Masih membahas Klaim Rukyah yang terjadi di Saudi Arabia, berikut saya berikan satu sampel contoh cara meng-hisab permulaan kalender islam, sehingga kita bisa tahu kapan sebenarnya Awal dari Bulan dalam Kalender Hijriyah itu dimulai. Saat ini terlalu banyak orang yang baru bisa berbicara, sementara sedikit prakteknya. Lebih banyak orang berteori ketimbang berkarya nyata. Padahal dalam Islam mestinya I’maluu = beramallah, berkaryalah…
Banyak alat bantu untuk hisab data bulan dan matahari sebagai penentu awal masuknya bulan dalam kalender islam. misal yg mudah dan kecil kapasitasnya adalah CyberSky.
Setelah Anda punya, silahkan jalan File Aplikasi CyberSky.EXE nya dan kira2 tampilan akan seperti ini:
Memulai HISAB
1. Menentukan lokasi
Tentukan misalnya Lokasi yang akan diamati :
Misal : Mekkah – Saudi Arabia,
maka pilih menu OPTION, lalu Submenu LOCATION,
Di sana sudah tersedia, dan pilih SAUDI ARABIA, MECCA, lalu tekan OK.
Dan di Bar bawah tertera Lokasi itu.
2. Menentukan Waktu/Awal bulan yang mau diHISAB
Tentukan, waktunya; misal Bulan Syawwal 1429 H, maka
Pilih Menu TIME, lalu Submenu LOCAL TIME, dan tentukan waktunya berdasar kalender Masehi;
29 September 2008
3. Menentukan orientasi Padang.
Karena akanmenentukan awal Bulan, maka arahkan pandangan ke horizon barat, caranya
Pilih Menu VIEW,lalu Submenu WEST, dan langit Barat mulai tampak.
4. Mengaktifkan Label Tatasurya
Dengan aktifnya Label, maka nama objek menjadikelihatan, minimal Bulan dan Matahari.
5. Menentukan Saat Sunset
Sunset adalah permulaan Hari dalm Islam, jadi ini pulan permulaan Bulan dalam Islam.
Caranya, Pilih Menu TIME, lalu submenu SUNSET, atau Ctrl+S.
Dan posisi pun matahari tepat terbenam.
6. Melihat Posisi Rembulan / Moon
Terakhir, lihatlah posisi remBulan/Moon, saat Sunset itu.
Untuk kasus ini, ternyata Moon atau Rembulan sudah tidak nampak, alias di bawah ufuk barat, jadi NEGATIF. Maka alat apapun yaa gak bisa melihat.
Tetapi anehnya Saudi ada yang mampu melihat…..CLAIM of New Crescent Sighting
Di sana ada Venus, lalu di bawahnya ada Mars, lalu ada Merkurius…
Kalau tidak tahu ilmu Rukyah, Hilal dan Non Hilal menjadi TIDAK ADA BEDANYA….
Wa Allahu a’lamu…
NB: Ini belum memakai Stellarium, Ini belummemakai StarryNight
DIarsipkan di bawah: Astronomi, Opini, Software | Ditandai: Astronomi, Astronomy, Awal bulan, CyberSky, Falak, Hilal, islam, Kalender Hijriyah, Klaim Rukyah Saudi, Ru'yah, Ru'yat, Rukyah, Rukyat, Software, Syawal Saudi, Tutorial









[...] Selengkapnya di PakARFisika [...]
Maaf ustadz, mungkinkah softwarenya yang salah? imkanur rukyat yang ‘ditetapkan’ Depag kan 2 derajat, jika menurut ilmu astronomy sebenarnya minimal berapa derajatkah hilal dapat dilihat, baik dengan alat ataupun mata telanjang?
Jazakallahu khairan katsiraa.
Minal “Aidin Wal Fa’izin, Selamat Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Taqabbal Allah minna wa minkum, amin..
NB: Saya dapat pelajaran tingkat dasar, terima kasih
secara astrnomis, artinya Danjon limit yakni 7derajat.
Slamat Iedul Fitri
Mohon Maaf Lahir & Bathin
تقبل ألله منا و منكم
من الآعيدين والفائزين
Regards,
A Syafran Ekasapta, sekeluarga
TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM. http://fikri-akbar.co.cc
Saya pengguna Stellarium, jadi bisa mengerti penjelasan anda. Bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa rukyah berlaku global. Maksud saya pada tgl. 29 September 2008, mustinya hilal bisa terlihat di Pacific Selatan, dan sebagian Amerika Selatan dengan bantuan alat optikal.
Terus kalau ada klaim sighting di sana tgl 29 Sept 2008 di tarik global yaitu tgl. 30 Sept 2008 adalah tgl 1 Syawal1429H ?
Akhii Medwinz: Saya kurang sependapat dgn Rukyat Global, meski di Pasific selatan bisa.
1. Saya melihatnya kita ini bagian dari Alam yg Global juga, ketika di Indonesia masih Negatif, artinya Alam menyiratkan dan menyuratkan bahwa Bulan masih belum masuk dan harus ditunggu sampai Bulan terlihat.
2. Bumi Bulan bukan datar dgn langit laksana kubah, maka tidak bisa dipaksa sama antar daerah 1 dgn lainnya.
3. Apa artinya Rosul memberi solusi kalau tidak terlihat, kalau haru Rukyah Global, makna hadits itu menjadi seolah kita nafikan. Wallahu a’alm
Jazakallah…
Pak AR saya sependapat dengan anda. Saya juga kurang setuju dengan rukyat global. Masalahnya dari sirah kita ketahui ada perbedaan tgl. di Makkah dan Madinah saat Rasul berhaji wada’.
Dikatakan bahwa Rasulullah wukuf di Arafah pada hari Jum’at tgl. 9 Dzulhijjah. Dari hadist pula kita ketahui bahwa 3 bulan kemudian beliau wafat di Madinah hari Senin tgl. 12 Rabiul Awwal. Saya sudah coba simulasikan, kalau kita menggunakan penanggalan Makkah maka tidak akan ketemu tgl. 12 Rabiul Awwal itu hari Senin. Kesimpulannya Makkah dan Madinah memiliki penanggalan yang berbeda. Jadi apabila di zaman Nabi, Makkah dan Madinah saja masing-masing melakukan rukyat, maka kita pun selayaknya juga begitu.
Wallahu a’lam.
Nampaknya pada zaman yang kata Rasul akan banyak orang mengikuti ‘hal-hal’ baru makin terbukti, ya salah satu yang terkait dengan masalah keberlakuan hisab dan rukyat adalah:
Manakala hilal terlihat bukan di negerinya, maka berlaku hukum matla’ (terlepas batasan mana yang dipakai). Tetapi saat menyangkut negerinya yang ‘dikuasai’ satu orang pemimpin negeri, maka diterapkanlah ‘wilayatul hukmi’. Suatu kontradikasi yang nyata.
Andai saja dunia Islam hanya memiliki seorang pemimpin sebagaimana Rasul dan khulafaur rasyidin, maka penerapan wilayatul hukmi kemungkinan akan berubah menjadi ummatul hukmi yang mengikat setiap muslim. Wallahu a’lam
Tahun ini Alhamdulillah di Indonesia dua major gerakan bisa serentak… setelah bertahun2 berbeda… berarti ini suatu anugerah…
Tapi, anehnya kok malah dari Arab Saudi yg berbeda ya?? Menurut ustadz seperti apa… apa memang perbedaan seperti ini boleh ditolerir terus menerus…?
Mas Zulfi, tidak sekali saja Arab Saudi nyeleneh. Ingat kasus jumlah hari 31 DzulHijjah 1428 H…? lihat ini : http://pakarfisika.wordpress.com/2008/01/10/tgl-31-dzulhijjah-1428-h-apa-masak/
ada yang tau kapan pergantian nama SMA ke SMU dan SMU ke SMA???