Tafsir ‘Kauniyah’ Surat Al-Kahfi ayat 25

Tafsir Kauniyah

Tafsir Kauniyah

Menurut Pakar Tafsir Solo, Prof. Dr. H. Nashruddin Baidan, metode penafsiran al-Qur’an secara umum dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yakni : 1). Tafsir bi ar-Riwayah atau bi al-Ma’tsur dan 2). Tafsir bi ar-Ra’yi.
Penjabaran dari masing-masing kelompok atau model tafsir tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tafsir Bi ar-Riwayah/bi al-Ma’tsur:
Tafsir Bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadits. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadits dan jarang sekali pengarang tafsir tsb menaruh pemikirannya. Tafsir at-Thabari misalnya dianggap mewakili corak penafsiran model ini.
Hal yang paling baik dari tafsir jenis ini adalah mufassir yang menggunakan ayat Qur’an untuk menafsirkan ayat Qur’an yang lain. Atau dalam ungkapan bahasa arab disebut “Al-Qur’an yufassiruhu ba’dhuhu ba’dhan” (al-Qur’an itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain).

Dari model Tafsir Bi al-Ma’tsur dikelompokkan lagi dua macam bentuk penafsirannya:

  1. Tafsir at-Tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surat an-Nas. Ia uraikan tafsirnya menurut urutan surat dalam al-Qur’an. Semua kitab tafsir klasik mengikuti model ini.
  2. Tafsir Maudhu’i (tematis), artinya mufassir tidak memulai dari surat pertama sampai surat ke-114, melainkan memilih satu tema dalam al-Qur’an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut.

Ambil contoh, kita ingin tahu apa makna Islam dalam al-Qur’an. Maka kita himpun semua ayat yang berisikan kata Islam (dan segala derivasinya) lalu kita tafsirkan. Jadi, tafsir model ini bersifat tematis. Konon metode seperti ini dimulai oleh Muhammad al-Biqa’i. Dari kalangan Syi’ah yang menganjurkan metode model ini adalah Muhammad Baqir as-Shadr.

Prof. Dr. KH.  Quraish Shihab adalah ahli tafsir Indonesia yang pertama kali memperkenalkan metode ini dalam tulisan-tulisannya di tanah air. Bukunya Wawasan al-Qur’an berisikan tema-tema penting dalam al-Qur’an yg dibahas dengan metode maudhu’i ini.

2. Tafsir Bi ar-Ra’yi
Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dengan tafsir bir riwayah. Ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra’yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadits namun porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasysyaf karya Zamakhsyari dari kalangan Mu’tazilah, tafsir Fakh ar-Razi, Tafsir al-Manar.

Kalau dipilah lagi maka tafsir model ini bisa dibagi kedalam:

  1. Tafsir bil ‘ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk ayat Qur’an)
  2. Tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat utk membedah ayat Qur’an)
  3. Tafsir Sastra atau Tafsir Lughowi. Lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur’an. Model tafsir ini pada masa sekarang dikembangkan oleh Aisyah Abdurrahman  atau terkenal dengan nama Bintusy Syathi. Alhamdulillah karya Bintusy Syathi ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai catatan, untuk kajian modern sekarang, sesungguhnya penggolongan secara kaku dan ketat tafsir bi al-ma’tsur dan bir ra’yi itu tak lagi relevan. Seperti tafsir-nya Binti Syathi setelah disimak ternyata penuh dengan kandungan ayat Qur’an untuk memahami ayat lain. Begitu pula tafsir al-Manar, pada sebagian ayatnya terlihat keliberalan penulisnya tapi pada bagian ayat lain justru terlihat kekakuan penulisnya. Tafsir model maudhu’i (tematis) juga tak bisa secara kaku dianggap sebagai tafsir bir riwayah semata.

Muncul sebuah pertanyaan yang bisa bersambung ke pertanyaan kedua:
1.    Metode tafsir mana yang terbaik?
2.    Kitab tafsir mana yang paling baik?

Syeikh Abdullah Darraz berkata:

“Al-Qur’an itu bagaikan intan berlian, dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk melihat kandungan ayat Qur’an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang anda lihat.”

Ternyata kita masih tetap optimis, karena semua metode tafsir bertujuan menyingkap cahaya al-Qur’an. Semua kembali kepada etika moral dan etka akademis masing-masing mufassir.
Mari kita melihat nuansa baru atau corak sains tafsir berikut:

Surat Al-Kahfi [18] –  25:

Kita akan mencoba melihat satu ayat saja, yakni QS. Al-Kahfi [18] ayat 25:

ayat 25″] Surat al-Kahfi [18] ayat 25QS Al-Kahfi [18] ayat 25

Artinya:

dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

Tafsir Jalalain:

Tafsir ayat ini oleh Imam As-Suyuti dalam kitabnya al-Jalalain, adalah sebagai berikut:

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus) lafal Miatin dibaca dengan memakai harakat Tanwin pada akhirnya (tahun) berkedudukan sebagai ‘Athaf Bayan yang dikaitkan dengan lafal Tsalaatsu Miatin.

Perhitungan tiga ratus tahun ini berdasarkan hisab yang berlaku di kalangan kaum Ashhabul Kahfi, yaitu berdasarkan perhitungan tahun Syamsiah. Dan bila menurut hisab tahun Qamariah sebagaimana yang berlaku di kalangan orang-orang Arab, maka menjadi bertambah sembilan tahun, dan hal ini disebutkan di dalam firman selanjutnya, yaitu (dan ditambah sembilan tahun) yakni hisab yang tiga ratus tahun berdasarkan tahun Syamsiah dan hisab yang tiga ratus sembilan tahun berdasarkan tahun Qamariyah.

Bahasa kita sekarang, Tahun Syamsiyah adalah bilangan tahun Masehi berdasar peredaran Matahari. Sedang Tahun Qomariyah adalah bilangan tahun Hijriyah berdasar peredaran Bulan.

Tafisr Ibnu Katsir:

Kemudian menurut Tafsir Ibnu Katsir QS.18 ayat 25, seperti bisa dilihat di [ Tafsir dot Com ]:

The Length of their Stay in the Cave

Here Allah tells His Messenger the length of time the people of the Cave spent in their cave, from the time when He caused them to sleep until the time when He resurrected them and caused the people of that era to find them. The length of time was three hundred plus nine years in lunar years, which is three hundred years in solar years. The difference between one hundred lunar years and one hundred solar years is three years, which is why after mentioning three hundred, Allah says, `adding nine.’

[قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُواْ]

(Say: “Allah knows best how long they stayed…”) `If you are asked about how long they stayed, and you have no knowledge of that and no revelation from Allah about it, then do not say anything. Rather say something like this:

[اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُواْ لَهُ غَيْبُ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ]

(Allah knows best how long they stayed. With Him is (the knowledge of) the Unseen of the heavens and the earth.)” meaning, no one knows about that except Him, and whoever among His creatures He chooses to tell. What we have said here is the view of more than one of the scholars of Tafsir, such as Mujahid and others among the earlier and later generations.

[وَلَبِثُواْ فِى كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِئَةٍ سِنِينَ]

(And they stayed in their cave three hundred years,) Qatadah said, this was the view of the People of the Book, and Allah refuted it by saying:

[قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُواْ]

(Say: “Allah knows best how long they stayed…”) meaning, that Allah knows better than what the people say. This was also the view of Mutarraf bin `Abdullah. However, this view is open to debate, because when the People of the Book said that they stayed in the cave for three hundred years, without the extra nine, they were referring to solar years, and if Allah was merely narrating what they had said, He would not have said,

[وَازْدَادُواْ تِسْعًا]

(adding nine.) The apparent meaning of the Ayah is that Allah is stating the facts, not narrating what was said. This is the view of Ibn Jarir (may Allah have mercy on him). And Allah knows best.

Tafsir Kauniyah:

Saya pertama melihat Tafsirnya Imam As-Suyuti, meski al-Jalalain itu dianggap sebagian pakar Tafsir kuno, tetapi justru untuk surat al-kahfi ayat 25 ini, paling mendasar.

Kitab Al-Jalalain sendiri merupakan kitab tafsir yang paling banyak dipakai di pesantren-pesantren Indonesia sejak periode awal negeri ini mengenal kitab kuning.

Apak Kata Imam As-Suyuti…?

300 tahun itu menurut perhitungan  (hisab) ash-habul kahfi yang memakai standar Solar/Matahari.

sementara…

309 tahun adalah menurut perhitungan (hisab) orang-orang Arab yang memakai standar Lunar atau Bulan.

Ketika membaca Ath-Thobari, saya tidak menemukan riwayat yang menyebutkan dua sistem kalender ini. Saya belum melihatnya di Al-Manar maupun di Al-Mishbah, atau di Fahru ar-Rozi bahkan di Binti Syati’.

Karena merasa cukup, Imam As-Suyuti dgn al-Jalalainnya, maka saya mencoba memahami dengan teknologi modern, yakni dengan Koversi Hijri-Gregorinya Moch. Odeh [ Accurate Times ], dan hasilnya kira seperti ini:

Tahun Hijriyah adalah lebih pendek dari Tahun Masehi. Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

  • Untuk konversi secara kasar dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622.
  • Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Pada tahun 1429 H lalu, terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M

Fenomena tahun 2008:

1. Dari [ ANTARA ] saya dapatkan:

Tahun 2008 akan berisi berturut-turut tiga tahun hijriyah, yakni tahun 1428, 1429, dan 1430 H, kata pakar ilmu falak Arab asal Kuwait seperti dilaporkan hari Kamis.

“Hari-hari terakhir 1428 H bertepatan dengan awal tahun 2008, sedangkan tahun 1429 H secara utuh berada dalam tahun 2008, kemudian tahun 1430 H dimulai pada ujung 2008,” kata pakar tersebut seperti dilansir harian “Al-Riyadh”.

Lebih jelasnya, tanggal 9 Januari 2008 adalah akhir tahun 1428 H, sedangkan 10 Januari 2008 adalah awal tahun 1429 H, sementara 29 Desember 2008 adalah awal tahun 1430 H.

Menurut dia, itu bisa terjadi, karena setahun kalender hijriyah, yang menggunakan hitungan tata edar bulan, adalah 354 hari atau lebih, sedangkan tahun masehi 365 hari peredaran matahari atau terdapat perbedaan 11 hari dalam setahun.

“Setiap 32 tahun masehi sama dengan 33 tahun hijrah, sehingga keadaan itu dapat berlangsung tiga kali dalam setiap 100 tahun,” katanya dengan menjelaskan dalil dari Al-Quran dalam surat Al-Kahfi.

Dalil tersebut adalah “Mereka (para pemuda itu) berdiam di dalam gua selama 300 tahun lebih sembilan tahun. Katakanlah (hai Muhammad), Allah lebih mengetahui lama mereka berdiam di gua, karena Dia mengetahui hal gaib di langit dan bumi”.

“Dari ayat tersebut, jelas bahwa yang dimaksud 300 tahun dan lebih 9 tahun adalah 300 tahun perhitungan peredaran matahari atau 309 tahun peredaran bulan,” katanya

2. Dan lebih detail tentang 2008 M = full of 1428 H ada di Blog CASA tentang [ Setahun = 3 Tahun ]

Kesimpulan:

Akhirnya, saya mencoba menghitung konversi itu dalam MS Excel, dan hasilnya sebagai berikut:

Tahun-tahun Hijriyah yang sepenuhnya di dalam Tahun Masehi:

  1. Tahun 1396 H penuh dalam tahun 1976 M karena tanggal 1/1/1396 H = 3/1/1976 M sementara tanggal 1/1/1397 H = 23/12/1976 M. Kemudian setelah 33 th ke depan,
  2. Tahun 1429 H penuh dalam tahun 2008 M, karena tanggal 1/1/1429 H = 10/1/2008 M sementara tanggal 1/1/1430 = 29/12/2008 M. Kemudian setelah 34 th ke depan,
  3. Tahun 1463 H penuh dalam tahun 2041 M, karena tanggal 1/1/1463 H = 4/1/2041 M sementara tanggal 1/1/1464 H = 24/12/2041 M. Kemudian setelah 33 th ke depan,

dst…

Bila 33 tahun + 34 tahun + 33 tahun, khan sama dengan 100 tahun. Selama 100 tahun Masehi terjadi 3 tahun penuh Hijriyah. Maka kalau 300 tahun Masehi, akan terjadi 3×3= 9 tahun penuh Hijriyah. Maka 300 Masehi + 9 Hijriyah = 3009 tahun, (Eith…salah : 309 tahun). Dan kata 300 serta kata 9 di dalam surat al-Kahfi ayat ke 25 itu dipisah penyebutannya. Demikian kira2 yang saya fahami dari tafsir Imam As-Suyuti dalam kitabnya Al-Jalalain.

Jadi ===> 300 tahun + 9 tahun = 309 tahun

Subhaanallaah…

About these ads

9 Tanggapan

  1. Wah, artikelnya panjang. Kesimpulannya apa, ya?

    300 + 9 = 309, salam

  2. (jika boleh)..Sedikit menambahkan,
    saya pernah baca juga bahwa kisah di surat al kahfi ini, selain berkaitan dengan ilmu falak, juga berkaitan dengan ilmu fisika modern, yakni teori relativitas waktu,
    Pada ayat 18 dari surah al Kahfi, disana ada kata:
    1. “Kami balik-balikan mereka kekanan dan kekiri”
    2. “Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling ” (karena ketakutan)..

    dari point pertama diatas jika kita asumsikan, bahwa mereka itu di gerakkan dengan kecepatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya oleh malaikat), maka mereka akan merasakan waktu seakan bergerak sangat lambat, sehingga pada waktu mereka bangun, maka mereka hanya merasakan tidur 1/2 hari saja, padahal sudah tidur ratusan tahun.
    sedangkan poin ke:2 menunjang asumsi kita di point pertama, karena jika kita bisa mendapati sesuatu benda berkecepatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya) di dekat kita, pastilah kita ketakutan..

    wallahu a’lam

    18. Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.

    Tambahan (OOT):

    Di ayat lain (al kahfi ayat 11), Alqur’an menyebutkan kata “300 tahun atau 309 tahun” itu, hanya dengan kata “beberapa” alias “sedikit/sebentar”..

    Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu ..(11)
    Jika kita lihat pada surah An-Naba ayat 21-23, diterangkan bahwa orang yang melampaui batas itu akan tinggal di neraka jahannam selama “Beberapa” Huqub.(1 Huqub = 80 thn)
    jika disini juga kita asumsikan kata “beberapa” tersebut dengan “309”
    maka “orang yg melampaui batas” akan tinggal di jahannam selama.
    80 thn x 309 thn = 24720 thn (akhirat).
    dimana 1 hari (akhirat) = 1000 thn (dunia), dan 1 thn = 360 hari

    maka maka “orang yg melampaui batas” akan tinggal di jahannam selama. 24720 x 360 x 1000 = 8.899.200.000 thn dunia
    alias hampir 9 milyar tahun…

    Naudzubillah min dzalik…

    catt: dalam salah satu hadits yg lain disebutkan bahwa 1 hari akhirat = 50ribu thn di dunia.

    wallahu a’lam

    jazakallah Pak Hari, semoga menambah keimanan kita…salam

  3. Maka kalau 300 tahun Masehi, akan terjadi 3×3= 9 tahun penuh Hijriyah. Maka 300 Masehi + 9 Hijriyah = 3009 tahun

    TYPO?

    **309

    thanksn Bos…

  4. Ijin ngambil mas Ya. Tapi tetap bakalan ditulis diambil dari pakarfisika.com kok. Mkaasih sebelumnya. Bermanfaat banget nih….

  5. Subhanalloh. Sy jadikan diskusi dgn teman2 nanti

  6. subhanallah….nauzubillah….semoga kita tidak tergolong orang – orang penghuni neraka yang sekian tahun itu…..dijauhkan ya Allah…. mari kita tingkatkan amal salih dan ketaqwaan kita, agar kita menjadi hamba Allah yang disayanginya Aaamiiiiin……….

  7. subhanallah….nauzubillah….semoga kita tidak tergolong orang – orang penghuni neraka yang sekian tahun itu…..dijauhkan ya Allah…. mari kita tingkatkan amal salih dan ketaqwaan kita, agar kita menjadi hamba Allah yang disayanginya Aaamiiiiin……….

  8. Masya Alloh ….

  9. ohh ini to mksudnya ustadz.
    mantep2, ampe diteliti sgitunya :)
    subhanalloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: