Kuliah Tamu: Arah Kiblat di FT UNS

Teknokrat & Arah kiblat

Teknokrat & Arah kiblat

Teknik Sipil FT Universitas Sebelas Maret Surakarta ternyata telah memasukkan materi arah kiblat sebagai salah satu metode konstruksi bangunan sebuah masjid. Sebuah terobosan yang sangat membanggakan. Semoga kasus masjid salah kiblat kelak dapat kita minimalisir.

Setidaknya, inilah satu harapan dari kuliah tamu tentang ilmu falak, khususnya mengupas arah kiblat di kampus paling elit di kota bengawan ini.  Halaqoh ilmu ini diikuti para mahasiswa dan juga dihadiri pimpinan Fakultas Teknik dan Jurusan Teknik Sipil, serta para dosen.

Arah Kiblat Salah:

Selama ini, kesalahan arah kiblat masjid terjadi, salah satunya adalah kurang fahamnya seorang arsitek, dan pelaku pembangunan sebuah tempat ibadah, baik masjid, musholla ataupun bangunan yang di dalamnya digunakan untuk kepentingan sholat.

Penyebab lain, adalah adanya senioritas di masjid yang pada saat pembangunan mengandalkan ilmu sederhana, setelah diketahui dengan ilmu falak dan ternyata keliru, pihak yg merasa ‘sesepuh’ tetap tidak mau menerima koreksi dari para generasi mudanya, meski didukung data-data yang valid. Padahal urusan agama tetap bersumber dari ilmu, bahkan dalam Islam, perintah pertama itu ‘membaca’ yg artinya kita harus berilmu. Dalam suatu riwayat juga disebutkan, bahwa orang yang tidur itu lebih ditakuti syaithan karena kepandaiannya ketimbang orang yang rajin beribadah karena kebodohannya.

Kompas Kiblat yang bermasalah:

Kompas Kiblat yang telah beredar di masyarakat, selama ini menjadi alat yg paling mudah untuk menentukan arah kiblat. Semoga sang pembuat alat ini mendapatkan kebaikan yang sesuai. Alat ini pula yang banyak dipakai orang untuk menentukan arah kiblat masjid yg akan dibangun.

Kelemahan alat ini (kompas kiblat) adalah tidak seragamnya petunjuk yang digunakan, bahkan dalam satu kota terdapat tiga macam buku petunjuk dan tiga macam pula cara menentukannya. Di Jakarta misalnya, ada tiga jenis cara menentukan kiblat dengan ‘kompas kiblat’ ini: 7,5; 8; 9. Angka2 ini lalu dikalikan 9 dan menghasilkan 67,5; 72; dan 81. Dari data ini saja, orang di Jakarta akan bingung memakai, kiblat yg benar itu 67,5 derajat atau 72 derajat atau 81 derajat…? Padahal dengan arah kiblat Jakarta adalah sekitar 64 derajat 50 menit diukur dari arah Utara Sejati menuju titik Kiblat. Jadi kesalahannya bisa 2,5 derajat sampai 16 derajat. Bahkan di Gorontalo, kesalahan bisa mencapai 20 derajat….angka yg cukup besar.

Kini saatnya kita berbenah diri. Dan Menteri Agama sudah memberikan lampu hijau untuk proyek ini; tidak perlu takut akan biaya, karena ini adalah tugas Depag dibantu Ormas di daerah masing-masing.

Untuk wilayah Solo Raya, kita bersyukur karena UNS melalui Fakultas Teknik telah membuka jalan dan memberikan pencerahan untuk usaha ke arah perbaikan tempat ibadah ummat ini.

UNS: Pusat Studi Ilmu Falak..?

FT UNS telah membuka jalan untuk bangkitnya ilmu falak di kota Solo. Langkah ini berangkat dari arah kiblat. Langkah brilian ini muncul dari salah seorang pengajar di FT UNS, yang sekaligus ketua RT dan ketua takmir masjid Al-Muhajirin perum Josroyo Indah Jaten Karanganyar, Ir. Yusuf Adi Muttaqin, MT.

“Saya sudah dua puluh tahun terjun dalam dunia sipil, dan berpuluh masjid saya bangun, ternyata andalan saya kompas kiblat ini masih belum benar dan akurat untuk menentukan arah kiblatnya”, jelas Pak Yusuf.

Memang sudah selayaknya, harapan untuk mewujudkan berdirinya sebuah pusat kajian dan pusat pengembangan ilmu yang sudah tidak begitu dikenal ini, harus bermula dari sebuah lembaga sekelas UNS.

Suatu saat, pernah ide ini didiskusikan di salah satu kampus swasta elit di Solo, namun hingga tahun memasuki 1431 ini, wadah yang menjadi harapan ummat ini belum juga eksis.

Nampaknya, perlu ada hembusan dari manusia-manusia yang memiliki peran meski sepele, namun ada akses ke orang lain yang pada akhirnya bisa menyebar dan menjalar serta mempengaruhi yang lain. Dan era dimana dunia sudah di atas garis (on line), upaya mewujudkan cita-cita ini akan semakin mudah. Semoga UNS dengan jaringan yang sudah terakui benar-benar mampu mewujudkan: Wadah bagi para pengkaji dan pengembang serta pelaksana Ilmu Falak.

Bermula dari Kuliah Tamu di FT UNS, 20 Januari 2010 insya Alloh akan lahir generasi teknokrat yang memiliki nilai plus. Memiliki kecerdasan sekaligus kepekaan. Meminjam terminologi lama….”Berotak Jerman – berhati Mekkah”.

Sessi tanya – jawab berlangsung sekitar 30 menit. Penanya pertama, seorang dari unsur dosen yang bertanya seputar pengalaman beliau mengoreksi kiblat di kompleks perumahan yg ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pertanyaan dari unsur mahasiswa, hanya ada seorang saja dan pertanyaan kebetulan tidak sesuai tema yakni arah kiblat, tetapi justru bertanya soal waktu shubuh di masjidnya, dimana jamaah terbagi dua antara waktu yang ikut jadwal abadi dan yang memakai jadwal versi baru yakni koreksi dari team qiblati.

Usai Kuliah Tamu, acara dilanjutkan dengan mengukur dan menentukan arah kiblat untuk Musholla FT UNS yang segera akan dibangun di antara gedung II dan III, dan direncakan pula berlantai 3. Menurut ketua panitia pembangunan Musholla, Ir. Budi Utomo, MT; syarat membangun di kompleks UNS sekarang ini harus 4 lantai….

Saya mengusulkan: Lha, kok 3 lantai pak, kalau gitu sekalian lantai ke-4 untuk anjungan ilmu falak saja…

Berikut sebagian galery:

Berikut sebagian video:

—terima kasih kepada mahasiswa dan panitia atas bantuan untuk dokumentasi acara ini. []

About these ads

7 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum ustad..

    Salam kenal dari saya mahasiswa teknik sipil 2007…..

    Jazakallah khoir atas ilmu yang telah ustad sampaikan kemarin,,terus terang itu menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk mengenal lebih jauh tentang ilmu falak apalagi setelah lihat blog ini.

    Begini ustad….
    kebetulan saya juga dari SKI (Sentra Kegiatan Islam) FT UNS . Kemarin ada salah satu dosen dari FT menawarkan project untuk membenarkan arah kiblat mushala2 yang selama ini dipakai untuk shalat di lingkungan FT.

    Terus terang saya masih agak bingung tad,,
    1. Kalau kita pakai sudut 24,5 derajat yang kemaren gppkan?
    2. Terus mencari kompas yang seperti punya ustad dimana?
    3. Terakhir, kalau sudah ketemu arah kiblat yang benar cara membahasakan kepada jamaah bagaimana?

    Jazakallah khoir.

    Wassalamu’alaikum

    1. gpp, mas.
    2. kompas yg biasa di toko2 juga bisa, kalau maunya ‘muterpass’, saya bisa bantu. saya juga ada yg mudah dipakai di mana saja.
    3. selama ini saya lewat kajian, jadi kalau memang diperlukan adu argumen juga siap. jangan lupa kita lihat secara sains dan syar’i. prinsip kita mengingatkan, keputusan di tangan mereka.
    salam….

    • Salam kenal dari mahasiswa yogyakarta, mari kita tingkatkan dunia pendidikan di Indonesia, melalui media blog ini, hendaknya kita tingkatkan mutu dan kualitas manusianya, semoga tulisan anda yang bermanfaat ini dapat digunakan dengan baik oleh siapapun dgn menjunjung tinggi dan menghormati hak cipta.

  2. assalamu’allaikum wr wb
    ustad salam ta’aruf,
    syukron atas kehadirannya di FT UNS, jujur ana pengen maen kerumah ustad, boleh kan ?
    ana dari dulu punya impian pengen neropong bintang, setelah kedatangan ustad kemarin ana jd sdikit optimis dengen mimpi itu bakal bisa terwujud. saya sngat berharap jika ad kesempatan dan tidak mengganggu, ustad berkenan mengajak saya untung meneropong/mempelajari bintang. syukron jazakillah

    Terima kasih kunjungannya ke blog saya, mas Alvian.

    Mimpi itu juga pernah saya raskaan, dan senang kini bisa terwujud.

    Silahkan, dengan senanghati saya siap membagi impian ini. Jangan ke rumah, ke PPMI Assalaam saja, sebab semua alat saya di sana.

    Wassalaam…

  3. terima kasih pencerahan dari Pak AR, krn akhir2 ini dilingkungan Mino utk adzan subuh berfariasi, untuk tgl 1 feb 2010 contohnya ada yang adzan 04.16 ada yang 04.22 ada yang 04.28, lalu yang mana pak yang harus diikuti dan dinyatakan benar menurut ilmu Pak AR.

  4. Ass, Alhamdulillah wassolatu wassalamu ‘ala Rosulillah SAW, amma ba’du.. Salam kenal dari kami saudaramu yg lg merantau di arab saudi.. saya ucapkan syukur kpd Allah SWT, tenyata pa ustad punya perhatian terhadap mslh ibadah, smg menjd amal soleh penghapus dosa2, amin..kl blh ana mo usul, di samping pa ustad berusaha membetulkan arah kiblat juga betulkan pandangan msyarakat islam, yg masih malas to sholat berjamaah,, apalah artinya mejid di bangun dengan megah kl di isi cuma hari jum’at saja.. atau di isi oleh kakek2 saja.. saya mo berbagi pengalaman sm saudara2ku di indo,,,,, di arab saudi sebagaimana yg kita ketahui semua tanahnya padang pasir yg tandus, beda dengan di kita,, tapiiiiiiiiiiii.. segala makanan,sayuran, buah2han semuanya segar dan banyak juga relatip murah.. bahkan banyak di antaranya lebih murah di bndg kn dengan di indonesia, aneh kan? mau tau jawabannya… saya pernah nanya sama pa ustad di islamic center al gasim buraidah,, di bilang ada beberapa paktor yg bikin saudi makmur, di antaranya. banyaknya orang saudi asli maupun pendatang yg mukim di saudi hapal al quran. juga masih ramenya masjid di pk sholat berjamaah, masih banyak orang muslim bauk muda maupun tua yg mengikuti sunah seperti memelihara jenggot, tdk isbal, bersiwak, menyebarkan salam, mejawab bersin, i’ tikap di mesjid. dan lebih utama dari itu semua setiap khutbah khotib sll mengingatkan masalah tauhid.. karena ini adalah pondasi utama.. sebagaimana di atas di singgung berhati mekah,, inilah di antara yg sy lihat di mekah maupun tmpat2 lainnya di arab.. bahkan departmen pedidikan memasukkan mata pelajaran menghapal quran tiap sebelum mata peljaran yg lain di mulai, dan sebelum pulang anak2 di wajibkan mengikuti sholat zhuhur berjamaah.. trima kasih dan mohon maaf atas komentarnya yg kurang tersusun dn mungkin kurang nyambung ini semoga bermanfaat to kebaikan kt semua,,,kami doa kan semoga proyek pa ustad di berikan kelancaran oleh Allah SWT..dan di berikan kebarokahan.. kl pa ustad ketemu pa Mentri agama tlg sampaikan salam dari kami di hafer al baten,, dan tolong data imam2 mesjid yang hapal quran minimal 3juz. bila perlu angkat jd pegawai negri demi mencerdaskan bangsa, semoga tahun2 ke depan rata2 orang indonesia hapal 2 juz. dan 1 di antara 50 hapal 30juz insyaAllah.

    jazakaaloh syaikh, wa anaa uwafiqu jidda bi ro’yikum. insya Alloh saufa uballighuhum kamaa qultum; wa Alloh yubaariku fiikum, wassalaam…

  5. « Serba-Serbi Seputar Shaum
    Daurah Ramadhan 1430 H »
    Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat
    September 2nd, 2009 | Author: dzakhirah

    Antara Utara dan Selatan Adalah Qiblat
    Disusun oleh Abul Mundzir Abdur Rohman Hadi,Lc. (Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)

    Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi waman walah la haula wala quwwata illa billah, Amma ba’du.

    Sudah lama kita mendengar isu di negeri kita ini yang mengandung anjuran merubah arah qiblat masjid-masjid yang di rasa tidak lurus dengan ka’bah, baik di internet, dari lembaga-lembaga resmi maupun perorangan. Akan tetapi semakin hari semakin marak dan semakin banyak antusias para ta’mir untuk menyambut anjuran tersebut. Bisa jadi hal itu di karenakan niat baik yang didorong kecemburuan agama yang tanpa di dasari dengan ilmu dan tanpa pertimbangan, sehingga banyak menimbulkan keributan, kebingungan di tengah-tengah masyarakat, bahkan perpecahan kaum muslimin.

    Salah satu contoh di jawa timur, ada salah satu masjid yang setelah di datangi petugas yang mengurusi masalah ini, jama’ahnya jadi kebingungan, dan apabila sholat berjamaah antara satu makmum dengan yang lainya jadi berbeda arah, bahkan antara makmum dengan imamnya pun berbeda karena sebagaian mengikuti arah masjid dan sebagaian mengikuti arahan petugas tersebut. Bahkan yang lebih parah lagi, sebagaian masjid di datangi kemudian langsung dirubah dan digarisi shof-shofnya dengan cat dan dengan tanpa bertanya terlebih dahulu kepada ahli ilmu tentang masalah ini, wallohul musta’an.

    Oleh karena itu, demi persatuan dan kesatuan, dan agar fitnah ini tidak meluas, maka kami terdorong memberikan sumbangsih makalah singkat yang berisikan fatwa-fatwa para ulama, yang mudah-mudahan bisa meyakinkan orang-orang yang selama ini ragu, memantapkan orang-orang yang yakin dan menambah ilmu bagi kita yang belum memahami permasalahan ini. Selamat menyimak, wallohu waliyuttaufiq!

    Sesungguhnya menghadap qiblat dalam sholat termasuk syarat sah sholat yang apabila seseorang sholat dengan tidak menghadap qiblat maka sholatnya tidaklah sah. Kecuali bagi yang tidak mengetahui arah atau tidak mampu menghadap ke qiblat seperti ketika kondisi khouf (takut) dan sakit, Atau bagi yang sholat sunnah di atas kendaraan, atau hal-hal lain yang dibolehkan oleh Syari’at.

    Walaupun demikian, Islam adalah agama yang mudah dan tidak membebani pemeluknya dengan apa yang tidak mampu dipikulnya. Alloh berfirman subhanahu wata’ala :
    يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

    “Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah : 185)

    Dalam ayat yang lain :
    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

    “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

    Maka dalam hal ini, walaupun Islam menjadikan menghadap kiblat sebagai syarat sah sholat, akan tetapi tidak mewajibkan untuk menghadap lurus dengan benda ka’bah bagi yang tidak melihatnya, tapi cukup dengan menghadap ke arah ka’bah.

    Dan Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:
    مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

    “Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata Syaikh al-Albani: Hadits shahih sebagaimana yang telah saya takhrij dalam Irwa`ul Ghalil no. 292, lihat Ashlu Shifati Shalati an-Nabi jilid 1/71)karya Imam Al-Albani -rahimahullah-

    Oleh karena itu, dengan melihat dalil-dalil di atas, dan dengan melihat maslahat bagi kaum muslimin secara umum terutama orang-orang yang lemah iman, dan agar tidak menjadi bahan ejekan orang-orang yang benci terhadap Islam ketika ada perombakan-perombakan arah kiblat, maka kita perlu mempertimbangkan maslahat ini,-setelah ketetapan dalil di atas, sebagaimana Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- sangat mempertimbangkannya ketika ingin merubah ka’bah dan mengembalikanya kebentuk aslinya seperti yang di bangun Nabi Ibrohim -alaihi salam-, akan tetapi diurungkan keinginanya dikarenakan khawatir akan muncul fitnah, padahal beliau mengetahui bahwa bangunannya tidak sesuai dengan bangunan aslinya. Beliau -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda:
    يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِشِرْكٍ وَ لَيْسَ عِنْدِيْ مِنَ النَّفَقَةِ مَا يُقَوِّي عَلَى بِنَائِهِ لَأَنْفَقْتُ كَنْزَ اْلكَعْبَةِ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ وَ لَهَدَمْتُ اْلكَعْبَةَ فَأَلْزَقْتُهَا بِاْلأَرْضِ ثُمَّ لَبَنَيْتُهَا عَلَى أَسَاسِ إِبْرَاهِيْمَ

    “Wahai ‘Aisyah, kalau kaummu bukan dekat masanya dengan kesyirikan-,dan saya tidak memiliki biaya untuk membangunnya, niscaya akan saya infakkan(kurbankan) perbendaharaan ka’bah di jalan Alloh- dan akan saya gempur ka’bah dan ratakan dengan tanah, kemudian akan saya bangun sesuai dengan asas (pondasi) yang diletakkan Nabi Ibrohim…” (HR. Al-Bukhori dll. Lihat kelengkapan hadits dan takhrijnya dalam Silsilah Ahadits Shohihah: 1/43) karya Imam al-Albani -rahimahullah-

    Maka masjid-masjid yang sudah permanen tidak perlu di adakan perubahan, walaupun ahli dibidang ini mengatakan kiblatnya tidak lurus, karena dalil mengatakan “antara timur dan barat adalah kiblat” (bagi penduduk Madinah atau yang searah denganya yang berada di utara atau selatan ka’bah), yang tentunya antara utara dan selatan adalah kiblat bagi kita.

    Dan untuk memperjelas dan memperkuat apa yang kami uraikan di atas, berikut fatwa-fatwa dan penjelasan para ulama berkaitan dengan pembahasan ini:

    1. Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-’llmiyah wa al-Ifta’ (Komisi Tetap Bagian Studi Ilmiah dan Fatwa ) di Kerajaan Arab Saudi no. 3534 pimpinan Imam Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- dengan redaksi pertanyaan dan jawaban sebagai berikut:

    Pertanyaan: Di negeri kami banyak masjid- masjid yang mihrobnya miring ke arah kanan, hal ini disebabkan sebagian manusia meyakini sabda Rosululloh n “Antara timur dan barat adalah kiblat”. Dari sini, apakah cukup imam saja yang harus menghadap ke arah kiblat sedangkan makmumnya tidak?

    Jawaban: Wajib bagi imam dan makmumnya untuk menghadap ke arah kiblat, sebagaimana firman Alloh:
    فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS.Al-Baqoroh: 144)

    Dan sabda Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- “Antara timur dan barat adalah kiblat.” (HR. Tirmidzi dan beliau mengatakan: Hadits ini hasan shohih).

    Hadits ini ditujukan kepada penduduk Madinah dan daerah sepertinya yang berada di utara ka’bah atau selatannya. Dhohir hadits ini menunjukkan bahwa antara keduanya semuanya adalah kiblat. Adapun bagi yang berada di arah timur dan barat dari ka’bah, maka kiblat baginya antara arah utara dan selatan, karena kalau seandainya yang dimaksudkan adalah lurus benda ka’bah, niscaya sholatnya orang-orang yang berada di shof yang panjang di atas satu garis lurus, demikian pula sholatnya dua orang yang berjauhan yang menghadap ke arah satu kiblat tidak akan sah, karena mustahil semuanya bisa menghadap ke ka’bah padahal panjang shofnya melebihi ukuran ka’bah. Wabillahi at-Taufiq washolollohu ala nabiyina Muhammad wa ‘alihi wa shohbihi wasallam (Lajnah da’imah: 6/312-313).

    2. Fatwa Imam Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -rahimahullah-.

    Beliau -rahimahullah- di tanya tentang suatu masjid yang kiblatnya miring dari arah kiblat yang sebenarnya seukuran kira-kira tiga derajat menurut alat penentu arah kiblat. Dan manusia sudah terbiasa sholat sesuai posisi arah masjid dikarenakan kebanyakan mereka tidak mengetahui kemiringan masjid dari arah kiblat. Apakah hal ini mempengaruhi keabsahan sholat?

    Beliau menjawab: Apabila kemiringan tidak mengeluarkan manusia dari arah (antara timur dan barat, pen), maka hal itu tidak membahayakan, dan tidak diragukan lagi bahwa menetapi yang sudah ada adalah lebih baik. Adapun apabila kemiringan tersebut mengeluarkan manusia dari arah kiblat, seperti menghadap ke selatan padahal kiblatnya di timur, atau menghadap ke utara padahal kiblatnya di barat, atau menghadap ke arah timur padahal kiblatnya di selatan, maka tidak diragukan lagi masjid tersebut harus di rubah atau cukup menghadap ke arah kiblat walaupun arah masjidnya berbeda (Majmu’ fatawa wa Rosail Fadilatis Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin: (329/ 12/414)

    3. Penjelasan Syaikh Abdulloh Alu Bassam -rahimahullah-.

    Dalam menjelaskan hadits Bulughul Marom ke: 167. Dari Abu Huroiroh -radhiallohu anhu- berkata, Rosulullah -shollallahu alaihi wa sallam- bersabda “Antara timur dan barat adalah kiblat” (HR. Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhori)
    Beliau mengatakan, yang bisa diambil fa’idah hukum dari hadits ini adalah:

    a. Arah pokok ada empat, utara, selatan, timur dan barat. Dan jarak antara timur dan barat adalah (180) derajat, yang semuanya merupakan kiblat bagi yang tidak menyaksikan ka’bah. Dan seperti ini juga ukuran untuk arah yang lain.

    b. Hadits ini menunjukkan, bahwa bagi orang yang menyaksikan ka’bah, maka sholatnya harus menghadap ke (benda) ka’bah. Sebagamana hadits ini menunjukkan pula, bahwa antara dua arah adalah kiblat dan cukup hanya menghadap ke arahnya. (Taudihul al-Ahkam min Bulughil marom: 1/449).

    Dan senada dengan di atas apa yang di ukir oleh Imam al-Albani -rahimahullah- dalam kitabnya Aslu Sifatis Sholatin Nabi : (1/71) dan ulama’ lainnya, Akan tetapi tiga fatwa di atas saya kira cukup untuk memahamkan dan memberikan penerangan kepada kita tentang permasalahan ini. Dan mudah-mudahan memberikan manfaat bagi kita semua, Amin.

    jazakalloh akhi…
    untuk menambah wawasan, silahkan baca risalah arah kiblat di majalah QIBLATI edisi 04/2010 – 06/2010. …Salam

  6. assalamualaikum, saya setuju dengan komentar sebelumnya, karena keumuman ayat, soal kiblat ini,. dan ulama sepakat kalo di luar mekkah, selama tidak berubah arah mata angin, maka masih diperbolehkan, berdasar keumuman hadits, antara timur dan barat ada kiblat, antara selatan dan utara ada kiblat, dan di sini adalah ahanya patokan arah, dan jika di masjidil haram, sudah pasti harus menghadapkan wajah ke arah ka’bah,. ayat juga menjelaskan kemanapun menghadap di sanalah wjah Allah, dan yang menjadi haram atau kesalahannya adalah orang yang tidak mengarahkan wajahnya ke arah kabah secra eksplisit jika diluar mekkah, seperti kalo di indonesia tidak menghadap ke arah barat, tapi ke utara, sedangkan ke arah utara di indonesia tidak ke arah ka’bah, karena bumi itu pun bergerak, suatu saat akan melenceng lagi kiblatnya, terutama akibat gempa, , kalo demikian apa akan dirubah lagi? itu saja sharing saya, tapi saya senang belajar ilmu falaq, saya angkatan 99 teknik sipil UNS. senang berkenalan dengan bapak, wassalamualaiku warohmatullah wabarokatuh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 107 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: