti hasil keputusan Menteri Agama dan akan berpuasa genap 30 hari, sementara yang puasa mulai Kamis, 12 Agustus 2010 mengikuti hasil rukyah Hilal yang sebenarnya dan didukung bukti yang otentik dengan jumlah hari puasa 29 hari. Meski demikian, keduanya akan kembali bertemua bersama di Iedul Fitri 1431 H ini, tepat pada Jum’at Legi, 10 September 2010. Beda yang dilandasi ilmu, tidak justru menimbulkan perpecahan, sebaliknya terasa indah….karena bisa saling memahami dasar hukum masing-masing.

Namun, 1 Syawwal 1431 H kali ini, al-hamdulillah berdasar berbagai kriteria utama ilmu Falak di dunia, seluruh ummat Islam Indonesia (terlepas sistem yg dipakai para penganut Thariqoh), akan merayakannya secara bersama. Memang Beda itu Indah, namun Sama itu Barokah…

Berdasarkan kriteia RHI (salah satu sistem yang dipakai BHR Kemenag RI), maka 1 Syawwal akan jatuh pada Jum’at Legi, 10 September 2010 karena pada hari terjadinya ijtimak, 8 September 2010, posisi Hilal di wilayah Indonesia NEGATIF/di bawah ufuk:

Posisi Hilal pada tgl 8 Sept 2010-NEGATIF

Posisi Hilal pada tgl 8 Sept 2010-NEGATIF

maka secara Syar’i; jumlah hari puasa digenapkan pada tgl 9 Sept 2010. Alias pd Kamis, 9 Sept 2010 adalah puasa hari terakhir. Dan pada hari ini, Kamis 9 Sept 201o, posisi hilal sudah sangat tinggi, di atas limit astronomis / danjon.

Posisi Hilal pada 9 Sept 2010 - POSITIF

Posisi Hilal pada 9 Sept 2010 - POSITIF

Dengan demikian, insya Alloh Iedul Fitri 1 Syawal 1431 H akan jatuh pada 10 Sept 2010, harinya Jum’at, pasarannya Legi.

Follow Up:

Pada sessi akhir, acara ditutup oleh Wakil Rektor III Ir. Bachnas, M.Sc. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kita melihat persoalan jangan dianggap stagnan, sebab sesuatu yang sudah mapan itu harus didukung dengan dasar yang kuat dan benar, maka DPPAI – UII harus bisa mempelopori untuk membuka peluang berdiskusi berbagai persoalan yang masih dirasa rawan perbedaan; dicontohkan soal Waktu Sholat Shubuh, yang juga ditanyakan salah satu peserta kajian ini; disamping soal Arah Kiblat dan Kalender Hijriyah itu sendiri.

Secara umum, kajian ini sungguh membuka pola pikir dan memberikan pencerahan tersendiri bagi semua peserta. Semoga bisa diamalkan dalam kehidupan beribadah dan bermu’amalah.

Sebagian Galery:

Sebagian Video:

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: